Minggu, 11 Juni 2017

KAMU ITU SALES ATAU MARKETING? CARI TAHU PERBEDAANNYA SEKARANG!


Jika ditanya “apakah sales dan marketing itu beda???” sebagian besar masyarakat pasti akan menjawab bahwa dua hal tersebut sama. Padahal sebenarnya kedua istilah tersebut sangatlah berbeda. Namun masyarakat sering menyalah artikan bahwa sales dan marketing memiliki arti yang sama, yaitu jualan produk.
Sebenarnya yang dimaksud dengan marketing adalah keseluruhan sistem dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan produk,
menetapkan harga , mempromosikan produk dan mendistribusikan barang yang bertujuan untuk memuaskan konsumen.
Sedangkan sales merupakan kegiatan yang hanya fokus pada menjual produk, dan bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk saja. Dari pengertian yang ada, sudah jelas bahwa proses marketing lebih panjang dan lebih kompleks jika dibandingkan dengan proses sales.
Dalam strategi marketing, terdapat 4P bahkan ada yang menambahkan sampai 7P, yang terdiri dari
product (produk), price (harga), place (tempat) , promotion (promosi), process (proses) , people
(orang) , Physical evidence (bukti fisik) . Sedangkan sales hanya menjadi salah satu bagian dari promotion (promosi) , sehingga tidak memperhatikan faktor lain yang dapat menunjang pemasaran.
Perbedaan selanjutnya dalam strategi marketing, para marketer atau pemasar selalu menjaga brand image product. Sehingga konsumen memutuskan untuk membeli suatu produk karena sudah mengetahui kualitas produk dan image brand produk tersebut.
Sedangkan strategi yang dijalankan seorang sales, mereka tidak mementingkan untuk menjaga brand produk, namun yang terpenting mereka menawarkan kepada pasar dengan cara menginformasikan kelebihan produk, agar konsumen tertarik dan membeli produknya. Dan yang lebih menarik lagi seorang salesman tidak pernah memikirkan apakah konsumen terpuaskan atau tidak, yang terpenting adalah produknya laku terjual dan target penjualan yang ditetapkan perusahaan terpenuhi.
Meskipun begitu, ada beberapa perusahaan yang menjadikan sales sebagai bagian dari marketing, namun tetap membedakan tugas kerja mereka. Jika marketing fokus pada perencanaan strategi pemasaran produk yang sesuai dengan 4P atau 7P bagian dari marketing mix, maka sales akan mulai bekerja setelah produk sudah siap dipasarkan. Jadi bisa dibilang marketing merupakan tim yang menyusun strategi pemasaran, sedangkan sales merupakan tim pelaksananya.
Perbedaan sales dan marketing lainnya adalah, bahwa hubungan sales dengan konsumen hanya sampai proses transaksi jual beli, setelah itu sales tidak bertanggungjawab lagi menjaga hubungan baik dengan konsumen. Sedangkan hubungan marketing dan konsumen harus tetap terjaga dari mulai sebelum transaksi, sampai setelah transaksi untuk menjaga loyalitas pelanggan.
Sebuah perusahaan tidak bisa berhasil memenangkan persaingan pasar jika hanya mengandalkan sales. Dan sales tidak akan tercipta dengan baik jika tanpa didukung dengan strategi marketing yang baik.
Setiap perusahaan bisa melakukan penjualan, namun belum tentu setiap perusahaan mampu merencanakan strategi pemasaran yang mampu memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumennya.
Nah, sudah tahu bedanya kan? Lalu, apakah kamu termasuk pelaku usaha yang berjiwa sales atau marketing?

tugas salesmen adalah di “selling in” (memastikan produknya ada ditoko) sedangkan tugas marketing adalah di “selling out” (produk terjual dari toko karena pihak marketing punya alat 4 atau 7 P). Jadi jika omzet penjualan menurun di suatu perusahaan : jika penurunan ini disebabkan jumlah outlet yang menurun maka itu salah pihak Sales.. tetapi jika jumlah outlet meningkat tetapi barang menumpuk di outlet, nah itu kesalahan pihak marketing.
Satu lagi istilah yang salah kaprah adalah “Salesman” dan “Sales Executive”… Salesman biasanya digunakan bagi tenaga penjual untuk produk2 yang sederhana misalnya jualan kacang goreng… sedangkan Sales Executive itu menjual produk2 yang kompleks dan mahal misalnya pesawat terbang dan seterusnya
Semoga bermanfaat dan salam sukses.

Bisnis Tas Tali Kur Modal Rp 25 Ribu Omzet Jutaan Rupiah


Sebuah bisnis bisa tumbuh dari ide, hobby dan kreatifitas. Misalnya saja Kisah sukses Ayu Pandansari dengan Bisnis Tas Tali kur. Ayu Pandansari (27) dari Yogyakarta. Tas Berbahan tali kur ini biasa dikenal dengan tas macrame. Ayu sebelumnya hanya iseng saja mencoba membuat kerajinan tangan dari tali kur dan itupun dia pelajari dari hasil googling dan juga dari media youtube. Setelah dipraktekan ternyata bisa laku dijual dan menghasilkan keuntungan yang lumayan besar. Tenyata kerajinan tangan tas tali kur ini banyak diminati masyarakat padahal Ayu masih dalam tahap belajar. Terbukti dari bisnis tas tali kur modal Rp. 25 ribu omzet jutaan rupiah per bulannya berhasil Ayu kantongi. Peluang usaha kerajinan tas tali kur ini ternyata cukup menjanjikan keuntungan bila digeluti dengan serius dan pangsa pasarnya juga sangat luas bahkan konon sampai ke luar negeri.
Sebenarnya Ayu memulai bisnis kerajinan anyaman berbahan dasar tali kur ini baru seumur jagung yaitu sejak Mei 2016. ”Coba-coba tutorial dari google, terus buat hadiah dorrprize di RT. Setelah itu malah ada yang suka dan pesan,” ungkapnya.
Berawal Iseng-iseng Berhadiah Lanjut Promosi Lewat Facebook
Kelebihan dari harga jual Tas Tali kur ini adalah harga jualnya yang cukup tinggi di pasaran dan harganya bisa mencapai ratusan ribu per buahnya. Dari sinilah akhirnya Ayu terpikirkan untuk lebih menekuninya sebagai usaha bisnis untuk keluarganya. Namun bisnis tas tali kur ini sempat vakum beberapa waktu karena harus pulang ke Sumatera asal suaminya. Selanjutnya di Oktober 2016 Ayu mulai lagi merajut tali kur dan langsung dapat pesanan dari beberapa tetangganya yang mayoritas ibu rumah tangga. Melihat hasil kerajinannya diminati dan pembelinya merasa puas akhirnya Ayu mencoba memposting dan mempromosikan hasil karyanya di Facebook dan dari sinilah bisnis ini dimulai digarap lebih serius.
” Alhamdulillah setelah posting itu, banyak yang respon. Tanya-tanya dan ada yang pesan. Ada kepuasan tersendiri, dari belajar otodidak namun hasilnya tidak mengecewakan bahkan layak jual, ” kata Ayu antusias.
Sebelumnya perlu diketahui Ayu sebagai Ibu rumah tangga dengan dua anak ini notabene memang suka membuat aneka kerajinan, sebelumnya ia membuat bross, toples, kotak hias berbahan dasar flanel dan pita. Cuma kerajinan tersebut butuh waktu khusus dan beberapa alat yang berbahaya seperti jarum, dan lem tembak. Sehingga dapat membahayakan kedua putranya yang masih balita. Hal tersebutlah yang akhinya membuat Ayu berhenti dan beralih membuat kerajinan tas macrame (Tas Tali Kur).
” Iya duluya 2013 main flanel dan pita. Pakainya kan lem tembak kan riskan karena punya anak kecil-kecil. Jadi pilih kerajinan macrame saja yang bahannya aman dan simpel. Ya hanya menggunakan tali kur, keahlian, dan kreativitas,” papar istri dari Haris Munandar ini.
Berawal Modal Rp 25 Ribu Dapat Omzet Jutaan Per Bulan
Kegiatan bisnisnya ini tentu di dukung oleh Sang suami tentu, dengan syarat tetap dapat memperhatikan anak-anak dan tidak mengabaikannya. Dalam satu hari, Ayu mampu menghasilkan 1 sampai 5 tas macrame ukuran kecil. Kalau sepekan bisa menghasilkan 3 sampai 5 tas ukuran sedang yang ia kerjakan seorang diri.
Modal yang ia keluarkan untuk membuat tas macrame/ tali kur ini sangat murah dan terjangkau. Yaitu Cuma Rp 25 ribu untuk membeli bahan tali kur yang cukup untuk membuat satu tas. Untuk harga jual tas macrame, Ayu membandrolnya mulai harga Rp 100 ribu, tas besar mulai Rp 200 ribu, dompet kecil dan tempat pensil mulai harga Rp 70 ribu. Tergantung tingkat kesulitan, motif, dan warna.
Menurut pengakuan Ayu saat ini omzet perbulannya bisa tembus hingga Rp 4 juta per bulan dengan pengerjaan sendiri. Kelebihan Tas macrame ini adalah masih jarang ditemui di pasaran, sehingga membuatnya eksklusif. Keunikan dan kualitasnya mampu membuat harga yang cantik.
”Keunggulan produk kami lebih awet karena kuat dan buatan tangan. Bisa request model, warna dan motif. Harga sangat terjangkau untuk kualitas tas hand made ,” akunya.
Tak Pelit Berbagi Ilmu Dengan Sesama Ibu-ibu
Ibunda dari Arfa Haidar Akma dan Kenny Calosa ini juga tergabung dalam komunitas Crafter Plat AB. Dalam komunitas tersebut, selain berbagi pengalaman dalam berkreasi Ayu juga tak enggan mensharing kemampuannya merajut tali kur.
” Ini baru pertama kali ngadain workshop sama temen-temen komunitas Crafter Plat AB di rumah dan gratis untuk 10 orang saja. Karena tempatnya terbatas. Semuanya terdiri dari para ibu rumah tangga,” jelasnya.
Ayu mengungkapkan, tidak ada kesulitan berarti dalam proses produksi tas macrame. Hanya saja karena membuatnya dengan tangan, jadi jari-jari mudah sakit. Apalagi ketika mendapat motif baru, sehingga harus benar-benar memperhatikan jangan sampai salah.
Sebagian ibu rumah tangga memang ingin tetap berpenghasilan, tanpa meninggalkan rumah dan anak-anak. Sehingga bisnis kerajinan menjadi pilihan para anggota komunitas Crafter Plat AB termasuk Ayu yang bisa mereka kerjakan di rumah di sela-sela pekerjaan rumah tangga.
” Buat para ibu yang ingin berpenghasilan dari rumah, temukan bakat, eksplore kemampuan dan jangan mudah putus asa, ” ujar Ayu.
Usaha kerajinan yang Ayu berinama Haka Collection itu diharapkan bisa terus berkembang. Tak hanya mampu melayani pesanan, tapi bisa menyetok produk lebih banyak lagi. Sehingga Haka Collection ke depannya bisa ikut pameran, punya outlet dan mampu bersaing dengan tas merek ternama lainnya.
Baca Juga : Cara Kreatif Kerajinan Tangan Dari CD Bekas Hasilkan Karya Menawan
Sejauh ini Ayu memasarkan produknya secara offline dan online yaitu ditawarkan langsung serta lewat Instagram serta Facebook. Koleksi tas macrame Haka Collection bisa dijumpai di Instagram @aiiu_haka, Facebook aiiu kenny dan Fanspage Haka Collection.

Menjaring Rupiah dari Rajutan Tas Talikur


Talikur (drawstring) yang biasa digunakan sebagai tali sepatu dan tali peluit (setelah dianyam), ternyata bisa disulap menjadi tas tangan yang eksotik dan menawan. Bahkan, bisa dibilang bernilai eksklusif karena hampir 100 persen pengerjaan tas talikur ini mengandalkan keterampilan merajut.
Kreasi kreatif itu benar-benar terwujud ketika talikur nilon dan katun berada di tangan Sulastri, 51, warga Jalan Merdeka, Desa/Kecamatan Mojowarno, Jombang. Ia memulai membuat ketrampilan tas ini sejak tiga tahun silam, ketika seorang tantenya menularkan ilmu merajut talikur.
“Semua dibuat menggunakan tangan, hanya saat menjahit lapisan dalamnya menggunakan mesin jahit. Mula-mula model dan warnanya itu-itu saja, kemudian saya kembangkan sendiri,” kata Sulastri, ditemui di kediamannya, Senin (19/7).
Dia pun lantas merancang berbagai bentuk tas rajut, dengan paduan warna yang lebih matching. “Kami kombinasikan dengan berbagai aplikasi, utamanya mutiara,” imbuh Sulastri, yang akrab disapa Cik Giok.
Agar lebih elegan, dia menempelkan logam antikarat berbentuk inisial atau huruf G, yang merupakan singkatan dari namanya, Giok. “Ini sekaligus sebagai merek,” tandasnya.
Setelah jadi, tas-tas itu dipajang di etalase rumah yang juga sebagai salon kecantikan bernama Monalisa. “Pembeli awalnya pelanggan salon, tapi berkembang ke masyarakat umum,” ceritanya.
Kini pelanggannya sudah banyak. Bahkan, dirinya mengaku tidak pernah punya stok. “Lebih banyak justru by order. Mereka pesan, kami buatkan sesuai kemauan pemesan,” tambahnya.
Itu pula yang mendasarinya untuk menyediakan sejumlah foto berbagai contoh model tas rajut. “Dengan melihat foto ini, pemesan bisa memilih sesuai selera,” kata Cik Giok, sembari memperlihatkan foto-foto model tas.
Pembeli tas rajut talikur beragam, kalangan istri pejabat hingga pembeli yang berniat untuk menjual kembali, terutama dibawa ke luar pulau. “Kabarnya kalau di luar pulau, misalnya Aceh, harganya bisa dua kali lipatnya,” papar Cik Giok.
Harga tas rajut made in Sulastri ini beragam, sesuai ukuran serta tingkat kesulitan saat membuatnya. Yang jelas, harga satu tas berkisar antara Rp 90.000 hingga Rp 300.000. Kendati cukup laris, dia hanya memiliki satu karyawan. Ini karena Sulastri lebih suka mengerjakan sendiri pekerjaan merajut. “Karyawan biasanya saya beri tugas mengerjakan yang mudah-mudah saja, sedang yang relatif sulit saya kerjakan sendiri. Rasanya lebih puas,” kilahnya.
Karena lebih banyak dikerjakan sendiri, Cik Giok tidak bisa memproduksi secara massal. “Satu tas memerlukan waktu beberapa hari, bahkan ada yang sampai seminggu,” tuturnya.
Konsekuensinya, omzet tidak terlalu besar. “Kalau soal omzet, saya tidak pernah menghitung. Bagi saya yang paling penting bisa berkarya, dihargai dan dimanfaatkan orang,” imbuh Cik Giok.
Kerajinan tas bukan hanya dari talikur saja. Wahliya Rosa, 27, membuktikan dengan membuat dari bahan daur ulang berbahan spunbond. Tidak butuh modal besar, tapi keuntungan menjanjikan.
Bahan spunbond ini mungkin agak awam terdengar di telinga. Lazimnya, bahan ini dikenal sebagai kain laken (nonwoven/sisa kain yang dipress). Banyak dipakai untuk tas goodybag seminar dan hajatan.
Wahliya Rosa mengatakan, spunbond mudah didapat, harganya murah dan ramah lingkungan. “Tinggal bagaimana kita mencari pasar, lalu mengkreasikan bentuk dan sablonan gambar atau tulisan,” katanya, Rabu (21/7).
Harga jual tas berbahan spunbond sangat terjangkau, untuk model standar rata-rata Rp 3.000–6.000/pieces. Tas dengan kerumitan tertentu Rp 10.000-15.000/pieces. “Promosinya terbilang gampang, bisa melalui website, mencantumkan nama dan nomor telepon di tiap tas yang sudah diproduksi atau kerja sama dengan instansi, perusahaan, serta lembaga pendidikan,” jelas Wahliya.
Di Surabaya, pelaku usaha tas spunbond jumlahnya puluhan. “Kualitas bahan beragam, harga juga beda-beda. Bahan baku terbesar dari Gresik,” ujar wanita yang memulai usaha sejak 2007.
Ide awalnya, ia kesulitan mencari tas pembungkus hantaran saat pertunangannya. Seorang teman memberi contoh tas spunbond, dari situlah ide berkembang. Tiap minggu kini ia dan suami bisa memproduksi 3.000–4.000 pieces. “Kalau musim hajatan pasti ramai, misalnya Idul Adha, Lebaran, musim sunat, bulan besar saat kawinan,” sambung Wahyu Budi Sukarno, 29, sang suami.
Wahyu Budi menambahkan, modal awal membuka usaha ini cuma Rp 400.000. Termasuk beli bahan, ongkos pemotong kain, ongkos penjahit lepas dan ongkos sablon. ”Sekarang omzet minimal Rp 16 juta per bulan. Alhamdulillah bisa nutup biaya hidup karena istri sudah keluar dari pekerjaannya sebagai perawat,” pungkas pria, yang memiliki gerai di Griya Karya Sedati Permai.
Wulandari Triana, pengguna jasa tas spunbond mengaku, pernah mengorder 50 unit tas untuk acara sunatan putra sulungnya. Tas ini, diakuinya, lebih awet dan lebih ramah lingkungan.
“Ordernya di daerah Rungkut. Sengaja saya pesan tas dari bahan kain itu karena kalau tas kresek atau tas karton sudah biasa. Selisih harga per pieces juga sedikit,” lanjut wanita, yang sehari-hari tenaga pemasaran ini.

Manik manik Beromzet Bisnis Rp 350 Juta Sebulan


Sebagai wanita desa yang tinggal di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jatim siapa sangka sosok wanita yang kelihatan sederhana dan lugu ini bernama Holisa Handayani bisa memperkerjakan ratusan orang wanita pengrajin aksesori wanita.
Kalung, anting dan gelang wanita dari manik-manik dan batu yang berhasil diekspor ke Eropa dan Cina dengan omzet penjualan sekitar Rp 350 juta sebulan. Penghasilannya ini sangat besar untuk ukuran desa. Sehingga tidak heran jika rumah yang ditempatinya paling megah di perkampungan Ledokombo, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Jember.
Sebagai mantan TKW (Tenaga Kerja Wanita) selama tujuh tahun bekerja di negara Malaysia. Wanita berjilbab modern ini pada tahun 2010 memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kaki Gunung Raung untuk kembali seterusnya di tanah kelahirannya.
ibu-ibu rumah tangga yang bekerja di rumah Holisa
Awalnya wanita berdarah Madura yanghanya lulusan Sekolah Dasar ini karena pernah tinggal di Malaysia pintar berbahasa Inggris . Setelah pulang kampung dan berhenti menjadi TKW diajak saudaranya mencoba peruntungan di Bali. Holisa diajak mencoba membuat kerajinan aksesori wanita dari manik-manik berupa kalung, anting dan gelang wanita yang dijualnya di Kuta, Bali sebagai daerah tujuan turis asing. Ternyata lokasi toko nya benar-benar strategis dan dikunjungi banyak pembeli dari wisatawan asing karena harga aksesoris wanita yang dijualnya tergolong tidak mahal mulai Rp 15.000 sampai Rp 100.000. Kreasi kalungnya luar biasa tidak kalah dengan untaian kalung model buatan luar negeri yang dipajang di pusat perbelanjaan Jakarta. Penulis sampai membeli beberapa kalung ketika mendatangi rumah produksi kalungnya karena sangat menarik bentuknya.
berbagai jenis kalung produksi Holisa
Di Ledokombo wanita yang wajahnya manis ini memperkerjakan wanita dan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya yang bekerja mengerjakan untaian kalung di rumahnya masing-masing sampai 600 orang. Sehingga wanita yang diperkerjakannya merasa nyaman bekerja menguntai manik-manik menjadi kalung atau gelang bisa disambi sambil memasak atau mengasuh anak di rumahnya masing-masing. Ada juga sebagian wanita sekitar 15 orang yang memilih bekerja bersama di kediamannnya. Holisa membebaskan pekerjanya untuk bekerja di rumah atau di bengkel kerja yang sekaligus kediamannya.
Penulis dengan Holisa dan Mbak Ciciek yang mengantar penulis ke rumahnya di Ledokombo
Ada beberapa buyers atau pembeli asing yang membeli dalam volume sangat banyak untuk keperluan ekspor di negara asalnya Eropa dan Cina. Sekarang ini Holisa sedang bekerja sama untuk importir asal Cina yang setiap minggunya memberinya pekerjaan membuat kalung, anting dan gelang dengan nilai omzet per minggunya hampir Rp 80 juta. Sehingga omzet penjualan kerajinan aksesori nya total sebulan hampir Rp 350 sampai Rp 400 juta bila sedang banyak pesanan ditambah dari hasil penjualan toko aksesorisnya di Kuta, Bali yang masih dipertahankan sampai sekarang.
Dari pembeli asal Eropa dan Cina yang secara tidak sengaja dipertemukan karena mereka berbelanja aksesorisnya di tokonya di Kuta, Bali. Akhirnya Holisa berhasil bertemu mitra dari negara asing yang mampu mengekspor hasil kerajinan tangan wanita Desa Ledokombo ini. Alhasil wanita-wanita di Eropa dan Cina sekarang ini banyak yang memakai kalung, anting dan gelang buatan Kecamatan Ledokombo yang desanya sepi dan tenang ini
Di tangan Holisa selalu tergenggam telepon genggam android karena di alat komunikasi itu lah Holisa menjalin komunikasi dengan pembeli dari Cina dan Eropa. Setiap hari Holisa berkomunikasi secara teratur dengan relasinya untuk menerima pesanan gambar-gambar semua bentuk dan warna kalung, gelang dan anting yang diinginkan pembeli untuk keperluan ekspor. Gambar kalung, gelang dan anting kebanyakan bergaya modern disesuaikan dengan pesanan pembeli dari luar.
Holisa bersama pengrajin kalungnya
Holisa juga tidak pelit membagi ilmunya kepada orang lain. Farha Ciciek, Humas Tanoker Ledokombo memperkenalkan penulis dengan Holisa dan dengan ringan tangan, mengantar penulis ke kediaman Holisa karena rumahnya sering dijadikan sebagai tujuan wisata peserta pelajar outbond Tanoker Ledokombo untuk percontohan pembelajaran kerajinan kreatif pedesaan Kecamatan Ledokombo. Sehingga banyak anak-anak kota yang belajar merangkai manik-manik aksesori wanita di rumah Holisa.
Keuntungan bersih Holisa setiap bulan sekitar Rp 100 juta setelah dikurangi biaya produksi dan gaji pekerjanya. Suatu angka yang besar untuk hidup di pedesaan Ledokombo yang subur dan berhawa dingin. Tidak heran Holisa memiliki beberapa rumah, sawah dan tanah hasil keringat tabungannya menjadi bisnis women atau wanita pengusaha. Untuk membayar gaji pekerjanya setiap minggu, Holisa harus menyediakan uang tunai Rp 60 juta untuk pembayaran mingguan. Jadi setiap bulan untuk gaji karyawan saja dia mengeluarkan biaya upah Rp 240 juta.
Holisa memilih tetap melakukan pekerjaan bisnisnya di kampung halamannya di Ledokombo meski sudah memiliki toko aksesoris wanita di Bali karena ingin memberi pekerjaan kepada 600 orang wanita-wanita desa yang menjadi tetangganya. “Saya tidak ingin ada banyak wanita Ledokombo menjadi TKW,” ujar Holisa lirih mengakhiri percakapan.

Rabu, 31 Mei 2017

Ajaran dan pandangan Niccolo Machiavelli

Ajaran dan pandangan Niccolo Machiavelli

Oleh sebab itu orang seharusnya berjuang dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan seperti binatang-binatang dan tidak menggunakan hokum. Seorang raja harus dapat menjadi binatang, yang merupakan kancil dan singa sekaligus. Merupakan kancil, supaya ia tidak terjerat dalam jarring-jaring orang lain dan merupakan singa supaya ia tidak gentar menghadapi raung srigala”. Demikianlah antara lain kata-kata Niccolo Machiavelli, seorang ahli berkebangsaan Italia yang hidup pada tahun 1469-1527. Ia menulis sebuah buku yang terkenal yaitu II Principe artinya sang raja atau buku pelajaran untuk sang raja.
Dalam buku tersebut dijelaskan tentang pedoman dan tuntunan bagi sang raja dalam menjalankan pemerintahannya.Selain itu diterangkan pula tentang azaz-azas moral dan kesusilaan dalam susunan ketatanegaraan. Pandangan Machiavelli tersebut didasarkan pada suasana kebathinan yang terjadi di Italia pada saat itu yang sedang mengalami kekacauan dan perpecahan, Machiavelli menginginkan terbentuknya zentral gewalt (system pemerintahan sentral) dengan tujuan agar keadaan Negara menjadi tentram kembali.
Selain itu Inti dari ajaran Machiavelli sebagai seorang ahli pemikir besar pada masa jaman renaissance tentang tujuan Negara adalah mengusahakan terselenggaranya ketertiban, keamanan dan ketentraman dan untuk mencapai tujuan tersebut seorang raja harus mempunyai kekuasaan yang absolute dan Negara harus mengejar tujuan dan kepentingannya dengan cara-cara yang paling tepat bahkan bila perlu dengan cara yang sangat licik sekalipun, untuk itu ajaran Machiavelli menekankan dilepasnya pemikiran-pemikiran moral dan kesusilaan dalam konteks azas-azas kenegaraan. Machiavelli berpendapat bahwa arah mendapatkan dan menghimpun kekuasaan yang sebesar-besarnya di tangan raja dengan cara-cara licik dan absolute hanya merupakan sarana karena tujuan akhir yang lebih tinggi adalah kemakmuran bersama.
Tentang kenapa Machiavelli memisahkan antara azas moral kesusilaan dan azas kenegaraan adalah karena menurutnya moral dan kesusilaan adalah das sollen atau sesuatu yang diharapkan sedangkan kenegaraan adalah das sein atau suatu kenyataan. Menurutnya lagi antara das sollen dan das sein adalah selalu berbeda, karena antara harapan dan kenyataan dalam kehidupan yang sebenarnya terdapat perbedaan besar atau dengan kata lain antara sesuatu yang dikatakan tidak selalu sama dengan apa yang diperbuatnya.
Walaupun demikian, dalam pandangan Machiavelli terdapat pro dan kontra dari ahli pemikir Negara yang lain, misalnya van schmid, ia mengatakan bahwa ajaran Machiavelli bukan kurang tepat menggambarkan kenyataan dan telah menentukan cara bertindak yang salah akan tetapi Machiavelli telah menolak ajaran yang oleh jaman pertengahan dianjurkan pada umat manusia sebagai cita-cita dan pedoman, dengan ajarannya Machiavelli telah melukai perasaan kesusilaan yang tinggi dari banyak orang.
Pendapat berbeda lainnya dari pemikir Van Mohl, Ranke dan Macaulay yang mengatakan bahwa perlu ada penafsiran dan alam pemikiran yang berbeda tentang ajaran Machiavelli, sebab machiavelii menghendaki hal yang baik, bukan yang jahat, sesungguhnya kejahatan yang ada dalam seorang raja hanyalah alat atau sarana dan bukan tujuan. Tujuan yang sesungguhnya adalah kebaikan dan kemakmuran bersama

Senin, 29 Mei 2017

pulau terlarang bagi perempuan

Pulau di Jepang Ini Terlarang bagi Kaum Perempuan

Sebuah pulau di Jepang memberlakukan aturan ketat. Salah satunya melarang kaum Hawa menginjakkan kaki di sana. Aturan tersebut dianggap kontroversial bagi sebagian orang.
Okinoshima , nama pulau tersebut, menerapkan tradisi keagamaan Shinto. Aturan yang melarang perempuan datang sudah berlaku sejak zaman kuno.
Bahkan, laki-laki pun harus berhati-hati saat berkunjung. Pakaian mereka harus dilucuti dan menjalani ritual pemurnian sebelum tiba di sana.
Mereka yang berkesempatan berkunjung juga tak diperkenankan mengambil apa pun sebagai "suvenir" ketika meninggalkan pulau, sekali pun itu rumput. Rincian perjalanan mereka pun tak boleh dipublikasikan, demikian dilaporkan BBC .
Melansir dari News.com.au , Jumat (19/5/2017), seluruh penjuru Pulau Okinoshima dianggap sebagai tanah suci. Populasinya terdiri dari para pendeta Shinto yang memelihara kuil, yang merupakan bagian dari Munakata Grand Shrine.
Merekalah yang menegakkan larangan bagi perempuan untuk berkunjung ke Okinoshima. Namun, tak diketahui pasti apa alasan larangan tersebut ada.
"Ada berbagai penjelasan untuk larangan tersebut, tetapi beberapa mengatakan, alasannya menstruasi bisa mengotori situs tersebut," tulis pemuda bernama Ryo Hashimoto di Japan Times .
"Shinto memperlakukan darah menstruasi sebagai najis," ia menjelaskan.
Alasan lain mungkin karena perjalanan lewat laut ke pulau itu dianggap berbahaya, sehingga perempuan dilarang bepergian ke sana. Salah satunya demi melindungi diri mereka sendiri sebagai pembawa keturunan.
Okinoshima terletak di sepanjang rute perdagangan penting antara Jepang dan Semenanjung Korea antara abad ke-5 dan ke-9. Para pelaut kerap mencari perlindungan dari para dewa dan akan berhenti di pulau itu untuk berdoa dan memberikan persembahan, termasuk manik-manik, cermin dan pedang.
Menarik Perhatian UNESCO
Selama berabad-abad, Okinoshima mengumpulkan sekitar 80.000 pernak-pernik yang berharga yang dianggap harta nasional.
Itulah yang mungkin menjadi alasan mengapa Okinoshima menarik perhatian UNESCO. Malahan badan dunia itu akan mempertimbangkan pemberian status World Heritage pada pulau itu pada bulan Juli 2017 mendatang.
Jika demikian, maka Okinoshima akan menarik perhatian dunia dan membuat wisatawan penasaran. Alhasil, larangan kunjungan kaum wanita pun akan menjadi masalah.
Saat ini, pulau itu hampir tidak pernah dikunjungi. Kaum pria diperbolehkan datang sekali setahun pada 27 Mei untuk hadir dalam festival yang diadakan untuk menghormati roh-roh prajurit Jepang dan Rusia yang meninggal dalam pertempuran di Laut Jepang pada 1905.
Ada keberatan dengan aturan hanya laki-laki yang boleh di Okinoshima, termasuk oleh kelompok Hindu yang tahun lalu menolak UNESCO memberikan status World Heritage, kecuali pulau itu memungkinkan perempuan untuk datang ke sana.
Sementara lainnya menyebut aturan larangan terhadap kunjungan perempuan akan tetap ada, meski status dari UNESCO diberikan.
"Sikap kami akan tetap, tidak berubah, bahkan jika pulau itu terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia," ujar seorang pejabat Munakata Taisha kepada media Jepang Mainichi .
"Kami akan terus mengatur kunjungan ke pulau dengan ketat."
Takayuki Ashizu selaku kepala pendeta Munakata Grand Shrine juga setuju dengan pernyataan Taisha.
"Kami tidak akan membuat Okinoshima terbuka untuk umum, bahkan jika itu masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO. Karena orang tidak harus mengunjunginya hanya untuk menuntaskan rasa ingin tahunya," tutur Ashizu kepada Japan Times .
Kini, salah satu solusi yang dipertimbangkan oleh pemerintah prefektur Fukuoka di mana Okinoshima berada, adalah menyiapkan sebuah fasilitas di mana wisatawan dapat belajar tentang pulau itu tanpa benar-benar mengunjunginya.

Sabtu, 27 Mei 2017

sejarah silat cimande

Silat Cimande
Silat Cimande adalah salah satu aliran pencak silat tertua yang telah melahirkan berbagai perguruan silat di Indonesia bahkan di luar negeri.
Banyak versi yang menjelaskan tentang berdirinya pencak silat ini, semua komunitas
Maenpo Cimande sepakat tentang siapa penemu Maenpo Cimande, semua mengarah kepada Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer dan sebagainya. Abah dalam bahasa Indonesia berarti Eyang, atau dalam Bahasa Inggris Great Grandfather)  . Tetapi yang sering diperdebatkan adalah dari mana Abah Khaer itu berasal dan darimana dia belajar Maenpo. Menurut Bapak Rifai (Guru Pencak Silat Cimande Panca Sakti di Jakarta pada tahun 1993). Pencak Silat aliran Cimande pertama kali diciptakan dari seorang Kyai bernama Mbah Kahir. Mbah Kahir adalah seorang pendekar Pencak Silat yang disegani. Pada pertengahan abad ke XVIII (kira-kira tahun 1760), Mbah Kahir pertama kali memperkenalkan kepada murid-muridnya jurus silat. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai Guru pertama silat Cimande. Pahlawan Betawi yaitu Si Pitung dipercaya juga berasal dari aliran perguruan silat ini. Mbah Khair juga memiliki murid bernama Mbah Datuk dan Mbah Jago dari Sumatera Barat. Kemudian keduanya menyebarkan silat Cimande di tempat mereka berasal, sehingga bisa dikatakan bahwa Pencak Silat Cimande adalah saudara tua dari pencak silat, termasuk Silek Minang yang berasal dari Sumatera Barat.
Sejarah

Ada 3 versi utama yang sering diperdebatkan, yaitu:

Versi pertama
Ini adalah versi yang berkembang di daerah
Priangan Timur (terutama meliputi daerah Garut dan Tasikmalaya dan juga Cianjur selatan). Berdasarkan versi yang ini, Abah Khaer belajar Silat dari istrinya. Abah Khaer diceritakan sebagai seorang pedagang (dari Bogor sekitar abad 17 sampai abad 18) yang sering melakukan perjalanan antara Batavia , Bogor , Cianjur,
Bandung , Sumedang, dan sebagainya. Dan dalam perjalanan tersebut dia sering dirampok, itu terjadi sampai istrinya menemukan sesuatu yang berharga.
Suatu waktu, ketika Abah Khaer pulang dari berdagang, dia tidak menemukan istrinya ada di rumah, padahal saat itu sudah menjelang sore hari, dan ini bukan kebiasaan istrinya meninggalkan rumah sampai sore. Dia menunggu dan menunggu, sampai merasa jengkel dan khawatir, jengkel karena perut lapar belum diisi dan khawatir karena sampai menjelang tengah malam istrinya belum datang juga. Akhirnya tak lama kemudian istrinya datang juga, hilang rasa khawatir, yang ada tinggal jengkel dan marah. Abah Khaer bertanya kepada istrinya, " Ti mana maneh? " (Dari mana kamu?) tetapi tidak menunggu istrinya menjawab, melainkan langsung mau menempeleng istrinya. Tetapi istrinya malah bisa menghindar dengan indahnya, dan membuat Abah Khaer kehilangan keseimbangan. Ini membuat Abah Khaer semakin marah dan mencoba terus memukul, tetapi semakin mencoba memukul dengan amarah, semakin mudah juga istrinya menghindar. Ini terjadi terus sampai Abah Khaer jatuh kelelahan dan menyadari kekhilafannya, dan bertanya kembali ke istrinya dengan halus " Ti mana anjeun teh Nyi? Tuluy ti iraha anjeun bisa Ulin? " (Dari mana kamu? Lalu dari mana kamu bisa "Main"?).
Akhirnya istrinya menjelaskan bahwa ketika tadi pagi ia pergi ke sungai untuk mencuci dan mengambil air, ia melihat Harimau berkelahi dengan 2 ekor monyet (Salah satu monyet memegang ranting pohon). Saking indahnya perkelahian itu sampai-sampai ia terkesima, dan memutuskan akan menonton sampai beres. Ia mencoba mengingat semua gerakan baik itu dari Harimau maupun dari Monyet, untungnya baik Harimau maupun Monyet banyak mengulang-ngulang gerakan yang sama, dan itu mempermudah ia mengingat semua gerakan. Pertarungan antara Harimau dan Monyet sendiri baru berakhir menjelang malam.
Setelah pertarungan itu selesai, ia masih terkesima dan dibuat takjub oleh apa yang ditunjukan Harimau dan Monyet tersebut. Akhirnya ia pun berlatih sendirian di pinggir sungai sampai betul-betul menguasai semuanya, dan itu menjelang tengah malam. Apa yang ia pakai ketika menghindar dari serangan Abah Khaer, adalah apa yang ia dapat dari melihat pertarungan antara Harimau dan Monyet itu. Saat itu juga, Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan dia. Ia berpikir, 2 kepala yang mengingat lebih baik daripada satu kepala. Ia takut apa yang istrinya ingat akan lupa. Dia berhenti berdagang dalam suatu waktu, untuk melatih semua gerakan itu, dan baru berdagang kembali setelah merasa mahir. Diceritakan bahwa dia bisa mengalahkan semua perampok yang mencegatnya, dan mulailah dia membangun reputasinya di dunia persilatan.
Jurus yang dilatih
1. Jurus Harimau/Pamacan (Pamacan [5] , tetapi mohon dibedakan pamacan yang “ black magic ” dengan jurus pamacan. Pamacan black magic biasanya kuku menjadi panjang, mengeluarkan suara-suara aneh, mata merah dan lain-lain).
2. Jurus Monyet/Pamonyet (Sekarang sudah sangat jarang sekali yang mengajarkan jurus ini, dianggap punah).
3. Jurus Pepedangan (ini diambil dari monyet satunya lagi yang memegang ranting).
Cerita di atas sebenarnya lebih cenderung mitos, tidak bisa dibuktikan kebenarannya, walaupun jurus-jurusnya ada . Maenpo Cimande sendiri dibawa ke daerah Priangan Timur dan Cianjur selatan oleh pekerja-pekerja perkebunan teh. Hal yang menarik adalah beberapa perguruan tua di daerah itu kalau ditanya darimana belajar Maenpo Cimande selalu menjawab " ti indung" (dari ibu), karena memang mitos itu mempengaruhi budaya setempat, jadi jangan heran kalau di daerah itu perempuan pun betul-betul mempelajari Maenpo Cimande dan mengajarkannya kepada anak-anak atau cucu-cucunya, seperti halnya istrinya Abah Khaer mengajarkan kepada Abah Khaer.
Perkembangannya Maenpo Cimande sendiri sekarang di daerah tersebut sudah diajarkan bersama dengan aliran lain (Cikalong , Madi, Kari, Sahbandar, dan lain-lain). Beberapa tokoh yang sangat disegani adalah K.H. Yusuf Todziri (sekitar akhir 1800 – awal 1900), Kiai Papak (perang kemerdekaan, komandannya Mamih Enny), Kiai Aji (pendiri Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka, perang kemerdekaan), Kiai Marzuk (Maenpo H. Marzuk, zaman penjajahan Belanda), dan lain-lain.

Versi kedua
Menurut versi kedua, Abah Khaer adalah seorang ahli maenpo dari Kampung Badui .  Dia dipercayai sebagai keturunan Abah Bugis (Bugis di sini tidak merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah). Abah Bugis sendiri adalah salah seorang Guru ilmu perang khusus dan kanuragaan untuk prajurit pilihan di Kerajaan Padjadjaran dahulu kala. Kembali ke Badui, keberadaan Abah Khaer di Kampung Badui mengkhawatirkan sesepuh-sesepuh Kampung Badui, karena saat itu banyak sekali pendekar-pendekar dari daerah lain yang datang dan hendak mengadu jurus dengan Abah Khaer, dan semuanya berakhir dengan kematian. Kematian karena pertarungan di tanah Badui adalah "pengotoran" akan kesucian tanah Badui.
Karena itu, pimpinan Badui (biasa dipanggil Pu’un ) meminta Abah Khaer untuk meninggalkan Kampung Badui, dengan berat hati, Abah Khaer pun pergi meninggalkan Kampung Badui dan bermukim di desa Cimande-Bogor. Tetapi, untuk menjaga rahasia-rahasia Kampung Badui (terutama Badui dalam), Abah Khaer diminta untuk membantah kalau dikatakan dia berasal dari Badui, dan orang Badui (Badui dalam) pun semenjak itu diharamkan melatih Maenpo mereka ke orang luar, jangankan melatih, menunjukan pun tidak boleh. Satu hal lagi, Abah Khaer pun berjanji untuk “menghaluskan” Maenpo nya, sehingga tidak ada lagi yang terbunuh dalam pertarungan, dan juga dia berjanji hanya akan memakai dan memanfaatkannya untuk kemanusiaan. Oleh karena itu, dahulu beberapa Guru-guru Cimande tua tidak akan menerima bayaran dari muridnya yang berupa uang, lain halnya kalau mereka memberi barang misalnya beras, ayam, gula merah atau tembakau sebagai wujud bakti murid terhadap Guru. Barang-barang itupun, oleh Guru tidak boleh dijual kembali untuk diuangkan.
Versi kedua ini banyak diadopsi oleh komunitas Maenpo dari daerah Jawa Barat bagian barat ( Banten , Serang, Sukabumi , Tangerang , dan sebagainya).  Mereka juga mempercayai beberapa aliran tua di sana awalnya dari Abah Khaer, misalnya Sera. Penca Sera berasal dari Uwak Sera yang dikatakan sebagai salah seorang murid Abah Khaer (ada yang mengatakan anak, tetapi paham ini bertentangan dengan paham lain yang lebih tertulis). Penca Sera sendiri sayangnya sekarang diakui dan dipatenkan di Amerika oleh orang Indo-Belanda sebagai beladiri keluarga mereka.

Versi ketiga
Versi ketiga inilah yang "sedikit" ada bukti-bukti tertulis dan tempat yang lebih jelas. Versi ini pulalah yang dipakai oleh keturunan dia di Kampung Tarik Kolot – Cimande (Bogor). Meskipun begitu, versi ini tidak menjawab tuntas beberapa pertanyaan, misal: Siapa genius yang menciptakan aliran Maenpo ini yang kelak disebut Maenpo Cimande.
Abah Khaer diceritakan sebagai murid dari Abah Buyut, masalahnya dalam budaya Sunda istilah Buyut dipakai sebagaimana "leluhur" dalam
Bahasa Indonesia. Jadi Abah Buyut sendiri merupakan sebuah misteri terpisah, darimana dia belajar Maenpo ini, apakah hasil perenungan sendiri atau ada yang mengajari? Yang pasti, di desa tersebut, tepatnya di Tanah Sareal terletak makam leluhur Maenpo Cimande yaitu Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dan lain-lain.
Abah Khaer awalnya berprofesi sebagai pedagang (kuda dan lainnya), sehingga sering bepergian ke beberapa daerah, terutama Batavia . Saat itu perjalanan Bogor-Batavia tidak semudah sekarang, bukan hanya perampok, tetapi juga Harimau, Macan Tutul dan Macan Kumbang. Tantangan alam seperti itulah yang turut membentuk beladiri yang dikuasai Abah Khaer ini. Disamping itu, di Batavia Abah Khaer berkawan dan saling bertukar jurus dengan beberapa pendekar dari Cina dan juga dari Sumatera . Dengan kualitas basic beladirinya yang matang dari Guru yang benar (Abah Buyut), juga tempaan dari tantangan alam dan keterbukaan menerima kelebihan dan masukan orang lain, secara tidak sadar Abah Khaer sudah membentuk sebuah aliran yang dahsyat dan juga mengangkat namanya.
Saat itu (sekitar 1700-1800) di Cianjur berkuasa Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI (1776-1813, dikenal juga dengan nama Dalem Enoh). Sang bupati mendengar kehebatan Abah Khaer, dan memintanya untuk tinggal di Cianjur dan bekerja sebagai " pamuk " ( pamuk dalam Bahasa Sunda artinya Guru beladiri) di lingkungan Kabupatian dan keluarga bupati. Bupati Aria Wiratanudatar VI memiliki 3 orang anak, yaitu: Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), Rd. Aria Natanagara (Rd.Haji Muhammad Tobri) dan Aom Abas (ketika dewasa menjadi Bupati di Limbangan-Garut). Satu nama yang patut dicatat di sini adalah Aria Wiranagara (Aria Cikalong), karena dialah yang merupakan salah satu murid terbaik Abah Khaer dan nantinya memiliki cucu yang "menciptakan" aliran baru yang tak kalah dasyat.
Sepeninggal Bupati Aria Wiratanudatar VI (tahun 1813), Abah Khaer pergi dari Cianjur mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor. Mulai saat itulah dia tinggal di Kampung Tarik Kolot – Cimande sampai wafat (Tahun 1825, usia tidak tercatat). Abah Khaer sendiri memiliki 5 orang anak, seperti yang dapat dilihat di bawah ini. Mereka inilah dan murid-muridnya sewaktu dia bekerja di kabupaten yang menyebarkan Maenpo Cimande ke seluruh Jawa Barat.
Sayangnya image tentang Abah Khaer sendiri tidak ada, cuma digambarkan bahwa dia: "selalu berpakain kampret dan celana pangsi warna hitam. Dan juga dia selalu memakai ikat kepala warna merah, digambarkan bahwa ketika dia "ibing" di atas panggung penampilannya sangat ekspresif, dengan badan yang tidak besar tetapi otot-otot yang berisi dan terlatih baik, ketika "ibing" (menari) seperti tidak mengenal lelah. Terlihat bahwa dia sangat menikmati tariannya tetapi tidak kehilangan kewaspadaannya, langkahnya ringan bagaikan tidak menapak panggung, gerakannya selaras dengan kendang (" Nincak kana kendang " – istilah sunda). Penampilannya betul-betul tidak bisa dilupakan dan terus diperbincangkan." (dari cerita/buku Pangeran Kornel, legenda dari Sumedang , dalam salah satu bagian yang menceritakan kedatangan Abah Khaer ke Sumedang, aslinya dalam Bahasa Sunda , pengarang Rd Memed Sastradiprawira).

sejarah letusan gunung guntur

Sejarah Letusan Gunung Guntur
Di era 1800-an, Gunung Guntur merupakan gunung paling aktif di Indonesia, bahkan mengalahkan Gunung Merapi di Jawa Tengah.
Sejarah Letusan Gunung Guntur
Di era 1800-an, Gunung Guntur merupakan gunung paling aktif di Indonesia, bahkan mengalahkan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Adalah Franz Wilhelm Junghuhn, seorang naturalis Belanda kebangsaan Jerman, yang rajin menuliskan laporan tentang betapa aktifnya
Gunung Guntur dalam bukunya : 13 Goentoer, Java Tweede Afduling, De Vulkaan en Vulkanische Verschjnslen West-en Midden-Java (1850).
Antara tahun 1800 sampai 1847 tercatat tidak kurang dari 21 kali letusan. Letusan itu berulang-ulang dalam tempo pendek, berlangsung paling lama 5 sampai 12 hari. Periode letusan berselang-selang antara 1,2 dan 3 tahun dan ada kalanya letusan terjadi setelah masa istirahat 6 dan 7 tahun. Berikut beberapa sejarah letusan Gunung Guntur yang tercatat.
Nih, sejarah letusan Gunung Guntur yang tercatat di periode 1800-an :
1825 : Letusan terjadi pada tanggal 14 Juni. Letusannya mengakibatkan hutan di sekitar gunung hangus terbakar.
1829 : Letusan yang terjadi di tahun ini cukup besar dan tiba-tiba. Beberapa kampung hancur, dan banyak orang menjadi korban
1832 : Di tahun ini terjadi dua kali letusan. Yang pertama terjadi pada tanggal 16 Januari, dan yang kedua merupakan letusan panjang berkali-kali dari 8 hingga 13 Agustus.
1840 : Pada tahun 1840 letusan yang terjadi bahkan mengeluarkan aliran lava. Aliran lava ini mengalir hingga ke Cipanas. Lava hasil erupsi tahun 1840 ini mengalir dari Kawah Gunung Guntur ke arah tenggara dan selatan dan berakhir di daerah Cipanas (sekitar 300 meter sebelah utara lokasi wisata pemandian Cipanas),
“ Matahari belum lagi terbit ketika tiba-tiba terbentuk tiang api dan asap dari kawah. Lava membara mengalir ke semua arah dari tepinya… Tiada batang rumput menghiasi Gunung Guntur dari kaki hingga puncak, sama sekali gundul, ia menjulang dalam kegelapan lontaran kelabu kotor kehitaman, bagaikan suatu gambaran kehancuran. ”
-F. Junghuhn, naturalis Belanda, menceritakan sejarah letusan Gunung Guntur tahun 1840 dalam 13 Goentoer, Java Tweede Afduling, De Vulkaan en Vulkanische Verschjnslen West-en Midden-Java (1850).*)
1841 : Letusan yang terjadi pada tanggal 14 Nopember ini sangat besar hingga menghancurkan lahan-lahan pertanian di Garut. Tercatat hingga 400.000 batang pohon kopi hancur.
1843 : Pada tahun ini pun letusan terjadi dua kali, yaitu pada tanggal 4 Januari dan tanggal 25 November. Akibat dari letusan ini banyak lahan pertanian warga dan beberapa kampung rusak.
1847 : Letusan tahun 1847 adalah letusan terakhir
Gunung Guntur . Hingga saat ini, lebih dari 150 tahun lamanya, Gunung Guntur telah beristirahat.
Kata pak Surono, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang rajin ngamatin Gunung Guntur , gunung ini adalah salah satu gunung yang harus selalu diwaspadai aktivitasnya. Selain karena gunung ini sudah menyimpan energi selama lebih dari 1,5 abad, Gunung ini juga sangat dekat dengan perkotaan. Oleh karena itu, tim beliau ngga boleh sampai lengah.
Nah, luar biasa kan sejarah letusannya? Kalau mau tanya-tanya perihal aktivitas Gunung Guntur , bisa dicari tuh pos pengamatannya di Desa Sirnajaya, Kecamatan Tarogong Kaler, Kab. Garut.

legenda gunung guntur Garut

Sejarah atau legenda Gunung Guntur ternyata menceritakan tentang sebuah kerajaan. Pada zaman dahulu kala, konon terdapat sebuah kerajaan yang berdiri di sekitar lembah kaki Gunung Kutu. Kerjaan tersebut adalah "Kokorobokan" yang di pimpin oleh seorang raja bernama Sunan Ranggalawe. Sunan Ranggalawe memiliki seorang kakak peremuan bernama Ratna Inten Dewata. Jika menurut peraturan kerjaan, Sunan Ranggalawe tidak bisa menjadi seorang raja. Yang lebih berhak menjadi sang raja seharusnya adalah kakaknya. Tapi karena Ratna Inten Dewata adalah seorang peremuan, maka Sunan Ranggalawe lah yang akhirnya diipilh menjadi seorang raja untuk menduduki tahta dan mewarisi dari raja terdahulu.
Pada suatu ketika kemarau panjang melanda kerajaan Kokorobokan. Dimana-mana terjadi kekeringan yang membuat rakyat Kokorobokan sangat menderita. Sebagai seorang raja Sunan Ranggalawe tidak bisa tinggal diam dengan hanya memikirkan penderitaan yang di derita oleh rakyat dan negrinya. Setelah memikirkan jalan kleuar dengan para patih kerajaan, akhirnya Sunan Ranggalawe mumutuskan jalan keluar dari kemarau panjang yaitu dengan membuat telaga penampungan air. Akan tetapi lahan yang kan dibuat telaga penampungan air tersebut ternyata di kuasai oleh Ratna Inten Dewata. Secara baik-baik Sunan Ranggalawe meminta izin kakanya agar menyerahkan lahan yang di diaminya, sayang Ratna Inten Dewata menolaknya smabil berkata "Setelah aku tidak jadi raja karena aku seorang wanita, sekarang tempat tinggal ku akan kau rebut juga?!" Sunan Ranggalawe pun tidak bisa berbuat apa-apa atas penolakan kakaknya. Raja pun menghormati keputusan kakanya meski para patih kerjaan sangat kecewa. Sunan Ranggalawe sangat kebingungan, sementara rakyat membutuhkan air. Setelah berpikir dia berniat untuk kembali memnemui kakaknya. Lagi, Ratna Inten Dewata tetap menolak.
Sumber gambar: http://daerah.sindonews.com
Sebagai seorang raja, Sunan Ranggalawe merasa harus bertanggung jawab atas nasib rakyatnya yang dilalnda kekeringan dan kemarau panjang. Akhirnya untuk lepas dari kekeringan Sunan Ranggalawe memerintahkan semua rakyatnya untuk membendung lahan milik Ratna Inten Dewata untuk dijadikan telaga. Namun apa yang terjadi? Ratna Inten Dewata sangat murka tapi apa daya dia tidak bisa melawan adiknya sendir. Untuk mengeluarkan semua amarahnya Ratna Inten Dewata akhirnya pergi ke puncak Gunung Kutu. Dia menyendiri dan bertapa sambil memanjaatkan doa kepada Tuhan supaya adiknya di sadarkan, bahwa apa yang telah di perbuat Sunan Ranggalawe telah menyakiti kakanya sendiri. Dipuncak Gunung Kutu Ratna Inten Dewata menaburkan bunga disertai segenggam tanah kering.Tidak lama setelah itu, tiba-tiba awan menebal dan suasana sangat meburuk. Mengetahuai sesuatu yang dahsyat akan terjadi, Ratna Inten Dewata pun bergegass turun dari puncak gunung Kutu. Lalu gunung Kutu meletus dengan sangat dahsyat dan membumihanguskan Kerjaan Kokorobokan. Karena Letusan gunung tersebut menyerupai "Guntur' maka Gunung tersebut dinamai Gunung Guntur sampai sekarang.
Guntur yang berarti "halilintar" atau "petir " ini menjadi salah satu gunung berapi paling aktif di Jawa Barat. Itulah Sejarah Panamann Gunung Guntur Dan Legenda Di dalamnya.

Jumat, 26 Mei 2017

Mengapa Bali tetap Hindu?


Sesungguhnya kita orang Bali bukanlah pedagang yang mumpuni apalagi keberanian untuk menawarkan Agama pada orang Non Hindu. Kita berprinsip bahwa Agama Hindu adalah sebuah sumur atau sumber air bersih, maka jika kalian merasa haus datanglah kepada Nya untuk menimba airnya. Sumur tidak bersifat komersial dan dia bukan air kemasan yang ber merk dan bertarif yang bahkan berebut untuk di iklankan.
-Budi Sihing-
Pasca Runtuhnya Majapahit pada abad 15, hampir seluruh Nusantara menjadi Islam, kecuali beberapa wilayah di Indonesia Timur yang Kristen.
Bali, menurut mendiang Clifford Geertz , sebuah pulau Hindu yang munggil, menyembul di tengah samudera Islam. Mengapa Bali tetap Hindu? Apa yang menghalangi kerajaan-kerajaan Islam di Jawa masuk ke Bali?
Satu sebab yang luas dipercaya adalah bahwa para tokoh Hindu, seperti Danghyang Nirartha telah membangun benteng niskala di seluruh pesisir Bali yang tidak bisa ditembus oleh para penyerbu dari luar. Mungkin saja hal ini benar dari sudut niskala. Tetapi Robert Pringle dalam bukunya “A Short History of Bali, Indonesia’s Hindu Realm” memberikan analisis dari aspek sekala yang masuk akal.
Tidak pernah tercatat kehadiran yang signifikan dari komunitas Muslim di Bali. Hampir tak pernah ada ekspansi ke Bali untuk menyebarkan agama Islam.
Pada saat Majapahit mulai kehilangan dominasinya atas Nusantara, sebagian besar wilayahnya menjalani Islamisasi tapi tetap dengan budaya maritim. Bali tidak. Tidak seperti Jawa, Bail tidak memiliki pelabuhan perdagangan utama. Sulit dipahami seperti itu mungkin, rempah-rempah tidak signifikan tumbuh di Bali juga. Pedagang dari Asia Selatan dan Timur Dekat berlayar ke Malaka, Jawa atau Kalimantan - menikahi penduduk setempat sambil memperkenalkan Islamisme untuk bangsawan lokal - dan melakukan kontak dengan orang-orang dari Timur (Sunda, Maluku dan Buru), sementara Bali sama sekali dilewati?
Bali masih bercorak masyarakat agraris. Saat itu, ketika semua orang di Nusantara terlibat dalam proses kompleks (dan dipolitisasi) panjang perdagangan rempah-rempah melalui maritim Jalur sutra (Silk Road) sepanjang jalan ke Eropa, di Bali tumbuh beras dan makanan pokok lainnya di tanah Bali dengan suburnya (perhatikan bahwa Bali dengan ciri masyarakat agraris, seperti Jepang, cenderung terlihat untuk menjauh dari laut, karena itu terutama gunung berapi yang memainkan peran untuk kesuburan tanahnya).
Bali tetap terisolasi dan tidak terganggu selama 300 ratus tahun sejak jatuhnya Majapahit. Selama Pemerintahan Belanda (saat dikuasai Prancis) memastikan kedaulatannya setiap sudut bumi nusantara. Untuk sementara Belanda tetap mempertahankan Hindu sebagai agama di Bali.
Dengan demikian, Bali dan Aceh adalah tempat terakhir di kepulauan Indonesia untuk belum jatuh ke dalam kekuasaan Belanda secara penuh pada abad kedua puluh. Pada saat tentara Belanda menyerang kerajaan Bali selatan (di mana Denpasar terletak) pada tahun 1908 M, hampir semua penguasa keturunan lokal bertindak baik sebagai bawahan, penguasa boneka atau hanya simbol entitas sub-kolonial Belanda yang dikelola lokal .
Lebih mudah untuk menetapkan misi misionaris di bawah piagam lokal. Mencoba untuk mengubah penganut lokal dari keyakinan mereka telah "membeli dari seribu tahun" sia-sia, berakhir tanpa dukungan dari penguasa lokal.
Di bawah subjudul “Why Bali Remained Hindu” Pringle menulis sebagai berikut: Kenapa, setelah keruntuhan Mahapahit, Bali tetap jauh tinggi
(aloof) dari kecendrungan kepulauan Nusantara dan gagal memeluk Islam? Geografi tentu saja bukan jawaban yang cukup; seperti dicatat sebelumnya, Selat Bali yang sempit dan dangkal, yang memisahkan pulau ini dari Jawa, tidak pernah merupakan hambatan serius bagi perobahan. Tentu saja ada hambatan-hambatan kultural bagi penetrasi Islam – kegemaran akan daging babi adalah hal yang sering dikutip – tetapi hambatan yang sama ada di Jawa, di mana konversi kepada Islam sungguh-sungguh, sekalipun sering hanya secara nominal, bersifat universal.
Orang-orang Bali tidak pernah secara sungguh-sungguh anti Islam. Komunitas Islam terus ada (di Bali) paska Majapahit. Puri-puri dan para penguasa Bali tetap menerima kehadiran orang Muslim sebagai pedagang dan menyewa mereka sebagai tentara.
Waktu memberikan orang-orang Bali Hindu ruang nafas politik. Tidak ada kerajaan Islam yang kuat di Jawa sampai kemunculan Mataram, yang mulai pada akhir abad 16, hampir seratus tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sementara Mataram mampu mengusir orang-orang Bali dari Belambangan secara temporer, Gelgel dan kerajaan penerusnya tetap kuat yang membuat invasi ke Bali menjadi sulit, dengan atau tanpa dukungan Belanda. (Tambahan dari saya : Bahkan Bali, diwakili oleh Buleleng atau Mengwi mampu menguasai sebagian Jawa Timur. Karangasem menguasai Lombok. Ketika Dalem Samprangan berkuasa, kekuasaannya meliputi Sumbawa. Bali pernah mempersiapkan diri untuk menyerang Mataram).
Bagaimanapun juga, Mataram pertama-tama sibuk dengan saingan-saingannya di Jawa, dan kemudian dengan Belanda, tampaknya tidak tergoda oleh pertimbangan untuk melakukan pengislaman dengan api dan pedang di antara berbagai kantong orang-orang tidak percaya sepanjang pesisir sebelah timur Jawa.
Belakangan, ekspansi Belanda melemparkan Mataram pada posisi defensif. Ketika kekuatan Belanda semakin berkembang, yang akhirnya membuat mereka mampu menguasai saingan-saingan Indonesianya, keuntungan politik yang mungkin didapat oleh para penguasa Bali melalui konversi ke Islam semakin berkurang dan akhirnya lenyap sama sekali.
Sekala dan Niskala.
Penjelasan singkat di atas menyatakan bahwa ketahanan Hindu di Bali disebab oleh unsur niskala dan sekala. Mana yang lebih dominan? Menurut saya adalah unsur sekalanya. Kenapa?
Kita jawab dulu apa yang dimaksud dengan sekala dan niskala, dalam pengertian umum saja. Sekala adalah segala hal yang dapat kita lihat, kita raba, hal-hal dari dunia materi ini. Niskala, adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat atau diraba, tetapi kita yakini keberadaannya. Atau hal-hal yang bersifat kerohanian seperti kepercayaan akan adanya Tuhan, para Dewa/Betara, sorga, neraka, moksha dan lain-lain.
Ketika Hindu berjaya pada jaman Majapahit, unsur niskalanya pasti ada. Tetapi karena unsur sekala diabaikan, maka Hindu runtuh dengan mudah. Majapahit runtuh bukan oleh serbuan tentara asing, tetapi oleh keyakinan asing yang diterima tanpa reserve oleh penguasa dan juga kawula yang beritikad baik dan sangat toleran tetapi tidak waspada.
Menyerahkan pemeliharaan agama Hindu hanya kepada yang niskala saja, sudah terbukti gagal. Dua buah bangunan yang sama besar, luas dan tingginya, dibuat dari bahan yang sama di tempat yang berdampingan. Satu bangunan untuk tempat ibadah. Bangunan lain untuk kasino, pusat kenikmatan, termasuk yang bersifat seksual. Bangunan pertama tidak diberi penangkal petir, karena yakin Tuhan memelihara “rumahnya”. Bangunan kedua, karena sadar tempat ini sangat berbau duniawi diberi penangkal petir. Ketika petir terjadi di wilayah itu, kemungkinan yang akan rusak terbakar adalah “rumah” Tuhan itu. Sedangkan bangunan kasino akan selamat. Hukum alam tidak akan membedakan bangunan suci atau bangunan duniawi, termasuk yang digolongkan maksiat sekalipun.
Di dalam perang antara Kaurawa dengan Pandawa di Kuruksetra, hal itu juga tercermin dengan jelas. Krishna yang merupakan lambang niskala, hanya berfungsi sebagai penasehat. Arjuna, yang merupakan simbol niskala, harus melakukan peperangan untuk menjaga kebenaran. Kenapa demikian? Manusia memiliki otonominya sendirinya; memiliki kebebasan untuk memilih dharma atau adharma. Manusia harus aktif menjaga kebenaran dan kedamaian. Dengan kata lain, yang niskala menghormati kebebasan yang sekala.
Kembali ke inti pembicaraan, Bali tetap Hindu, karena secara militer waktu itu sangat kuat. Sebelum abad 19 pulau Bali dihindari oleh pelaut asing, karena penduduknya dianggap sangat “savage” Opini ini berobah setelah maskapai pelayaran Belanda, untuk kepentingan pariwisata, membentuk opini Bali sebagai pulau sorga yang damai dan eksotik.
Demikian sekilian sejarah ...

MISTERI KISAH KELAHIRAN PANDAWA KORAWA KRISNA DAN DRONA

MISTERI KISAH KELAHIRAN PANDAWA KORAWA KRISNA DAN DRONA

Kisah Wayang legendaris Mahabharata  adalah kisah epik mengenai babad perang keluarga besar bharata yang terkenal sampai saat ini. Tentunya pembaca masih ingat dengan kisah kesaktian Krisna, Arjuna sampai kesaktian tanpa tanding dari Sang Bisma. Belum lagi tingkah licik sengkuni alias Drona. Ada Hal menarik yang jarang dikisahkan para dalang wayang yaitu misteri kisah kelahiran pandawa, Korawa Krisna dan Drona yang memiliki keunikan dan termasuk kelahiran yang fenomenal bila dikaitkan dengan jaman sekarang. Sepertinya ada misteri perlambang dibalik simbol-simbol cerita yang ada dalam kisah-kisah pewayangan yan kita dengar dan baca.
Kisah Mahabharata adalah sebuah karya sastra kuno yang ditulis oleh Bhagawan Wyasa (Byasa) atau Vyasa dari India. Bhagawan Wyasa selain sebagai penulis epos Mahabharata, dikatakan juga penyusun kitab-kitab suci Weda, Wedanta, dan Purana. Para ahli juga menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang mendasar antara sumber-sumber kitab suci Weda dan materi epos Mahabharata. Kisah Mahabharata ditulis dari tahun 400 SM sampai 400 M. Kata wyasa artinya ‘penyusun’ atau ‘pengatur’. Dari arti ini maka mungkin penyusun-pencipta atau pengarang-penyair pada jaman dahulu disebut wyasa. Penambahan kata bhagawan adalah sebagai penghormatan atas keahliannya. Dalam kitab-kitab suci Purana dikenal adanya wyasa yang berjumlah 28 orang. Jadi pertanyaanny adalah apakah Begawan Wyasa ini satu orang atau sekumpulan orang pujangga?
Kisah Legendaris Perang Besar Mahabharata
Sebenarnya Mahabharata pada dasarnya merupakan perang saudara antara keluarga besar Bharata. Yaitu Keluarga Pandawa dan Korawa. Mahabharata menceritakan kisah para Pandawa dan saudara sepupu mereka yang seratus, Korawa. Dalam epos ini diceritakan beberapa nama dengan karakter istimewa. Jujur saja penulis sangat tertarik dengan beberapa tokohnya yaitu Karna, Pandawa, Korawa, Drona dan Kreshna. Sebelumnya ada satu toko fenomenal dalam kisah pewayangan mahabharata dan ada juga dalam kisah Ramayana yaitu Tokoh Sakti Begawan Parasurama, Sang Maha Guru dari Bisma, Karna dan Drona. Silahkan Baca dalam Legenda Parasurama, Kisah Ramabargawa Di ramayana Dan Mahabharata .

Kelahiran Karna dan Pandawa Lima
Karna adalah putra Kunti. Kunti seorang putri yang dianugerahi sebuah ilmu kesaktian bernama Adityahredaya, semacam mantra untuk memanggil dewa dan bisa mendapat anugerah putra darinya. Ketika Kunti mencoba mantra tersebut sambil memandang matahari terbit maka Dewa Surya pun muncul dan siap memberinya seorang putra. Dengan sabda sang Dewa, Kunti pun mengandung dan Surya juga membantunya segera melahirkan bayi tersebut. Namun untuk menjaga nama baik negaranya, Kunti yang melahirkan sebelum menikah terpaksa membuang “putra Surya” yang ia beri nama Karna di sungai Aswa dalam sebuah keranjang. Bayi yang terbawa arus tersebut ditemukan oleh Adirata yang bekerja sebagai kusir kereta di Kerajaan Kuru (Hastinapura).
Pandu yang mendapat kutukan dari seorang Rhesi tidak bisa memberikan keturunan. Pandu dan Kunti pun sepakat menggunakan Adityahredaya untuk memanggil para Dewata agar mendapatkan karunia berupa putra dari mereka. Dari Dewa Dharma lahir Yudhistira, dari Dewa Vayu (Bayu) lahir Bhimasena, dari Indradewa, lahir Arjuna. Lalu sepasang anak kembar Nakula dan Sadewa lahir sebagai anugerah Sang Dewa Kembar, Dewa Ashwin melalui Madri, istri Pandu yang lain.
Kelahiran tokoh-tokoh ini tidak melalui pembuahan (persatuan sperma dan ovum) secara alami, melainkan dengan bantuan Dewata. Kisah ini seperti kisah kelahiran Nabi ‘Isa as., putra Maryam (Maria) yang mengandung dan melahirkan ‘Isa as. tanpa melalui pembuahan alami. Kisah Karna yang terpaksa dibuang/ dilarung di sungai dalam sebuah keranjang dan kemudian bayi Karna ini ditemukan dan diasuh oleh kusir kereta Kerajaan Hastinapura (yang nantinya Kunti akan menjadi permaisuri Kerajaan Hastinapura sehingga Karna dapat bertemu dengan ibunya).

Kelahiran Korawa
Gandari, istri Dretarastra, menginginkan putra dan Gandari memohon kepada Byasa (pertapa sakti), dan permohonannya lalu dikabulkan. Namun Gandari hanya melahirkan segumpal daging. Byasa kemudian memotong-motong daging tersebut menjadi seratus bagian dan memasukkannya ke dalam guci, yang kemudian ditanam ke dalam tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, guci tersebut dibuka kembali dan dari dalam setiap guci, munculah bayi laki-laki (Duryodana, Dursasana, dan saudara Korawa lainnya).
Kelahiran para Korawa adalah melalui metoda “tissue culture” (kultur jaringan). Hal ini mirip dengan teori yang pernah muncul tentang ibu Hawa yang lahir dari tulang rusuk Nabi Adam as.

Kelahiran Drona
Drona dari kasta brahmana (kaum pendeta Hindu). Drona berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci). Dikisahkan pendeta Bharadwaja dikuasai nafsu ketika melihat bidadari yang sangat cantik mandi saat sang pendeta melakukan penyucian diri di sungai Gangga. Maninya ia tampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir. Menjijikan sekali.
Drona yang bangga dengan kelahirannya dari Bharadwaja dan tanpa pernah berada di dalam rahim adalah hakekatnya kelahiran dengan metoda bayi tabung. Inilah Fenomena misteri tentang Drona yang memunculkan teori manusia hasil bayi tabung pertama?.

Kelahiran Sri Kresna
Kresna terlahir sebagai putra kedelapan Basudewa dan Dewaki.
Sebuah ramalan menyatakan bahwa Raja Kangsa, kakak sepupu Dewaki, akan mati di tangan salah satu putra Dewaki. Karena mencemaskan nasibnya, ia mencoba membunuh Dewaki, namun Basudewa mencegahnya. Basudewa menyatakan bahwa mereka bersedia dikurung dan berjanji akan menyerahkan setiap putra mereka yang baru lahir untuk dibunuh. Kangsa membunuh 6 orang anak Dewaki, kakak-kakak Krisna, begitu mereka lahir ke dunia karena khawatir kekuasaannya terancam. Dewaki kehilangan putra ketujuhnya, dan kemudian lahir Kreshna. Karena hidup Kreshna terancam bahaya, maka ia diselundupkan keluar penjara oleh ayahnya dan dititipkan pada sahabatnya di wilayah lain.
Kresna juga lahir tanpa hubungan seksual, melainkan melalui “transmisi mental” dari pikiran Basudewa ke rahim Dewaki, dan Kreshna adalah titisan Dewa Wisnu.
Ada satu kemiripan mengenai Kisah kehidupan Kreshna yang mirip dengan kisah beberapa Nabi, antara lain kisah masa Nabi Ibrahim as., Musa as. dan ‘Isa as. Kisah Nabi Ibrahim as. dimana Raja Namrud membunuh semua bayi yang dilahirkan pada masanya karena ramalan bahwa seorang bayi akan dilahirkan disana dan akan merampas takhtanya, dan demi keselamatannya Ibrahim kecil terpaksa diasingkan/ dibesarkan ibunya di sebuah gua. Kisah Nabi Musa as. dimana juga karena sebuah ramalan, Fir’aun membunuh semua anak laki-laki yang lahir dikerajaannya yang khawatir kekuasaannya terancam. Seperti juga halnya Nabi Musa as., Kreshna mempunyai kekuatan membelah laut, yaitu ketika Kreshna menyelamatkan adiknya Subadra yang dilempar kelaut. Kisah nabi ‘Isa as. yang lahir tanpa pembuahan alami. Wallahu’alam. Dalam Wayang Purwa di Jawa ada kisah para punakawan yang membantu dlam perang Mahabharata seperti Petruk, Gareng dll. Bagi yang tertarik silahkan baca dalam Sejarah panakawan Pewayangan .

Demikianlah beberapa kisah kelahiran fenomenal pandawa korawa, krisna, karna dan drona. Sebuah kisah yang sulit diterima kal bila kita mendengar kisahnya satu abad yang lalu tapi bukan hal yang mustahil bila kita mendengarnya di abad ini. Berbagai macam kelahiran mulai dari tingginya spiritual, berkah, teknologi dan juga dari hasil nafsu yangternyata menghasilkan berbagai karakter unggul dan juga tercela.

PROFIL SEMAR DALAM PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA

PROFIL SEMAR DALAM PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA

Figur Semar dalam pewayangan memiliki peran yang sangat penting meskipun tidak termasuk sebagai tokoh utama. Profil Semar Dalam Pewayangan Sunda dan Jawa ini menarik untuk kita simak dari beberapa versi yang ada. Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan (jawa) atau panakawan (sunda) paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah
Mahabharata dan Ramayana . Semar dikisahkan seorang tua yang bijaksana dan sakti dan konon merupakan perwujudan manusia dari Batara Ismaya yang turun ke bumi. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. Meskipun tokoh ini merupakan sesepuh dari para ksatria dan raja-raja meskipun hidup hanya sebagai kawula atau sebagai rakyat. Bentuk kebijaksanaan, simbol rakyat dan kesederhaan tapi memiliki kekuatan dewa bila diperlukan.
Sejarah Semar
Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana , tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.
Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga . Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.
Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.
Asal-Usul dan Kelahiran Semar
Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.
Dalam naskah Serat Kanda
Dikisahkan, penguasa kahyangan bernama
Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang . Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru . Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.
Dalam naskah Paramayoga
Dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari
Sanghyang Wenang . Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya .
Dalam naskah Purwakanda
Dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba . Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita
Dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.
Silsilah dan Keluarga
Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:
Batara Wungkuham
Batara Surya
Batara Candra
Batara Tamburu
Batara Siwah
Batara Kuwera
Batara Yamadipati
Batara Kamajaya
Batara Mahyanti
Batari Darmanastiti
Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernama Kanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras.
Pasangan Panakawan
Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong . Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng . Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.
Bentuk Fisik Semar
Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.
Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki bagian dada seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.
Keistimewaan Semar
Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.
Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa

Sifat Seseorang Dari Namanya

Ketahui Karakter dan Sifat Seseorang Dari Namanya
Tahu ga sob bahwa nama kamu menunjukan karakter dan sifat kamu sendiri. Hal ini bisa diketahui dari Abjad awal nama kamu sendiri. Jadi buat yang penasaran ingin tahu tentang artikel
ketahui karakter dan sifat seseorang dari namanya bisa membacanya di bawah ini. Tapi berhubung sumbernya belum lengkap mungkn ada satu dua abjad yang tidak tercantum di bawah ini. Mohon maklum saja. Oya berhubung ini Cuma kesimpulan dari rata-rata pendekatan karakter, kalo ga berkenan ya .. Maaf. Hehe..

Nama kamu dimulai dengan huruf A
Kamu tidak terlalu romantis, tapi kamu tertarik dalam bertindak. Artinya bisnis. Bagi kamu, apa yang kamu lihat adalah apa yang kamu dapat. Kamu tidak memiliki kesabaran untuk mengkritik dan tidak dapat diganggu dengan orang yang mencoba terlihat lemah, manis dan menggoda.
Kamu sering tidak mendapat petunjuk dan kamu tidak pernah memberikan petunjuk. Bentuk fisik pasangan sangat penting buat kamu. Kamu melihat proses pengejaran dan 'berburu' sebagai proses yang menarik. Kamu berhasrat, dan menjadi lebih berpetualang daripada kelihatannya, namun, kamu tidak mengiklankan diri sedemikian rupa.
Kebutuhan fisik kamu adalah hal yang terpenting. Kamu cenderung menjadi egois dan tidak emosional. Kamu dan kebutuhan kamu adalah yang terpenting. Yang lain dan perasaan mereka nomor dua. Pilihan kamu tidak terlalu bagus dan sering membawa kamu ke dalam masalah.

Nama kamu dimulai dengan huruf B
Kamu menyerah dalam berbagai hal sensual. Kamu menikmati suasana romantis dan menghanyutkan. Kamu sangat senang menerima hadiah sebagai ekspresi dari pasangan kamu. Kamu ingin di manjakan dan kamu tahu bagaimana memanjakan pasangan kamu.
Kamu merahasiakan ekspresi, terutama dalam hal percintaan. Kamu akan menunda semua sampai kondisi sesuai dengan kriteria kamu. Kamu dapat mengontrol nafsu makan dan perasaan. Kamu membutuhkan sensasi baru dan pengalaman. Kamu sangat ingin bereksperimen.

Nama kamu dimulai dengan huruf C
Kamu adalah individu yang sosial, dan sangat penting untuk kamu memiliki hubungan. Kamu membutuhkan kedekatan dan kebersamaan.
Kamu ingin objek dari pasangan kamu secara sosial dapat diterima dan berpenampilan menarik. Kamu melihat pasangan kamu sebagai teman dan sahabat. Kamu sangat sensual, membutuhkan seseorang untuk menghargai dan selalu memujua kamu. Ketika ini tidak dapat diraih, kamu memiliki kemampuan untuk menunda semua perasaan cinta sampai kamu puas.

Nama kamu dimulai dengan huruf D
Begitu kamu sampai menginginkan seseorang, kamu akan maju dengan gempita dalam mengejarnya. Kamu tidak mudah menyerah dalam perjalanan. Kamu sangat perhatian dan menjaga. Jika seseorang memiliki masalah, kamu sangat ingin membantu. Kamu sangat berhasrat, setia dan serius dalam keterlibatan, dan terkadang posesif dan pencemburu.
Kamu sangat jelas dan berbakat dan memiliki rasa humor yang baik. Ketika orang melihat mata kamu dalam-dalam, mereka tidak dapat menolak apa yang mereka lihat. Kamu dirangsang oleh sesuatu yang diluar biasa dan eksentrik, memiliki sikap terbuka dan bebas. Kamu cenderung menjadi pencemburu terhadap orang lain dan mudah marah.

Nama kamu dimulai dengan huruf E
Kebutuhan terbesar kamu adalah berbicara. Jika pasangan kamu bukan pendengar yang baik, kamu akan mengalami masalah dalam hubungan tersebut. Seseorang harus secara intelektual merangsang atau kamu tidak akan secara seksual menjadi terangsang. Kamu membutuhkan teman untuk cinta dan persahabatan. Kamu membenci ketidakharmonisan dan gangguan, tapi terkadang kamu menyukai argumen yang baik. Kamu sangat menuntut banyak, karena sangat menyukai tantangan

Nama kamu dimulai dengan huruf F
Kamu idealistik dan romantis. Kamu mencari pasangan terbaik yang dapat kamu temukan. Kamu sangat setia, memiliki sensual dan berhasrat. Kamu dapat menjadi suka mempertunjukan kecantikan. Kamu dilahirkan untuk menjadi romantis. Kejadian romantis menjadi favorit kamu. Kamu dapat menjadi pecinta yang murah hati.

Nama kamu dimulai dengan huruf G
Kamu pekerja yang baik, mencari kesempurnaan dalam diri kamu dan pasangan. Kamu merespon kepada pasangan yang memiliki intelektual sama atau lebih baik, dan mereka yang dapat meningkatkan status kamu. Kamu sensual dan tahu bagaimana meraih titik tertinggi dari suatu rangsangan. Kamu dapat menjadi sangat aktif, seakan tidak pernah lelah. Tugas dan kewajiban kamu mengambil alih dari segala hal.

Nama kamu dimulai dengan huruf H
Kamu mencari pasangan yang mampu meningkatkan gairah hidup, kesenangan dan semua yang kamu cari. Kamu akan menjadi sangat murah hati terhadap pasangan apabila kamu mendapatkan komitmen. Kamu sangat kuat dan bakat kamu adalah sebenarnya investasi terhadap partner. Sebelum membuat komitmen, kamu cenderung lebih hati-hati terhadap semua gerakan.
Kamu sangat sensual dan pecinta yang sabar. Kamu perfeksionis, sulit dipuaskan dan kuat dalam kepercayaan sendiri.Orang selalu dapat percaya kapada kamu untuk bertahan dalam krisis. Kamu adalah pemimpi dalam hidup ini.

Nama kamu dimulai dengan huruf I
Kamu memiliki kebutuhan yang besar untuk di cintai dan dihargai. Kamu menikmati kemewahan, sensualitas dan cinta. Kamu mencari kekasih yang tahu apa yang mereka lakukan. Kamu sangat berkeinginan untuk bereksperimen dan mencoab berbagai tipe ekspresi baru.
Kamu mudah bosan dan membutuhkan petualangan dan perubahan. Komitmen yang kamu buat mungkin jarang dipenuhi.

Nama kamu dimulai dengan huruf J
Kamu dipenuhi dengan kekuatan fisik. Jika digunakan untuk hal baik, tidak ada yang dapat menghalangi kamu. Kamu dapat membawa hal romantis dalam pikiran kamu. Kamu juga dapat membawa hubungan jarak jauh dengan mudah. Idealistik dan perlu percaya dalam cinta.

Nama kamu dimulai dengan huruf K
Kamu penuh dengan rahasia dan pemalu. Kamu sexy dan berhasrat, hanya dalam hubungan intim saja bagian alami ini akan muncul. Kamu membawa kehidupan cinta dengan sangat serius dan tidak bermain main. Kamu memiliki kesabaran untuk menunggu orang yang tepat untuk muncul. Kamu suka memberi dan murah hati dan terkadang kurang memperhatikan diri sendiri. Secara alami kamu orang yang baik dan manis, yang menarik banyak orang. Kamu adalah teman yang baik.

Nama kamu dimulai dengan huruf L
Kamu dapat menjadi sangat romantis, memiliki pasangan adalah segalanya bagimu. Kamu bebas dalam mengekspresikan cinta dan berani mengambil kesempatan untuk mencoba pengalaman baru. Kamu perlu merasakan bahwa pasangan kamu secara intelijen menarik, sebaliknya, kamu akan kesulitan untuk menjaga hubungan.

Nama kamu dimulai dengan huruf M
Kamu sangat emosional dan mudah marah. Ketika terlibat dalam hubungan, kamu membuang semua energi ke dalamnya. Tidak ada yang dapat menghentikan kamu. Kamu mengharapkan orang yang sama sama berhasrat dan tekun. Kamu percaya dalam energi yang tidak pernah habis. Kamu senang mengatur pasangan dan sangat imajinatif.

Nama kamu dimulai dengan huruf N
Kamu mungkin terlihat tidak berdosa, tidak terduga dan pemalu, tapi kita tahu bahwa penampilan dapat menipu. Ketika berbicara mengenai cinta, kamu bukanlah pemula. Dengan mudah kamu mendapatkan ide untuk bercinta.
Kamu dapat menjadi kritis terhadap pasangan, mencari kesempurnaan dalam hubungan kamu berdua. Sangat tidak mudah mencari seseorang yang dapat memenuhi standar kamu. Kamu memiliki kesulitan untuk menunjukan emosi. Kamu dapat menjadi egois, berpikir bahwa kamu selalu benar.

Nama kamu dimulai dengan huruf O
Kamu sangat tertarik dalam aktivitas yang
menarik, namun kamu juga dapat menjadi pemalu terhadap keinginan kamu. Kamu dapat mengubah banyak energi untuk menghasilkan uang. Kamu sangat berhasrat, pecinta yang baik, mengharapkan kualitas yang sama dari pasangan. Cinta adalah masalah serius untuk kamu dan kamu mengharapkan keseriusan. Terkadang hasrat kamu dapat berubah menjadi suatu hal positif,

Nama kamu dimulai dengan huruf P
Kamu sangat sadar terhadap masalah sosial. Kamu tidak akan berpikir melakukan apapun yang dapat menjelekan imej atau reputasi kamu. Penampilan diperhatikan. Kamu membutuhkan pasangan yang berpenampilan baik dan pandai. Anehnya kamu sering melihat pasangan sebagai musuh. Kamu sangat sosial dan sensual.

Nama kamu dimulai dengan huruf R
Kamu adalah individu yang selalu menuntut aksi. Kamu membutuhkan seseorang yang dapat sesuai dengan kamu. Kamu menghargai pikiran yang baik daripada segi fisik meskipun, ketertarikan fisik tetap penting bagi kamu. Kamu mungkin tidak menunjukan perasaan cinta dengan jujur, namun cinta adalah sesuatu yang penting untuk kamu.

Nama kamu dimulai dengan huruf Q
"Q" adalah nama yang paling jarang digunakan untuk awalan sebuah nama, biasanya berada pada awalan nama belakang. Bagi yang mempunyai nama awalan ini, biasanya memiliki sifat rendah hati, pendiam, dan sering berimajinasi. Tapi dalam sebuah kelompok, pemegang awalan "Q" bisa dijadikan perencana atau orang yang mengatur sebuah strategi. Tapi dalam dunia percintaan, kamu memiliki kekurangan dalam pengontrolan emosi, pencemburu, dan keras kepala. Satu hal yang unik dalam diri kamu, diantara pemilik awalan huruf yang lain, kamulah yang memiliki nafsu terhadap lawan jenis tertinggi. Hmm..

Nama kamu dimulai dengan huruf S
Buat kamu, adalah kesenangan sebelum bisnis. Begitu kamu membuat komitmen, kamu lengket bagaikan lem. Kamu dapat mudah cemburu dan posesif. Kamu cenderung egois dan senang menjadi pusat perhatian. Kamu sangat sensitif, perhatian dan private. Kamu suka memikirkan hal romantis yang diiringi musik dan lampu yang ringan.

Nama kamu dimulai dengan huruf T
Kamu sensitif dan menyukai pasangan yang dapat mengambil bagian. Kamu cenderung untuk berkhayal dan mudah jatuh cinta. Dalam cinta, kamu romantis dan idealistik. Kamu penggoda yang baik dan yang ada dalam kepala kamu adalah bagaimana kamu dapat membuat hubungan sesuai mimpi. Kamu menyukai jalan sendiri. Kamu tidak menyukai perubahan dan kamu menyukai bergantung dalam kondisi yang sama.

Nama kamu dimulai dengan huruf V
Kamu sangat individualistis dan menghargai kebebesan, ruang dan kesenangan. Kamu menunggu sampai kamu mengetahui orang dengan baik sebelum kamu memberikan komitmen. Kamu tertarik terhadap tipe eksentrik dan percaya umur bukanlah hambatan. Kamu sangat baik dalam menghadapi bahaya dan takut.

Nama kamu dimulai dengan huruf W
Kamu sangat bangga, gigih dan menolak untuk menjawab tidak terhadap pertanyaan. Ego kamu yang mengambil alihsetiap waktu. Kamu idealistik dan merasakan cinta yang sangat dalam, sehingga cenderung mencurahkan diri kedalam hubungan tersebut

Kamis, 25 Mei 2017

Dialektika Wahyu Tuhan dan Nalar Manusia


Disadari sepenuhnya atau tidak, setiap orang merasa unggul di atas makhluk lain. Yakni, dan memang demikian, manusia diciptakan Tuhan secara istimewa di atas semua makhluk lain. Nilai wujud manusia terletak bukan dari sisi kodrat penciptaan semata, tetapi pada tujuan pencipataannya, yaitu mengenal pencipta dan mengabdi padanya. Mengingat sarana yang benar-benar tepat diperlukan untuk mencapai tujuan ini, Dia lantas membekali manusia sejenis ‘utusan’ dalam dirinya yang disebut ‘akal’, sekaligus melengkapinya dengan indera lahiriah dan batiniah yang berfungsi sebagai juru bantu.
Modal keistimewaan yang melampaui semua makhluk lain ini ditanamkan-Nya dalam kemampuan manusia untuk meraih pengetahuan dan pengenalan yang tidak mungkin diperoleh makhluk lain. Itulah sebabnya, bila manusia tidak menggunakan sarana Ilahi ini secara maksimal, niscaya dirinya akan sederajat dengan—bahkan jauh lebih rendah lagi dari—binatang ternak sekalipun:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam keba-nyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah); mereka mempu-nyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah); dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan-nya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A‛raf [7]: 179).
Jelas, indera dan akal juga acapkali menemui jalan buntu sehingga diakui memiliki kelemahan dan ketidakmampuan untuk mengham-parkan seluruh rincian jalan menuju kebahagiaan. Oleh karena itu, mereka juga menaruh harapan pada sarana lain yang representatif, yang mampu memetakan hubungan kehidupan di alam ini dengan di alam lain, juga menunjukkan manusia bentangan jalan ke puncak kesempurnaannya. Sungguh tepat saat pencipta langit dan bumi ini menamakan dirinya ‘Sebaik-baik Pencipta’: Dia telah menutupi semua kekurangan ini dengan fenomen wahyu. Para utusan Tuhan, dengan bermodal bukti-bukti kuat yang mustahil ditembus peluru keraguan, menyatakan diri sebagai penerima pengetahuan wahyuni, untuk kemudian mengajak umat manusia memosisikan wahyu (naql) bersanding erat dengan akal.
Dengan demikian, “utusan-utusan” internal dan eksternal diri manusia pada dasarnya saling menguatkan satu sama lain dengan catatan: pesan dan tuntunan mereka ini dicerna dengan benar (logis) dan baik (metodologis). Akal tak akan enggan menerima pengetahuan wahyuni. Sebaliknya, wahyu pun tidak mungkin membuka diri bilamana akal ditanggalkan, sebab keduanya merupakan bukti Ilahi. “Allah memiliki dua bukti atas manusia: bukti yang tampak dan bukti yang batin. Bukti yang tampak adalah para rasul dan para nabi, se-dangkan bukti yang batin adalah akal.” (Kulaini: Al-Kâfî , jld. 1, “Kitâb al-‛Aql wa al-Jahl”, hadis ke-12, hlm. 60).
Kendati begitu, relasi di antara data-data yang diajukan kedua jenis pengetahuan ini senantiasa menjadi pusat kegelisahan manusia; sejak dahulu sampai sekarang. Tidaklah berlebihan jika sejarah pemikiran manusia disebut juga sejarah gagasan seputar relasi pengetahuan aklani dan pengetahuan wahyuni. Berbagai polemik yang tampak dari produk-produk kedua sumber pengetahuan ini terus menjadi fokus kaum agamawan dan para cendekia. Sebagian kelom-pok berusaha menjatuhkan martabat akal dengan maksud melindungi kehormatan wahyu. Sementara sebagian lain begitu menjunjung tinggi posisi dan superioritas akal dengan cara menjatuhkan wahyu. Ada pula sekelompok yang mengerahkan segenap upaya untuk mendamai-kan kedua sumber pengetahuan tersebut.
Sepanjang sejarah, konflik antara akal dan wahyu memiliki dimensi dan pola yang berbeda-beda, seirama formasi wacana yang populer saat itu. Awalnya, polemik ini mengemuka dalam formasi “filsafat versus agama”. Ajaran-ajaran filosofis—dalam kapasitasnya sebagai data-data rasional yang disusun sistematis—diyakini bertolak belakang dengan ajaran agama. Akibatnya, muncul sekelompok agamawan yang berusaha mati-matian menjadikan ruang lingkup agama steril dari “kuman-kuman” filsafat. Peluru-peluru tudingan dogmatis (hitam-putih) yang mereka tembakkan tak ayal mengham-bur ke mana-mana, hingga menyasar disiplin Logika dan Teologi. Dalam rangka ini, tidak jarang dari mereka menulis buku dan risalah secara khusus; mereka menjuluki ilmu Logika sebagai “pengunyah sisa makanan orang kafir dan ateis Yunani Kuno”. Mereka juga menyerang habis-habisan kaum teolog yang bermaksud merasionalisasi agama dan keberagamaan.
Dalam bukunya, Tahâfut Al-Falâsifah, Ghazali terlihat jelas ingin menunjukkan betapa kasar pergesekan yang terjadi antara konklusi filosofis dengan ajaran wahyu. Belum lagi Ibnu Taimiyah yang secara khusus menulis Nashîhat Ahl Al-Îmân fî Al-Rodd ‘alâ Mantiq Al-Yûnân untuk memperingatkan orang-orang mukmin mengenai bahaya logika Yunani. Sementara muridnya, Ibnu Qayim yang ikut bergabung dengan kelompok penghujat Logika (Ibnu Qayim Jauzi: Miftâh Dâr Al-Sa‘âdah , hlm. 189).
Perlu digarisbawahi, hujatan-hujatan ini pada dasarnya tidak diarahkan pada akal per se; melainkan dapat dipandang sebagai serangan terhadap ajaran-ajaran tertentu yang, oleh pendukungnya, dianggap sebagai data-data rasional. Untuk lebih jelas lagi, para kritikus itu mengatakan, “Apa yang kalian sebut ‘filsafat’ tidak lebih dari hasil spekulasi, asumsi, dan pemitosan; bukan produk akal, argumentasi, dan penelitian.”
Dari sudut yang lain, kalangan sufi juga menghujat akal dan argumentasi filosofis. Dalam pandangan mereka, semua itu berten-tangan dengan gairah percintaan yang merupakan inti dari sensasi religius. Pada hemat mereka, argumentasi tidak ada gunanya. Akal dan argumentasi ibarat tongkat di tangan tunanetra; niscaya kurang berarti kalau saja tak dibantu juru yang melihat dan mengenal jalan.
Sebaliknya, kalangan filosof Muslim mengerahkan segenap kekuatan untuk membuktikan keselarasan filsafat dengan agama. Menurut mereka, memperkarakan Yunani sebagai asal-usul filsafat guna dijadikan alasan untuk menentang filsafat merupakan bentuk dari kedangkalan berpikir. Meski begitu, mereka juga mengakui sejumlah kekeliruan tak disengaja yang terdapat dalam pengetahuan manusia. Karena itu, mereka berupaya meminimalisasi kekeliruan para filosof terdahulu dan semaksimal mungkin mengharmonikan filsafat dengan ajaran Islam. Dalam filsafat Shadrian (Mulla Shadra), usaha ini tampak mencapai puncaknya. Dia memproklamirkan Hikmah Muta‘aliyah sebagai ejawantah dari integralitas Al-Quran, irfan (penyingkapan batin), dan burhân (demonstrasi). Filosof besar ini mengatakan, “Mustahil hukum-hukum agama Ilahi yang haq dan cemerlang akan bertentangan dengan pengetahuan pasti (yaqînî) dan jelas (dharûrî). Celakalah filsafat yang hukum-hukumnya tidak selaras dengan Al-Quran dan Sunah!”
Di Barat, nasib akal dan wahyu juga nyaris mirip dengan yang dialami di dunia Islam. Bedanya, penolakan terhadap akal dan ajakan kaum agamawan kepada iman minus akal (reasoning) telah me-representasi gereja sebagai institusi keagamaan yang antiakal. Ini lantaran mata ajaran agama Kristen sudah berubah, dan sama sekali tidak memiliki sangkut-paut genealogis dengan wahyu suci Al-Quran. Karenanya, dapat dibedakan: mana ajaran-ajaran suci samawi dan mana ajaran-ajaran manusiawi yang bersifat profan; juga mana yang berlandas asas Tauhid dan mana yang berdasar doktrin Trinitas. Atau, mana agama yang mengajarkan, “Siapa yang lebih giat menggunakan akalnya, tentu lebih banyak ibadahnya,” (Hadis Nabi Saw, “Siapa saja dari kalian yang lebih kuat akalnya, niscaya takutnya kepada Allah lebih dahsyat.” (M. Faidh Kasyani:
Al-Mahajjah Al-Baydhô’ fî Tahdzîb Al-Ihyâ’ , jld. 1, hlm. 172).) dan mana agama yang menyakinkan, “Iman yakni tersalibnya akal.” (R. Rerneaux & J. Wahl: Padidorsyenosi va Falsafeh0-ye Hast Bûdan , hlm. 129). Secara prinsipal, Islam adalah agama kontemplasi dan pemikiran.
Polemik akal dan wahyu ini terus berlanjut di dunia kontemporer, dan kali ini berlangsung antara sains versus agama. Sebagian data yang disodorkan oleh sains dan ilmu-ilmu empiris dianggap melawan pengetahuan wahyuni. Akibatnya, muncul perdebatan sengit di ka-langan agamawan, baik di Timur maupun di Barat. Namun, yang paling bermasalah dengan oposisi biner sains-agama ini justru kala-ngan agamawan di Barat. Sepanjang Abad Pertengahan, pengetahuan nonwahyu sudah banyak dihasilkan. Namun, menjamurnya penge-tahuan nonwahyu ini kontan mengganggu lingkungan gereja, karena apa yang selama ini mereka anggap sebagai bagian dari agama ternyata tidak relevan dengan data yang diajukan sains modern.
Pada masa berikutnya, yakni abad pasca-Renaisans, Rasionalisme menggejala dan melawan gereja yang antiakal. Puncak kebangkitan itu ditandai dengan kelahiran sejumlah isme seperti: Evidensialisme. Mereka begitu jauh memuja akal, sampai-sampai memosisikannya di tampuk ketuhanan, “Wahai alam! Wahai raja alam semesta! Dan engkau, wahai Keutamaan dan Akal serta Hakikat sebagai tuhan termulia … jadilah tuhan kami selama-lamanya” (I. Barbour: ‘Elm va Din, hlm. 77).
Keberpihakan pada akal yang terlalu rigid dan berlebihan ini bukan hanya mengusik tokoh-tokoh gereja, tetapi juga para pujangga dan seniman Barat. Mereka menuntut jatah ruang untuk hati yang diabaikan dan memandang akal sebagai tamu tak diundang; bahkan mengecam akal yang disebut-sebut hanya punya keterampilan satu-satunya, yakni mencoreng keindahan dan kebaikan. Sekarang ini, kita dipusakai sejarah agung pemikiran manusia. Dan, tak ada yang lebih mendesak kita selain berusaha sekuat tenaga untuk terjun ke medan ini seraya mencari terang di sudut-sudut pembahasan yang masih gelap.

Agama, Suatu Kebutuhan atau Keharusan


Satu berita yang menggemparkan beberapa bulan yang lalu yang pernah di muat oleh media nasional Jawa Pos klik di sini. Seorang kiai di sebuah pesantren di Bondowoso, Jawa Timur di kabarkan melakukan tindakan asusila terhadap bebarapa orang santriwatinya. Dan luar biasanya itu dilakukan selama bertahun-tahun.
Kiai (maaf tidak saya sebutkan disini) dalam modusnya memanggil santriwa tinya ke kediamannya. Lalu, kiai tersebut mengatakan akan membebaskan orang tua korban dari pengaruh ilmu magic atau ilmu hitam. Saat itu korban mengiyakan untuk meminta bantuan sang kiai menghilangkan ilmu hitam, tiba tiba korban sudah tidak sadar dan berada di dalam kamar sang kiai. Dan selanjutnya, bla blaaa blaaaaa

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika membaca kasus tersebut?
Kasus yang saya nukil diatas hanyalah satu contoh dari begitu banyak penyelewengan oleh orang-orang beragama dengan mengatas namakan agamanya. Maka sebuah pertanyaan besar menggelayuti kepala kita. Mengapa agama tidak juga memberikan perubahan perilaku kepada orang-orang yang konon sudah menjalankannya bahkan “berani” mengajarkannya kepada orang lain, sesuai dengan gelar yang dia sandang, kiai?
Saya rasa ini tentu sangat bertentangan dengan logika agama itu sendiri. bukankah agama apapun senantiasa mengajarkan kebaikan?
Bukankah keberagamaan mestinya memiliki korelasi yang positif dengan peningkatan perilaku seseorang?
Bukankah shalat itu mestinya mencegah perbuatan keji dan munkar?
Teorinya sih begitu. Namun praktiknya bisa sangat berbeda. ini adalah persoalan paradigm yang berasal dari cara pandang kita yang salah terhadap agama. Sepanjang cara pandang ini diubah jangan pernah berharap ada perubahan yang berarti dalam tingkah laku kita.
Realitanya, sebagian besar kita beranggapan bahwa agama merupakan seperangkat peraturan yang harus ditaati oleh para pemeluknya. Bahkan kalau lebih ekstrim paradigma tentang agama adalah urusan boleh dan tidak boleh, halal dan haram.
Paradigma seperti ini tentu saja tidak salah. Hanya kurang lengkap saja. Agama memang mengatur boleh dan tidak boleh, tapi itu hanyalah satu bagian saja dari agama. Memahami agama dengan cara ini akamn membuat spirit agama tereduksi menjadi sangat minim, seolah-olah agama hanyalah seperangkat aturan dariluar yang bertujuan untuk membatasi perilaku manusia.
Padahal spirit beragama sangat jauh lebih besar daripada itu. Spirit agama adalah mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, agama sebenarnya hanyalah sebuah alat bantu untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Dari apa yang saya tulis diatas, kita akan menemukan perbedaan yang mendasar. Pendekatan halal haram menurut saya adalah pendekatan dari luar ke dalam. Pendekatan ini merupakan cirri khas pendekatan hukum. Dan yang kita tahu pendekatan hokum memang senantiasa bersifat memaksa. Dan inilah yang membuat perubahan perilaku tidak berlangsung secara “sukarela”. Kita tidak melakukan sesuatu karena kesadaran kita tetapi lebih karena rasa takut.
Pendekatan hukum juga memiliki sifat mengikat orang. Padahal yang dicari setiap manusia justru adalah kebebasan, bukan keterikatan. Oleh karenanya, orang memiliki kecenderungan untuk mengakali hokum, dan mencari peluang untuk lolos dari jerat-jerat hukum.
Agama semestinya menjadi alat bantu untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Agama mestinya diposisikan sebagai alat bantu bukan sebagai sesuatu yang membatasi ruang gerak manusia. Bertelekan dari pemahaman inilah sikap manusia kepada agama pun akan berubah. Agama menjadi suatu kebutuhan bukannya sebuah keharusan.
Ilustrasinya adalah seperti kalau kita makan. Adakah orang yang menharuskan kita makan? Maukah kita dipaksa untuk makan? Saya rasa tentu tidak?
Kita makan karena kita butuh makan. Karenanya, ada atau tidak ada orang sekalipun kita akan tetap makan. Itulah pemahaman seperti inilah mestinya yang lebih sesuai dengan fuitrah kemanuasiaan.
Hal ini juga berkaitan erat dengan konsekuensinya. Kalau kita tidak makan, konsekuensinya kita akan lapar. Kalau kita makan kita akan kenyang dan menikmatinya. Jadi, konsekuensi ini kita dapatkan sekarang juga, bukannya di akhirat nanti!
Terlepas dari agama adalah suatu kebutuhan atau keharusan, senyatanya agama hanya kita pamahi sebagai serangkaian kewajiban, peraturan, dan keharusan. Agama tereduksi menjadi sekedar acara seremonial, menjadi sekadar upacara. Banyak diantara kita yang melakukan ibadah tanpa benar0benar menyadari dan memahami apa yang sesungguhnya sedang kita lakukan.
Dan yang terakhir, sepanjang agama masih kita pandang sebagai keharusan dan bukannya kebutuhan, selama itu pula agama tidak akan pernah menjadi keseharian kita. Dan selama itu pula perilaku yang kita harapkan tidak akan pernah terjadi.
Mohon maaf jika ada kesalahan tulisan atau kalimat yang mengandung tendensi, semua tak lepas dari ketidaktahuan saya. Wassalam. Terima kasih

Minggu, 21 Mei 2017

Gunung Wayang lewat Sasakala

Gunung Wayang lewat Sasakala (dalam bahasa sunda sasakala sering dikaitkan dengan asal-usul suatu kejadian baik tempat maupun perbuatan) Gunung Wayang. Nji Anah, juru mamaos Cianjuran dan penulis dari Cianjur, pernah menulis pupuh yang kemudian menjadi buku panduan wisata berjudul 'Beschrijving van Pangalengan en Omstreken'. Dalam buku tersebut, Nji Anah tak lupa mencantumkan Sasakala Gunung Wayang. Berikut kisahnya:
Tersebutlah seorang keturunan Ratu yang bernama Pangeran Jaga Lawang. Dalam kehidupannya ia sering bersemedi di puncak Gunung Wayang yang sunyi. Sang Pangeran mempunyai seorang puteri cantik tiada tandingannya. Puteri Langka Ratnaningrum, namanya. Ia sudah mempunyai calon, pemuda keturunan Galuh. Gagak Taruna, namanya, yang sedang menempa diri dengan melakoni hidup bertani di lembah Ci Tarum yang subur. Pemuda yang rajin, siang bertani, malam bersemedi.
Padi tampak subur dan hasilnya pasti akan jauh lebih banyak dari panen musim lalu. Maka disepakati untuk segera menikah dengan puteri pujaan hatinya. Seperti biasa, ia sering bersemedi di makam Nyi Kantri Manik di hulu Ci Tarum. Malam itu terlihat datang gadis cantik yang tiada taranya. Gagak Taruna kaget. Diam-diam ia jatuh hati kepada gadis itu, namun si cantik segera menghilang di mata air. Sadar itu sekedar godaan, maka ia segera pulang. Namun pikiran dan hatinya masih terus terpaut kepada si cantik di hulu Ci Tarum.
Padi sudah menguning, tapi belum juga dipanen. Rupanya Gagak Taruna sedang kasmaran kepada bayangan si cantik. Semua merasa aneh, karena Sang Pangeran terlalu sering bersemedi di hulu Ci Tarum begitu magrib menjelang. Bukan tiada yang mengingatkan, namun pemuda itu sudah terpincut senyum yang sangat memikat. Nyi Kantri Manik asalnya gadis yang cantik yang sakit hati hingga meninggalnya karena pemuda pujaan calonnya tidak menepati janji untuk bersatu. Kini ia selalu membalas dendam dan membenci semua lelaki yang lengah.
Sang Pangeran selalu diingatkan agar segera mempersiapkan diri karena waktu pernikahan sudah dekat. Padi yang sudah lama matang kemudian dipanen. Persiapan menikah besar-besaran sudah dipenuhi. Ketika waktunya tiba, iring-iringan seserahan bergerak menuju puncak Gunung Wayang tempat calon mertuanya berada.
Setelah calon pengantin pria dirias, ia memohon diri untuk melakukan nadran ke hulu Ci Tarum. Sesampainya di sana, ia menyuruh pengiringnya mundur dan segera menuju puncak Gunung Wayang, karena ia akan segera menyusul. Setelah kembang rampe, melati dan campaka ditebar, di seberang terlihat Nyi Kantri Manik tersenyum memikat. Dengan sigap Gagak Taruna berdiri, berjalan menuju ke tempat senyuman yang terus mengembang. Gagak Taruna terus berjalan di dalam air menuju bayangan hingga akhirnya tenggelam.
Di tempat calon pengantin wanita, semua gelisah menunggu, ke mana Gagak Taruna? Rombongan yang menyusulnya mendapatkan Sang Pangeran sudah mengambang. Pangeran Jaga Lawang sangat prihatin. Ia melampiaskan rasa dukanya itu dengan mengobrak-abrik apa yang ada di dapur. Hawu/tungku dilemparkan dan perabot dapur dibanting. Makanan yang dimasak dilemparkan sampai habis, maka terbentuklah kawah Gunung Wayang.
Air yang mendidih dengan lalab-lalabannya dilemparkan membentuk kawah Cibolang di Gunung Windu.Puteri Langka Ratnaningrum sangat bersedih, lalu berjalan tak tentu arah. Ternyata ia sudah berada di dalam hutan. Air mata darah terus mengucur. Itulah yang kemudian membentuk air terjun Cibeureum di Gunung Bedil. Nayaga yang masih berharap Sang Pangeran datang tak mau pergi, maka berubahlah mereka menjadi arca. Sebagian alat-alat tabuhnya dilemparkan, di antaranya membentuk Gunung Kedang. Mayit Gagak Taruna dikubur di hulu Ci Tarum. Sementara itu Pangeran Jaga Lawang menempa diri menyepuh hati, menghyang di Gunung Seda, ia selalu menanti putri yang dicintainya segera pulang.
Maka janganlah merasa heran, bila pada malam bulan purnama sering terdengar sayup-sayup bunyi gamelan. Itulah prosesi penyambutan pengantin pria. Bila terlihat asap Gunung Wayang mengepul berlapis-lapis, itu artinya keluarga pengantin perempuan sedang sibuk memasak.