Minggu, 18 Februari 2018

Asal orang sunda

Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang Aria ?

Pengantar Redaksi:
“Ada beberapa teori tentang dari mana asal orang-orang Nusantara datang? Dari Yunan China Selatan?, Atau Dari Persia, Iran Utara? Atau yang dari utara ini cuma arus balik mudik pulang kampung warga Sundaland ke tanah airnya yang sejati Puluhan ribu tahun yang lalu (antara 200.000 sd 75.000 tahun yang lalu sebelum Ledakan Supervulcano Gunung Toba dan Karakatau) ?? Hi[potesi di bawah ini, mirip dengan argumen hipotetis yang dikemukankan oleh salah seorang peneliti Melayu dari Malaysia, Al-Semantani.” (Ahmad Y. Samantho)
Fakta sejarah ?
Asal Usul Orang (Suku) Sunda Adalah Suku Pendatang
Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan. benarkah itu ? (Ada sebuah fakta yang dapat dianggap dongeng tapi perlu kita cermati dengan seksama).
Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib. Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).
Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan. Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).
Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhanratu (sekarang). ﺁ Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya. Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat “sesembahan” orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi †ﮎ sesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya.
Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem “sesembahan” yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.
Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata . Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau †ﮎ maung’, tapi †ﮎ sima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.
Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan †ﮎ tata – subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongo†fungsinya sebagai †ﮎ mnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.
Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang (Atlantis) ?
Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga).
Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf †ﮎ hunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.
Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba †ﮎ trappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru. Apa ada hubungannya dengan Sunda ?
Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.
Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis — yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol — ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.
Seperti uraian benarkah orang Sunda pendatang atau benarkah Parahiangan pusat Atlantis ? Di sini, silahkan sidang pembaca untuk menilai lebih jeli kebenaran yang ada, karena benar adalah benar ia harus absolut tidak relatif.
Sumber :
sundasamanggaran.blogspot.com

Sejarah kecamatan leles

Sejarah Kecamatan Leles

A. ASAL USUL
Pada saat Ibukota Kabupaten Bl. Limbangan berpindah ke Garut pada tahun 1812 dimana kemudian Leles menjadi Ibukota Kewedanaan yang membawahi Kecamatan Leles, Kadungora, Banyuresmi dan Bl. Limbangan.
Leles merupakan penyangga Ibukota Kabupaten dimana tamu-tamu penting pada saat itu masuk melalui jalan raya maupun kereta api
( dapat dilihat stasiun kereta api yang ada di Kadungora sampai saat ini namanya stasiun Leles ). Sehingga Bupati Garut pada saat itu dan DN Rafles menganggap bahwa infrastruktur Leles harus diperbaiki dan dibenahi maka terlontarlah kata-kata dengan menggunakan bahasa Sunda yang tidak pasih berulang-ulang mengatakan LES dengan maksud dipoles, maka sejak itulah Leles ( pada saat Kewedanaan ) kini menjadi Kecamatan Leles.
Sekitar tahun 1900, oleh pemerintahan Belanda, wilayah Leles ditentukan mempunyai 9 Desa, yaitu Desa Leles, Desa Lekor, Desa Jangkurang, Desa Cangkuang, Desa Margaluyu, Desa Margacinta, Desa Karang Sari, Desa Dungusiku, dan Desa Leuwigoong, hal ini berlanjut sampai tahun 1979. Namun pada tahun 1979, Kecamatan Leles terjadi pemekaran Desa dari 9 menjadi 16 Desa yaitu : Desa Leles Wetan, Leles Kulon, Lembang, Cipancar, Jangkurang, Dano, Cangkuang, Margaluyu, Sukarame, dan Margacinta, Margahayu, Dungusiku, Karang Anyar, Karang Sari, Leuwigoong dan Sindangsari. Pada tahun 1981, dibentuklah perwakilan Kecamatan Leles (Kapermat atau Kemanten) yaitu Kemantren Leuwigoong.
Pada tahun 1986, Kecamatan Leles dengan Kemantren Leuwigoong resmi terpisah dimana Leuwigoong diresmikan menjadi Kecamatan dengan membawahi 7 Desa yaitu, Desa Leuwigoong, Sindangsari, Dungusiku, Margacinta, Margahayu, Karang Anyar dan Karangsari dan sejalan dengan hal tersebut pada Kecamatan Leles terjadi pemekaran jumlah desa dari 9 menjadi 12 desa yaitu Desa Leles dan Haruman (asal Desa Leles Wetan), Desa Ciburial dan Salamnunggal (asal Desa Leles Kulon), Desa Cipancar dan Kandang Mukti (asal Desa Cipancar), Lembang, Jangkurang, Dano, Cangkuang, Margaluyu dan Sukarame.
Ketika kewedaan Leles berubah menjadi Pembantu Bupati Wilayah III Leles, Kecamatan Leles tidak berubah statusnya sebagai Ibukota atau pusat pengendalian wilayah bahkan hingga berubah dari Pembantu Bupati menjadi Koordinator Wilayah III pun Kecamatan Leles tetap menjadi Pusat Kegiatan wilayah.
Kecamatan Leles adalah satu dari 42 Kecamatan yang merupakan tipe pola A di Kabupaten Garut dan berjarak + 14 KM dari
Ibukota Kabupaten,secara admnistrasi Kecamatan Leles membawahi 12 Desa
Kecamatan merupakan perangkat daerah Kabupaten yang mempunyai wilayah kerja tertentu, dipimpin oleh seorang Camat yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Kecamatan Leles Kabupaten Garut yang berlokasi di Jl. Raya Leles No.27 yang di bentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 27 Tahun 2008 tentang Susunan Organisasi Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Kabupaten Garut Tahun 2008 Nomor 42) dalam mendukung Visi Kabupaten Garut yaitu “Pengaruh keutamaan Pembangunan Kesejateraan Masyarakat Secara Berkelanjutan Guna Mempercepat Pencapaian Visi Garut Tahun 2009’’, dan Visi Pemerintah Kabupaten Garut “Terwujudnya Garut yang Mandiri dalam Ekonomi, Adil dalam Budaya dan Demokratis dalam Politik menuju Ridho Allah SWT”, maka Kecamatan Leles Menetapkan Visi “Terwujudnya masyarakat yang agamis sejahtera bersatu menuju Leles maju”

Sejarah terbentuknya kabupaten garut

Kabupaten Garut terbentuk akibat pembubaran Kabupaten Limbangan tahun 1811 oleh Daendles. Pembubaran tersebut, karena produksi kopi Kabupaten Limbangan menurun sampai 0 %, akibat bupatinya menolak untuk menanam nila (indigo).
Tanggal 16 Februari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang dijabat oleh Raffles (Inggris) mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan dengan ibu kota di Suci, tetapi sebagi Kota Kabupaten, Suci dinilai tidak memenuhi syarat, karena wilayahnya sempit.
Pada tahun 1813, Bupati Limbangan yaitu Adipati Adiwijaya (1813 - 1831) membentuk panitia untuk mencari lokasi yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Akhirnya panitia menemukan lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki sumber mata air dan sungai yaitu; Cimanuk dengan pemandangan yang indah dikelilingi gunung, seperti: Gunung Cikuray, Papandayan, Guntur, Galunggung, Talaga Bodas dan Gunung Karacak.
Pada saat terdapat situ keci l yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), dan seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya "kakarut".
Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut". Sejak sa at itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan situnya disebut "Ci Garut". Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu
dikenal dengan nama Garut. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.
Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun- alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat "Babancong" tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik.
Akhirnya Ibukota limbangan pindah ke Garut sekitar tahun 1821. Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913.
Bupati yang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871 - 1915). Kota Garut meliputi tiga desa, yaitu Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati serta Kabupaten Garut terdiri dari Distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.
Pada tahun 1915 RAA Wiratanudatar diganti oleh Adipati Suria Ka rta Legawa (1915- 1929) dan tanggal 14 Agustus 1925, Gubernur Jenderal memutuskan Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Pada tahun 1929 Adipati Suria Karta Legawa diganti oleh Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa (1930 - 1942).
Pola masyarakat yang heterogen sebagai akibat arus urbanisasi, adanya Keanekaragaman masyarakat dan pertumbuhan Kota Garut, maka awal abad ke- 20 dilakukan usaha - usaha perkebunan dan objek wisata di daerah Garut. Dengan dikembangkan Garut sebagai kota wisata, maka Pembukaan perkebunan- perkebunan tersebut diikuti pula dengan pembangunan hotel-hotel pada Tahun 1917.
Di luar Kota Garut juga dibangun Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan di Cisurupan, Hotel Melayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Samarang dan Hotel Cilauteureun di Pameungpeuk. Berita tentang Indahnya Kota Garut tersebar ke seluruh dunia, yang menjadikan Kota Garut sebagai tempat pariwisata.

Asal kata santri kyai pesantren sunan dan guru

ASAL MULA KATA SANTRI, KYAI, PESANTREN, SUNAN, WALI DAN GURU

Kata SANTRI
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti [n] (1) orang yg mendalami
agama Islam; (2) orang yg beribadat dg sungguh-sungguh; orang yg saleh. Akan tetapi saya punya definisi berbeda arti dari santri tersebut menurut saya, Makna Santri adalah bahasa serapan dari bahasa inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu SUN dan THREE yang artinya tiga matahari. matahari adalah titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yg mendatangkan terang dan panas pd bumi pd siang hari. seperti kita ketahui matahari adalah sumber energi tanpa batas, matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan dan semuanya dilakukan secara ikhlas oleh matahari. namun maksud tiga matahari dalam kata SUNTHREE adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren menjadi seorang santri yang dapat beriman kepada Allah secara sungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan islam. serta dapat berbuat ihsan kepada sesama.
Namun para ilmuan tidak sependapat dan saling berbeda tentang pengetian santri. Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’, ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’. Selain itu, pendapat lainya meyakini bahwa kata santri berasal dari kata ‘Cantrik’ (bahasa sansekerta atau jawa), yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi yang lainya menganggap kata ‘santri’ sebagai gabungan antara kata ‘saint’ (manusia baik) dan kata ‘tra’ (suka menolong). Sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Dalam praktik bahasa sehari-hari, istilah ‘santri’ pun memiliki devariasi yang banyak. Artinya, pengertian atau penyebutan kata santri masih suka-suka alias menyisakan pertanyaan yang lebih jauh. Santri apa, yang mana dan bagaimana?
Ada santri profesi, ada santri kultur. ‘Santri Profesi’ adalah mereka yang menempuh pendidikan atau setidaknya memiliki hubungan darah dengan pesantren. Sedangkan ‘Santri Kultur’ adalah gelar santri yang disandangkan berdasarkan budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, bisa saja orang yang sudah mondok di pesantren tidak disebut santri, karena prilakunya buruk. Dan sebaliknya, orang yang tidak pernah mondok di pesantren bias disebut santri karena prilakunya yang baik. Dari segi metode dan materi pendidikan, kata ‘santri’ pun dapat dibagi menjadi dua. Ada ‘Santri Modern’ dan ada ’Santri Tradisional’ – Seperti juga ada pondok modern dan ada juga pondok tradisional. Sedang dari segi tempat belajarnya, ada istilah ‘santri kalong’ dan ‘santri tetap’. Santri kalong adalah orang yang berada di sekitar pesantren yang ingin menumpang belajar di pondok pada waktu- waktu tertentu.
Walapun ketika kembali kemasyarakat santri tidak semuanya berprofesi jadi kyai maupun ustadz, ada yang berprofesi sebagai karyawan, pengusaha, pedagang dan banyak lainya, namun diharapkan santri tetap menjadi santri walaupun hanya berprofesi sebagai pedagang, jadilah pedagang yang benar ala santri. Saya punya satu lagi definisi kata santri yaitu serapan dari bahasa jawa / melayu yang bersal dari kata ngantri, memang tak dapat dipungkiri bahwa dikehidupan sehari-harinya seorang santri tidak luput dari ngantri entah itu mandi, makan, BAB, nyuci dan lain sebagainya Begitulah kira-kira arti santri, mungkin diantara pembaca ada yang ingin memberikan definisi lain dari santri.
Menurut guru saya, asal kata santri itu dari gabungan kata san dan tri, san dari kata insan= manusia, sedang tri=tiga, Menurut istilah santri adalah manusia yang melaksanakan 3 hal (Islam, Iman dan Ihsan). Menilik dari istilah ini, maka manusia yang dikatakan santri merupakan orang yang sudah sempurna atau kaaffah. Sedang dalam kehidupan sehari-hari kata santri dipergunakan sebagai istilah orang yang belajar melaksanakan 3 hal tersebut diatas, maka ini sebenarnya tidak tepat, yang tepat ya belajar menjadi santri. Mohon maaf bila keliru.

KYAI
Kata, Kyai atau Kiyai, disinyalir sudah lama digunakan, jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Sejak kebudayaan china menyebar di Indonesia. Istilah ini dibentuk dari dua kata, yaitu “Ki” dan “Yai”. “Ki” adalah sebutan untuk laki-laki yang dituakan, dihormati atau memang sudah tua. Sedang “Yai” adalah kata yang asalnya dari dialek daerah-daerah asia tenggara Indochina, yang terpengaruh bahasa sanskrit dan Pali. “Yai” artinya besar, luas, atau agung. Kata ini masih digunakan di thailand, burma, kamboja. Dan jawa kuno. Maka, jika digabung, Kiyai berarti seorang laki-laki yang dihormati. Dalam segala kapasitas. Bukan hanya bidang “agama” saja.
Ini memang sebutan bagi pemimpin atau tetua, di masyarakat lampau. Terutama jawa. Meskipun oleh Belanda, kemudian disebar ke daerah lain. Jika di Sunda, dikenal kata “Ajengan” untuk menyebut seorang yang dihormati. Di Aceh, ada “Teungku”, di Sumatera Barat “Buya” di Sulawesi Selatan, ada “Tofanrita”, di madura “Bendara, Bindara, atau Nun” dan di Nusatenggara dikenal sebutan “Tuan Guru”.
Awalnya, di Jawa dikenal sebutkan untuk seseorang yang dihormati dengan “Panembahan”, Ki ageng juga ki gede. Yang sifatnya spiritual-politis. Lalu penyebutan, Kiyai diberlakukan kepada benda dan fenomena yang spiritualistik, mistik dan dihormati secara cultural. Seperti pusaka,simbol-simbol budaya, hewan-hewan yang disucikan atau makhluk ghaib yang mendiami sebuah tempat yang disakralkan.
Ketika masa awal kolonial, sebutan ini dipergunakan oleh belanda utk disematkan kepada pejabat-pejabat politiknya dan disebar di daerah lain. Maka di kalimantan selatan di kenal istilah Kiyai, merupakan pangkat bagi pegawai negeri setingkat wedana, hingga demang. Bahkan, di sumatera Barat, juga ada gelar “Kiyai” diperuntukkan bagi keturunan tionghoa yg sudah tua, dihormati. Biasanya berjenggot panjang.
Dari masa kolonial itulah kemudian, penggunaan kata kiyai, merambah ranah lain. Lalu diperuntukkan bagi seorang yang pandai ilmu “agama”. Padahal, semasa walisongo, dan awal penyebaran islam di jawa, ada sebuah istilah utk menyebut seorang yg kompeten di ilmu agama, yaitu sunan. Sunan adalah kependekan dari susuhunan. Ada yang menafsir, kata ini maksudnya adalah susunan, yang dimaksud adalah susunan jari sepuluh. Yaitu merujuk pada sikap tangan ketika menghadap seseorang yang dihormati pada posisi di depan wajah, atau dada. Kata lainnya “menyembah”.
Versi lain juga menyebut, kata susuhunan, berakar dari kata “Susuh” yaitu sarang burung. Perlambang rumah kosmologis yang tinggi. Sarang burung diidentikkan dengan rumah kasih sayang yang posisinya di ketinggian, senada dengan gambaran kosmologi jawa tentang swargaloka. Pendapat lain lagi, susuhunan yang kemudian disingkat menjadi sunan itu adalah hasil bias fonem dari kata suwun, sinuwun, sinuwunan. Suwun itu minta, sinuwun itu yang dimintai, sinuwunan adalah permintaan. lalu beberapa suku kata lebur hingga berubah menjadi susuhunan. Kata sunan ini menjadi predikat, bagi seorang yg dihormati dengan kapasitas keilmuan Islamnya. Populer bersamaan dengan diserapnya kata wali. Semasa kolonial-lah, kemudian kata sunan menjadi “atasan” terhadap sebuah kata yang dialih sematkan dari benda/fenomena ke manusia, Kiyai.
Sejak saat itu, Kiyai populer sebagai predikat subordinat dari sunan & wali, utk gelar bagi seorang laki-laki yg dihormati karena ilmu agama. Gelar ini bersanding dengan julukan pusaka seperti keris, tombak, dan juga hewan-hewan tertentu, yang masih dipakai di keraton jawa. Di kalangan betawi, yang tadinya populer menyebut seorang ahli agama sebagai “guru”, akhirnya ikut ketularan. Ada Guru Mughni di kuningan, Guru Marzuki di jatinegara, Guru Udin di Kalibata Pulo & Guru Amin di Kalibata. penyebutan ahli agama di betawi. Lantas di kemudian hari, kalangan ulama betawipun turut serta menggunakan kata Kiyai sebagai gelar. Buya Hamka pernah mengemukakan bahwa pada tahun 1960-an, gelar guru masih dipakai di betawi, hingga orde baru akhirnya kata kiyai dipakai.
Barangkali, gelar Kiyai ini memang sudah terlanjur dinikmati, hingga riwayat etimologinya pun dilupakan. Muncul paradoks dimana-mana. Maka ketika sampeyan ke Yogya untuk menghadiri acara sekatenan, disana ada gamelan Kiyai sekati. Benda bukan manusia. Juga jgn kaget dengan pusaka jaka tingkir yaitu tombak kiyai plered, serta dgn Bendera keramat keraton yogya yg bernama Kiyai tunggul wulung. Di keraton solo, ada kerbau yang spesial, bernama Kiyai Slamet, keturunan kerbau bule milik Sultan Agung Hanyakrakusumo.
Dari penelusuran pustaka dan dengar sana-sini, inilah sekelumit etimologi kata kiyai berikut pemakaiannya. Bukan untuk mendesakralisasi peran “penghulu agama” di pesantren dan lainnya tapi hanya membedah tafsir asal-usul kata. Setidaknya, ketika berbahasa dan mengenakan kata pada ujaran atau tulisan, telah mengerti riwayatnya. Bahwa Islam itu nilai yang semestinya tidak didekonstruksi lewat label-label yang justru tidak selalu senada dengan irama nilainya.

Misteri Jejak Wali
Kebanyakan orang Islam percaya, kata WALI berasal dari kata Arab Walīyu yang artinya pelindung atau kepercayaan. Walīyu ‘llāh artinya pelindung Allah atau kepercayaan Allah. Benarkah Wali adalah Walīyu ‘llāh?
Di Nusantara ada banyak Kiai. Apabila WALI adalah Walīyu ‘llāh, maka semua umat Islam khususnya semua Kiai, terutama yang masyhur pasti disebut WALI. Namun, hal demikian tidak terjadi. Di Nusantara, di antara banyak Walīyu ‘llāh hanya ada sembilan orang Wali (Wali Songo). Itulah bukti bahwa WALI bukan Walīyu ‘llāh.
Ketika Raden Patah, Sultan Demak mengutus Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat untuk memanggilnya menghadap ke Demak, Syek Siti Jenar menolaknya mentah-mentah. Tindakan demikian adalah bukti dia menyangkal kedaulatan kesultanan Demak dan kepemimpinan Raden Patah.
Atas pembangkangannya, alih-alih berang lalu mengirim pasukan, Sultan Demak justru mengutus lima orang Wali yang diusulkan oleh Sunan Gresik yaitu Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Sunan Kudus dan Sunan Geseng untuk mengunjungi Syekh Siti Jenar di desa Krendhasawa, Lemah Abang. Kekuatan apakah di belakang Syekh Siti Jenar yang membuat Sultan Demak gentar dan tidak berani gegabah?
Di desa Krendhasawa Lemah Abang, konon, setelah melalui perdebatan yang panjang, Wali Songo yang diwakili oleh lima orang Wali pun menjatuhkan hukuman mati dengan minum tirta marta (air kehidupan). Syek Siti Jenar menerima keputusan itu dengan rela dan menjalani hukumannya dengan ikhlas.
Ki Ageng Pengging penguasa daerah Pengging adalah murid Syek Siti Jenar. Setelah Syek Siti Jenar wafat, ketika Raden Patah Sultan Demak mengutus Patih Wanapala untuk memanggilnya menghadap ke Demak, sama seperti gurunya, Ki Ageng Pengging pun menolak panggilannya mentah-mentah. Itulah bukti dia pun menyangkal kedaulatan kesultanan Demak apalagi menghormati Raden Patah sebagai penguasanya.
Alih-alih mengirim pasukan, Raden Patah justru mengutus Sunan Kudus. Setiba di Pengging, Sunan Kudus pun menjatuhinya hukuman mati dengan minum tirta marta. Sama seperti gurunya, Ki Ageng Pengging pun menerima keputusan dengan rela dan menjalani hukuman matinya dengan ikhlas. Dia minum air kehidupan. Mati.
Kenapa Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging yang menyangkal kedaulatan Kesultanan Demak dan mengabaikan Sultan Demak dengan gagah perkasa justru menaati Wali Songo tanpa tedeng aling-aling?
Kerabatku sekalian, kata mandarin Wèi 為 (lafal: wèi) artinya memangku. Lǐ 禮 (lafal: lǐ) artinya kesusilaan. Wèi lǐ 為禮 artinya pemangku kesusilaan adalah sebuah jabatan dari kekaisaran Tiongkok di perantauan yang bertugas untuk mengurusi orang-orang Tionghoa di perantauan. Wèi lǐ berkewajiban untuk mengajarkan dan berkuasa untuk menegakkan kesusilaan (ajaran dan tradisi serta peraturan). Wèilǐ adalah GURU sekaligus HAKIM.
Kenapa Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging yang berani menyangkal kedaulatan Kesultanan Demak dan menolak perintah Sultan Demak justru taat sampai mati kepada Wali Songo?
Karena Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging adalah orang Tionghoa perantauan. Orang Tionghoa perantauan di pulau Jawa pada zaman itu hanya mengakui kedaulatan kekaisaran Tiongkok dan kekaisaran Majapahit. Itu sebabnya mereka hanya takluk kepada pejabat penguasa Majapahit dan pejabat penguasa kekaisaran Tiongkok di pulau Jawa yaitu Wali Songo.
Kenapa Sultan Demak gentar menghadapi Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging yang taat sampai mati kepada Wali Songo yang tidak punya pasukan? Karena Raden Patah juga seorang Tionghoa perantauan. Tindakannya mendirikan Kesultanan Demak melanggar kesusilaan. Tindakannya berlagak penguasa melanggar kesusilaan. Dia takut kepada kekaisaran Tiongkok, bukan gentar kepada Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging.
Hukuman mati dengan minum racun bukan tradisi Nusantara juga bukan tradisi Arab namun tradisi Tiongkok kuno. Hukuman demikian bukan tradisi rakyat jelata namun tradisi para bangsawan dan pejabat negara serta orang-orang besar.
Syek Siti Jenar mengajarkan, kehidupan manusia di dunia adalah kematian dan kematian manusia adalah awal dari kehidupan sejati dan abadi. Itu sebabnya racun kematian disebut air kehidupan (tirta marta).
Kematian Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging yang dijalani dengan ikhlas oleh keduanya diterima dengan jiwa besar oleh para pengikutnya menjdai bukti lain bahwa Wali adalah jabatan dari kekaisaran Tiongkok, bukan gelar dari Alquran.

PESANTREN
Kata mandarin bái 白 (lafal: pái) artinya putih. Shān 山 (lafal; shān) artinya gunung. Meskipun secara hurufiah, Báishān artinya gunung putih namun itu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut golongan atau orang SUFI. Dengan kata lain, Báishān artinya SUFI. Kata rén 人 (lafal: rén) artinya orang. Báishānren 白山 人 (lafal: páishānren) artinya orang Sufi. Seiring berlalunya waktu, Báishānren yang dilafalkan Páishānren pun menjadi
PESANTREN.
Kerabatku sekalian, Pesantren sebagai lembaga pendidikan baru berdiri setelah Indonesia merdeka. Sebelum itu, Pesantren hanya kumpulan páishānren (orang sufi) belaka. Páishānren mengakui kedaulatan kekaisaran Tiongkok dan takluk kepada pejabat penguasa Tiongkok yaitu Wali. Karena jumlahnya sembilan orang maka disebut Wali Songo.

Misteri Jejak Sunan
Ketika ditanya tentang asal-usul SUNAN, sebagian ulama mengajarkan bahwa SUNAN adalah singkatan dari kata Susuhunan yang artinya sesembahan. Benarkah demikian? Ada benarnya. Sunan memang singkatan Susuhunan. Namun, tidak benar karena inilah Sunan sejati.
Di dalam tradisi Tiongkok, ada enam kasta bangsawan. Yaitu: Wáng 王 (lafal: wáng) artinya yang dihormati kolong langit. Gōng 公 (lafal: koung) artinya yang dihormati negeri-negeri. Hóu
侯 (lafal: hóu) artinya yang dihormati bangsa-bangsa. Bà 霸 (lafal: pà) artinya yang dihormati beratus marga. Zǐ 子 (lafal: chǐ) yang dihormati masyarakat. Nán 男 (lafal: nán) artinya yang dihormati orang banyak.
Jūn 君 (lafal: cūn) artinya pejabat penguasa. Nán
男 (lafal: nán) artinya yang dihormati orang-orang. Jūnnán 君男 (Lafal: cunan) artinya pejabat penguasa (jūn) dengan kasta bangsawan Nán.
Kenapa para Wali disebut Jūnnán? Karena mereka diangkat sebagai pejabat penguasa oleh kekaisaran Tiongkok untuk menjadi penguasa atas orang-orang Tionghoa perantauan dan diberi kasta bangsawan Nán. Pada zaman itu, dinasti Ming Yang Agung (dà míng 大明) yang berkuasa di Tiongkok (1368–1644).
Misteri Jejak Susuhunan
Kerajaan Islam di Jawa terbagi dua jenis yaitu: Kesultanan dan Kasunanan. Kesultanan diperintah oleh Sultan sedangkan Kasunanan dipimpin oleh Susuhunan. Ketika ditanya, apa itu Susuhunan? Sebagian ulama mengajarkan bahwa Susuhunan artinya penerima susunan sepuluh jari dan susunan sepuluh jari artinya sesembahan. Itu sebabnya Susuhunan artinya sesembahan alias orang yang disembah. Kisanak, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, ajaran demikian adalah kutak-katik asal ngait yang jauh panggang dari api alias pepesan kosong. Bila demikian, jelaskan kepada kami, apa itu Susuhunan?
Gelar bangsawan Nán diwariskan dari generasi ke generasi. Jabatan Jūn pun diwariskan sampai dicabut oleh dinasti yang berkuasa atau sampai dinasti yang berkuasa jatuh. Itu sebabnya gelar Sunan (Jūnnán) dan jabatan Wali diwariskan ke generasi berikutnya. Sunan Gresik mewariskan gelar dan jabatannya ke anaknya Sunan Ngudung (Imam masjid Demak). Sunan Kalijaga mewariskan gelar dan jabatannya ke anakya Sunan Muria. Itu sebabnya jumlah Wali selalu songo namun yang menjabatnya berbeda dari waktu ke waktu.
Wali Songo lenyap dan penyandang gelar Sunan pun tidak ada lagi. Apakah hal demikian terjadi karena dinasti Ming mengakhirinya atau karena Kesultanan Islam Nusantara yang mengakhirinya? Atau karena kekuasaan dinasti Ming berakhir tahun 1644 dan dinasti Qing (qīngcháo 清朝) yang menggantikannya melarang orang Tionghoa merantau dan menganggap semua orang Tionghoa perantauan dan keturunannya adalah pengkhianat? Itu sebabnya ketika Belanda menulis surat permintaan maaf atas terjadinya pembantaian puluhan ribu orang Tionghoa di Batavia tahun 1740, kaisar Qianlong (1711-1799) menolak permintaan maaf itu dengan menyatakan orang Tionghoa perantauan dan keturunannya bukan rakyat Tiongkok lagi namun pengkhianat yang harus mati? Saya tidak tahu. Saya tidak menemukan jejaknya.
Kerabatku sekalian, mari kita mengingat kembali kisah Raden Patah yang meskipun sudah mengangkat dirinya menjadi Sultan Demak namun tidak berani gegabah memperlakukan Syek Siti Jenar dan Ki Ageng Pengging. Belanda yang gagah perkasa saja takut pada kekaisaran Tiongkok apalagi Raden Patah yang seorang Tionghoa, bukan? Itu sebabnya dia tidak berani gegabah membunuh sesama Tionghoa perantauan.
Di dalam tradisi Tionghoa, meskipun gelar jabatan berakhir namun kasta bangsawannya terus disandang dan diwariskan ke generasi berikutnya. Itu sebabnya meskipun Dinasti Zhou jatuh namun kasta Wáng (raja) tetap disandang oleh keturunan berikutnya dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Itu sebabnya meskipun tidak menyandang gelar Jun lagi namun para keturunan Sunan tetap bangsawan Nan.
Yīsīlán 伊斯蘭 (lafal: yīsīlán) adalah terjemahan literal kata Islam. Jiào 教 (lafal: ciau) artinya agama. Selain disebut Yīsīlán jiào 伊斯蘭教 agama Islam juga dinamai huíjiào 回教 (lafal: huiciau).
Jūnzhǔ 君主 (lafal: cūncǔ) artinya penguasa negeri atau raja. Apa yang terjadi ketika bangsawan Nan 男 keturunan Sunan menjadi raja negeri? Mereka menggelari dirinya Jūnzhǔhuínán
君主回男 (lafal: cūncǔhuínán) yang dalam dialek Jawa kemudian dilafalkan Susuhunan yang artinya bangsawan Nan raja negeri Islam. Susuhunan lalu disingkat menjadi Sunan.
Itu sebabnya, kisanak, ketika bicara tentang Sunan, harus dipastikan dulu Sunan yang mana? Sunan singkatan Susuhunan atau Sunan yang Junan gelar Wali Songo?

Misteri Jejak Kiai
Menurut Bambang Noorsena, kata KIAI berasal dari kata KRIAN (Jawa kuno) yang kehilangan huruf R. Menurutnya kata-kata Jawa kuno kehilangan huruf R ketika menjadi kata Jawa modern. Krian artinya mulia.
Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, KRIAN tanpa huruf R adalah KIAN bukan KIAI. KRIAN adalah gelar yang diberikan oleh raja Majapahit bagi para pembesar. Hanya raja yang boleh memberi gelar KRIAN kepada seseorang. Itu sebabnya guru agama Islam mustahil gelarnya KRIAN.
#Nurcholish Madjid: Istilah lain untuk menunjuk guru di pesantren adalah “kiai” juga berasal dari bahasa Jawa. Perkataan “kiai” untuk laki-laki dan “nyai” untuk perempuan digunakan oleh orang Jawa untuk memanggil kakeknya. Kata “kiai” dan “nyai” dalam hal ini mengandung pengertian rasa penghormatan terhadap orang tua.
Benarkah orang Jawa memanggil kakeknya Kiai dan neneknya Nyai? Saya belum pernah menemukannya. Saya hanya tahu, orang Sunda memanggil kakeknya AKi dan neneknya Nini sedangkan kata Nyai digunakan untuk menyebut perempuan. Namun, memanggil semua guru agama Islam sebagai kakek sama sekali tidak masuk akal, bukan?
Kerabatku sekalian, Kata mandarin Jiāo 教 (lafal: ciau) artinya mengajar. Yī 伊 (lafal: yi) adalah aksara pertama Yīsīlán 伊斯蘭. Yīsīlán adalah terjemahan literal Islam. Yī artinya Islam. Shī 师 (lafal: shī) artinya guru. Jiāoyīshī 教伊师 (lafal: ciauyīshī) artinya guru agama Islam. Salah satu tradisi Tionghoa sejak kuno adalah menyingkat kata itu sebabnya lafal Ciauyīshī pun disingkat menjadi Ciauyī yang kena pengaruh logat Jawa menjadi Kiai. Guru agama Islam.
Misteri Jejak Santri
*Zamakhsyari Dhofir: Menurut penelitian Johns, istilah kata “santri” berasal dari bahasa tamil yang berarti “guru mengaji”. Sedangkan C.C Berg berpendapat bahwa istilah santri berasal dari kata “shastri”, yang dalam bahasa India berarti “orang yang mengetahui buku-buku suci agama hindu”. Pendapat ini didukung oleh Karel. A. Steenbrink, yang menyatakan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya, memang mirip dengan pendidikan ala Hindu di India.
Kerabatku sekalian, bahasa Tamil bukan lingua franca (bahasa pergaulan dunia) dan umat Hindu Nusantara tidak menggunakan bahasa Tamil namun Sanskerta. Itu sebabnya mustahil para KIAI mewarisi bahasa Tamil dari umat Hindu Nusantara apalagi blusukan ke Tamil untuk mencari kata guna menyebut mereka yang belajar agama Islam kepadanya.
SANTRI Tamil adalah GURU ngaji. Santri di pesantren adalah MURID. Makanya Santri di pesantren mustahil SANTRI Tamil.
SHASTRI artinya PAKAR kitab suci. Santri di pesantren murid Alquran. Itu sebabnya Santri di pesantren mustahil SHASTRI.
#Nurcholish Madjid: Kata “santri” yang digunakan untuk menunjuk peserta didik di pesantren berasal dari bahasa Jawa; “cantrik” yang berarti seseorang yang selalu mengikuti guru ke mana saja guru pergi dengan tujuan untuk mempelajari ilmu yang dimiliki oleh sang guru.
Kata CANTRIK masih digunakan sampai sekarang, itu sebabnya tidak ada alasan untuk mengeditnya menjadi Santri bila yang dimaksudkan adalah cantrik, bukan?
Dr. KH. M.A Sahal Mhafud: Kata santri berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “santaro”, yang berarti “menutup”. Kalimat ini mempunyai bentuk jamak (plural) sanaatir (beberapa santri).”
Santri adalah orang yang belajar agama Islam, bukan belajar menutup. Itu sebabnya santri mustahil santaro.
Báishān白山 (lafal: páishān) artinya Sufi. lǎoshī 老
师 (lafal: lǎoshī) artinya guru tua. Yàntì 砚弟 (lafal: yanthi) artinya murid muda. Báishān Yàntì 白山砚弟 (lafal: páishān yanthi) artinya murid Sufi. Karena tradisi menyingkat Tionghoa maka lafal Báishān Yàntì pun disingkat menjadi shāntì. Karena pengucapan thi hampir sama seperti tri maka shānthi pun dilafalkan SANTRI.
Misteri Jejak Ngaji
Nurcholish Madjid: Istilah lain yang berasal dari Jawa dan banyak digunakan di pesantren adalah ngaji dan njenggoti. Kata “ngaji” yang digunakan untuk menunjuk kegiatan santri dan kiai di pesantren berasal dari kata “aji” yang berarti terhormat dan mahal. Kata “ngaji” biasanya disandingkan dengan kata “kitab”; “ngaji kitab” yang berarti “kegiatan santri pada saat mempelajari kitab yang berbahasa Arab”. Oleh karena itu santri banyak yang belum mengerti bahasa Arab, maka kitab tersebut oleh kiai diterjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa Jawa. Para santri mengikuti dengan cermat terjemahan kiainya dan mereka mencatatnya pada kitab yang dipelajari, yaitu di bawah kata-kata yang diterjemahkan. Kegiatan mencatat terjemahan ini di pesantren biasa dikenal dengan istilah “njenggoti”, karena catatan mereka itu menggantung seperti janggut pada kata-kata yang diterjemahkan. Penggunaan istilah Jawa di atas menunjukkan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan khas Indonesia. Pada awalnya pesantren lahir di Jawa dan selanjutnya berkembang ke luar Jawa.
Dalam bahasa Jawa, sinomin kata AJI adalah paduka, baginda, raja. NGAJI adalah belajar menulis dan membaca huruf Arab. Menyatakan NGAJI berasal dari kata AJI adalah kutak katik biar ngait yang jauh panggang dari api.
Gōu 钩 (lafal: kouw) artinya mengait. Jī 稽 (jhi) artinya menyelidiki. Gōujī 钩稽 (lafal: kouwjī) artinya mempelajari (menyelidiki). Gǔ 古 (lafal: ku) artinya kuno. Jīgǔ 稽古 (Jīkǔ) artinya kitab kuno (suci). Gōujī jīgǔ 钩稽 稽古 (lafal: kouwji jiku) artinya mempelajari (menyelidiki)kitab kuno (suci). Karena tradisi menyingkat Tionghoa maka kouwhi jiku pun disingkat menjadi kouwji. Karena pengaruh logat Jawa maka lafal kouwji pun menjadi NGAJI.
Akhirnya Kata-Kata
Gus Dur. Karena begitu mengaguminya maka memutuskan tidak menemuinya agar tidak termakan kharismanya sehingga bisa melihat dan memahami ajarannya apa adanya saja.
Setelah bertahun-tahun menyelidiki akhirnya blog ini jadi. Untuk menghormati Gus Dur sebagai hadiah bagi anak bungsunya Inayah Wahid. Saya ngefans pada keduanya.
Pertama kali melihat Inayah di televisi waktu Gus Dur masih presiden. Saat itu dia pakai seragam sekolah.
Kedua kali melihatnya sehabis hujan lebat di kebaktian natal bagimu negeri di depan istana bersama GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia 25 Desember 2013.
Ketiga kali bertemu dengannya di Wahid Institute saat GKI Yasmin mengadakan jumpa pers tentang dukungannya dan harapannya pada Walikota Bogor terpilih Bima Arya Sugiarto tanggal 4 April 2014 yang lalu.
Entah kenapa, sejak pertama kali melihatnya, merasa akrab dengannya. Karena merasa Inayah yang paling banyak mewarisi KEJAILAN Gus Dur yang lucu? Karena merasa dia yang paling banyak mewarisi rupa Gus Dur dan Sinta Nuriyah? Mungkin.
Sejarah ditulis oleh pemenang? Hal demikian tidak terjadi dalam tradisi Tiongkok. Raja tidak memberi perintah kepada pencatat sejarah. Pencatat sejarah dinasti mencatat apa adanya saja kemudian menyimpannya di kotak sejarah dan menguncinya. Pencatat sejarah tidak boleh membaca kitab sejarah apalagi yang ditulisnya. Catatan sejarah tidak boleh dibaca selama raja masih hidup. Ketika generasi selanjutnya membaca kitab sejarah dia boleh menulis komentar namun tidak boleh mengubah apalagi memusnahkan yang tertulis.
Memahami yang kuno apa adanya untuk mengerti hari ini lalu mencatatnya adalah jalan susilawan (jūnzǐ dào 君子道) berbakti kepada generasi selanjutnya.
Tulis ini bukan seluruh kebenaran namun satu langkah untuk mencari yang benar.

Silsilah raja sunda

Silsilah raja-raja Sunda

Salakanagara
Rajatapura atau Salakanagara (Kota Perak) tercantum dalam Naskah Wangsakerta sebagai kota tertua di Pulau Jawa . Tokoh awal yang berkuasa di sini adalah Aki Tirem . Konon, kota inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M, terletak di daerah Teluk Lada Pandeglang . Kota ini sampai tahun 362 M menjadi pusat pemerintahan Raja-Raja Dewawarman (dari Dewawarman I – VIII).
Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada . yg bener

Tarumanagara
Berikut adalah raja-raja Tarumanagara :

1. Jayasingawarman (358 – 382) Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari SALANKAYANA di India yang mengungsi ke
Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada. Setelah Jayasingawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati ( Bekasi).

2. Dharmayawarman (382 – 395 M) Dipusarakan di tepi kali Candrabaga.

3. Purnawarman (395 – 434 M) Ia membangun ibukota kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan dinamainya “Sundapura”. Nama
Sunda mulai digunakan oleh Maharaja
Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya. Pustaka Nusantara,parwa II sarga 3 (halaman 159 – 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang ) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga ?) di
Jawa Tengah . Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes ) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

4. Wisnuwarman (434-455)
5. Indrawarman (455-515)
6. Candrawarman (515-535 M)

7. Suryawarman (535 – 561 M) Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya,
Manikmaya , menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan , daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan,
Garut. Sedangkan putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun
612 M.

8. Kertawarman (561-628)
9. Sudhawarman (628-639)
10. Hariwangsawarman (639-640)
11. Nagajayawarman (640-666)

12. Linggawarman (666-669) Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja . Dalam tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya .

13. TARUSBAWA (669 – 723 M) Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa
Tarumanagara yang ke-13. Karena pamorTarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota)
Sundapura . Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda . Peristiwa ini dijadikan alasan oleh
Wretikandayun , cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota Galuh (SENA or SANNA) berjodoh dengan Sanaha puteri Maharani Sima dari Kerajaan Kalingga ,Jepara, Jawa Tengah , maka dengan dukungan Kalingga , Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan
Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas .

Kerajaan Sunda Galuh
Berikut adalah raja-raja Sunda Galuh:

1. TARUSBAWA (670 – 723 M) Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan . Dalam ceritaParahiyangan , tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di
Sunda (Raja Sunda ). Ia menjadi cikalbakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M. Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama
Tejakancana ) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan.Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda .

2. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M) Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Maharani SIMA dari Kalingga , di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya,Mandiminyak , raja Galuh kedua (702-709 M). Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh. Sebagai ahli waris Kalingga, SANJAYA kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda , Galuh dan Kalingga /
Kerajaan Mataram (Hindu) . Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban.

3. Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (732 – 739 M) Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, Raja Kerajaan Mataram (Hindu) ke 2, putera Sanjaya dariSudiwara puteri Dewasinga Raja
Kalingga Selatan atau Bumi SAMBARA .

4. Rakeyan Banga (739-766 M).
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M).
6. Prabu Gilingwesi, menantu no. 5,(783-795 M).
7. Pucukbumi Darmeswara, menantu no. 6, (795-819 M).
8. Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M).
9. Prabu Darmaraksa (adik-ipar no. 8, 891 – 895 M).
10. Windusakti Prabu Dewageng (895 – 913 M).
11. Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M).
12. Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa, menantu no. 11, (916-942 M).
13. Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M).
14. Limbur Kancana,putera no. 11,(954-964 M).
15. Prabu Munding Ganawirya (964-973 M).
16. Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989 M).
17. Prabu Brajawisesa (989-1012 M).
18. Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019M).
19. Prabu Sanghyang Ageng (1019 – 1030 M), berkedudukan di Galuh.

20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030‚ – 1042 M ), berkedudukan di
Pakuan . Pada masa itu Sriwijaya / orang Melayu menjadi momok yang menakutkan. Kerajaan Sunda Galuh untuk menghindari konflik dengan Sriwijaya, melakukan hubungan pernikahan antara raja ke 19, Prabu Sanghyang Ageng (Ayah dari Sri Jayabupati) dengan putri Sriwijaya . Jadi ibu Sri Jayabupati adalah seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja WURAWURI. Permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri Dharmawangsa (adik Dewi LAKSMI isteri AIRLANGGA). Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya (DHARMAWANGSA). Gelar itulah yang dicantumkannya dalam Prasasti Cibadak . Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Darmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya ( Dharmawangsa ). Pada puncak krisis ia hanya menjadi ‘penonton’ dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus ‘menyaksikan’ Darmawangsa diserang dan dibinasakan oleh raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya ‘diancam’ agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcuta disebut Pralaya itu terjapada tahun
1019 M. Sriwijaya sendiri musnah pada tahun 1025 karena serangan Kerajaan Chola dari India. Tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi , menaklukan Sriwijaya , dan berkuasa selama dua ratus tahun. Dua abad kemudian, kedua kerajaan tersebut menjadi taklukan kerajaan Singhasari di era Raja
Kertanegara , dengan mengirimkan Senopati
Mahisa / Kebo / Lembu ANABRANG , dalam ekspedisi PAMALAYU 1 dan 2, dengan pertimbangan untuk mengamankan jalur pelayaran di selat Malaka yang sangat rawan Bajak Laut setelah runtuhnya Sriwijaya pada tahun 1025. Mahisa Anabrang yang menikah dengan DARA JINGGA (anak dari Raja Kerajaan Melayu Jambi , MAULIWARMADHEWA ), adalah ayah dari Adityawarman , pendiri Kerajaan Pagaruyung . Dara Jingga dikenal juga sebagai BUNDO KANDUANG dalam hikayat
Kerajaan Pagaruyung atau Minangkabau . Mungkin istilah MINANG-KABAU berasal dari adanya KEBO (KEBO / Mahisa / Lembu ANABRANG) yang me-MINANG putri Raja
Kerajaan Dharmasraya / Kerajaan Melayu Jambi .

21. Raja Sunda ke 21 berkedudukan di Galuh
22. Raja Sunda ke 22 berkedudukan di Pakuan
23. Raja Sunda ke 23 berkedudukan di Pakuan
24. Raja Sunda ke-24 memerintah di Galuh

25. PRABU GURU DHARMASIKSA , mula-mula berkedudukan di Saunggalah , kemudian pindah ke Pakuan. Beliau mempersiapkan
RAKEYAN JAYADARMA, berkedudukan di Pakuan sebagai PUTRA MAHKOTA. Menurut PUSTAKA RAJYARAJYA i BHUMI NUSANTARA parwa II sarga 3 : RAKEYAN JAYADARMA adalah menantu MAHISA CAMPAKA di Jawa Timur karena ia berjodoh dengan putrinya MAHISA CAMPAKA bernama DYAH LEMBU TAL . Mahisa Campaka adalah anak dari MAHISA WONGATELENG, yang merupakan anak dari KEN ANGROK dan KEN DEDES dari kerajaan SINGHASARI. Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal berputera SANG NARARYA SANGGRAMAWIJAYA atau lebih dikenal dengan nama RADEN WIJAYA (lahir di PAKUAN). Dengan kata lain, Raden Wijaya adalah turunan ke 4 dari Ken Angrok dan Ken Dedes . Rakeyan Jayadarma mati dalam usia muda sebelum dilantik menjadi raja. Konon beliau diracun oleh saudara kandungnya sendiri. Akibatnya Dyah Lembu Tal tidak bersedia tinggal lebih lama di Pakuan, karena khawatir dengan keselamatan dirinya dan anaknya. Akhirnya Wijaya dan ibunya diantarkan ke Jawa Timur. Dalam BABAD TANAH JAWI, Wijaya disebut pula JAKA SUSURUH dari PAJAJARAN yang kemudian menjadi Raja MAJAPAHIT yang pertama. Kematian Jayadarma mengosongkan kedudukan putera mahkota karena Wijaya berada di Jawa Timur. Jadi, sebenarnya, RADEN WIJAYA, Raja MAJAPAHIT pertama, adalah penerus sah dari tahta Kerajaan Sunda yang ke-26.

26. Prabu Ragasuci (1297 – 1303M) berkedudukan di Saunggalah dan dipusarakan di Taman, Ciamis. Ragasuci sebenarnya bukan putera mahkota karena kedudukanya itu dijabat kakaknya RAKEYAN JAYADARMA. Permaisuri Ragasuci adalah DARA PUSPA (Puteri Kerajaan Melayu) adik DARA KENCANA isteri KERTANEGARA, dari kerajaan SINGHASARI di Jawa Timur.

27. Prabu Citraganda (1303 – 1311 M), berkedudukan di Pakuan. Ketika wafat ia dipusarakan di Tanjung.
28. Prabu Lingga Dewata (1311 – 1333), berkedudukan di Kawali.

29. Prabu Ajiguna Wisesa (1333 – 1340), berkedudukan di Kawali, adalah menantu Prabu Lingga Dewata. Sampai tahun 1482 pusat pemerintahan tetap berada di sana. Bisa dikatakan bahwa tahun 1333 – 1482 adalah ZAMAN KAWALI dalam sejarah pemerintahan di Jawa Barat dan mengenal 5 orang raja. Lain dengan Galuh, nama Kawali terabadikan dalam dua buah prasasti batu peninggalan PRABU RAJA WASTU yang tersimpan di “ASTANA GEDE” Kawali. Dalam prasasti itu ditegaskan “mangadeg di kuta Kawali” (bertahta di kota Kawali) dan keratonnya disebut SURAWISESA yang dijelaskan sebagai “Dalem sipawindu hurip” (keraton yang memberikan ketenangan hidup).

30. Prabu Maharaja Lingga Buana (1340 – 1357).

31. MANGKUBUMI SURADIPATI atau PRABU BUNISORA, adik Prabu Lingga Buana. Ada yang menyebut PRABU KUDA LALEAN. Dalam BABAD PANJALU ( Kerajaan Panjalu Ciamis ) disebut PRABU BOROSNGORA . Selain itu ia pun dijuluki BATARA GURU di
Jampang karena ia menjadi pertapa dan resi yang ulung).

32. Prabu Raja Wastu atau Niskala Wastu Kancana(1371-1475). Ia adalah anak Prabu Lingga Buana, dinobatkan menjadi raja pada tahun 1371 pada usia 23 tahun. Permaisurinya yang pertama adalah LARA SARKATI puteri Lampung. Dari perkawinan ini lahir SANG HALIWUNGAN (setelah dinobatkan menjadi Raja Sunda bergelar PRABU SUSUKTUNGGAL). Permaisuri yang kedua adalah MAYANGSARI puteri sulung Bunisora atau Mangkubumi Suradipati. Dari perkawinan ini lahir NINGRAT KANCANA (setelah menjadi penguasa Galuh bergelar PRABU DEWA NISKALA). Setelah Wastu Kancana wafat tahun 1475 , kerajaan dipecah dua di antara Susuktunggal dan Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat. Politik kesatuan wilayah telah membuat jalinan perkawinan antar cucu Wastu Kencana. JAYADEWATA, putera Dewa Niskala mula-mula memperistri AMBETKASIH (puteri KI GEDENG SINDANGKASIH). Kemudian memperistri SUBANGLARANG (puteri KI GEDENG TAPA yang menjadi Raja Singapura). Subanglarang ini keluaran pesantren Pondok QURO di PURA, Karawang . Ia seorang wanita muslim murid SYEKH HASANUDIN yang menganut MAHZAB HANAFI. Pesantren Qura di Karawang didirikan tahun 1416 dalam masa pemerintahan Wastu Kancana. Subanglarang belajar di situ selama 2 tahun. Ia adalah nenek SYARIF HIDAYATULLAH. Kemudian memperistri KENTRING MANIK MAYANG SUNDA puteri Prabu Susuktunggal. Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan. Pada tahun 1482 , Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Jayadewata . Demikian pula dengan Prabu Susuktungal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini ( Jayadewata). Dengan peristiwa yang terjapada tahun 1482 itu, kerajaan warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan. JAYADEWATA memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai “Susuhunan” karena ia telah lama tinggal di sini menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan. Zaman
Pajajaran diawali oleh pemerintahan Ratu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja yang memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Raja-Raja Sunda yang menjadi Raja di Mataram dan Majapahit
Jadi ada dua penerus sah dari tahta KERAJAAN SUNDA yang menjadi raja besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur .
1. Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama , raja ke 2 Kerajaan Sunda-Galuh(723 – 732M), menjadi raja di Kerajaan Mataram (Hindu) (732 – 760M). Ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno , dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya .
2. Raden Wijaya , penerus sah Kerajaan Sunda ke – 26, yang lahir di Pakuan, dan dikemudian hari menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M).mantap
Pajajaran

Berikut adalah raja-raja Pajajaran :
1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan ( Bogor sekarang)
2. Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di
Pakuan
3. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di
Pakuan
4. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di
Pakuan
5. Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan
Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf

6. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai
Prabu Surya Kencana , memerintah dari
Pandeglang
Raja-Raja Pajajaran , seperti juga Raja-Raja
Singasari , Majapahit, Dharmasraya, dan
Pagaruyung periode awal, beserta para pembesarnya adalah pengikut sekte keagamaanTantra . Sekte Tantra adalah sekte yang melakukan meditasi dengan mempersatukan Yoni dan Lingga. Artinya meditasi dilakukan dengan melakukan hubungan antara laki laki dan perempuan.
Berakhirnya zaman Pajajaran (1482 – 1579), ditandai dengan diboyongnya PALANGKA SRIMAN SRIWACANA (Tempat duduk tempat penobatan tahta) dari Pakuan ke Surasowandi Banten oleh pasukan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu terpaksa di boyong ke Banten karena tradisi politik waktu itu “mengharuskan” demikian.
Pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru.
Kedua, dengan memiliki Palangka itu, Maulana Yusufkorem 064 menjadikan Maulana yusuf sebagai namanya, merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang “sah” karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja .
Palangka Sriman Sriwacana sendiri saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surasowan di
Banten . Karena mengkilap, orang Banten menyebutnya WATU GIGILANG. Kata Gigilang berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Silsilah_raja-raja_Sunda#Pajajaran

Kerajaan di tatar garut

KERAJAAN-KERAJAAN DI TATAR GARUT
KERAJAAN TIMBANGANTEN

Berdirinya Kerajaan Timbanganten merupakan
kelanjutan dari Kerajaan Mandala Dipuntang (Panembong Bayongbong), dimana rajaan Prabu Derma Kingkin sebagai Nalendra terakhir Kerajaan Mandala di Puntang, lalu ia memindahkan pusat kerajaan dari Panembong ke daerah Timbanganten (daerah yang sekarang disebut Tarogong).
Timbanganten merupakan daerah sekitar Gunung Guntur, lantas Derma Kingkin mengganti nama kerajaan Mandala di Puntang menjadi Kerajaan Timbanganten.
Sunan Derma Kingkin memiliki lima orang putra, yaitu :
Sunan Kacue dikenal dengan nama Baginda Salemba,
Nalendra Sunan Ranggalawe ,
Dalem Cicabe di Suci Garut,
Dalem Cibeureum di korobokan Limbangan,
Dalem Kandang Serang di Cilolohan,
dan Dalem Kowang
di Pagaden Subang.
Timbanganten merupakan bagian dari sejarah Jawa Barat, dan termasuk wilayah dari Tatar Ukur. Tatar Ukur, menurut naskah Sadjarah Bandung, adalah daerah Kerajaan Timbanganten dengan ibukota di Tegal luar. Kerajaan itu berada di bawah dominasi Kerajaan Sunda-Pajajaran.
Sejak pertengahan Abad ke-15, Kerajaan Timbanganten diperintah secara turun-temurun oleh Prabu Pandaan Ukur, Dipati Agung, dan Dipati Ukur. Pada masa pemerintahan Dipati Ukur, Tatar Ukur merupakan suatu wilayah yang cukup luas, mencakup sebagian besar Wilayah Jawa Barat, terdiri dari sembilan daerah yang disebut “Ukur Sasanga”.
Setelah Kerajaan Sunda-Pajajaran runtuh (8 Mei 1579 M) akibat serangan Pasukan Banten dalam usaha menyearkan Agama Islam di daerah Jawa Barat, Tatar Ukur menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Sumedanglarang, penerus Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sumedanglarang didirikan dan diperintah pertama kali oleh Prabu Geusan Ulun (1580-1608), dengan ibukota di Kutamaya, suatu tempat yang terletak di sebelah Barat Kota Sumedang sekarang. Wilayah kekuasaan Kerajaan itu meliputi daerah yang kemudian disebut Priangan, kecuali Daerah Galuh (sekarang bernama Ciamis).
Ketika Sumedanglarang diperintah oleh Raden Aria Suriadiwangsa, anak tiri Geusan Ulun dari Ratu Harisbaya, Sumedang Larang menjadi daerah kekuasaan Mataram sejak Tahun 1620. Sejak itu status Sumedang Larang pun berubah dari Kerajaan menjadi Kabupaten dengan nama Kabupaten Sumedang. Mataram menjadikan Priangan sebagai daerah pertahanannya di bagian Barat terhadap kemungkinan serangan pasukan Banten dan Kompeni yang berkedudukan di Batavia, karena Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) bermusuhan dengan Kompeni dan Konflik dengan Kesultanan Banten.
Untuk mengawasi Wilayah Priangan, Sultan Agung Raden Aria Suriadiwangsa menjadi “Bupati Wedana” (Bupati kepala) di Priangan (1620-1624), dengan gelar Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata/Rangga Gempol I. Tahun 1621, Sultan Agung memerintahkan Rangga Gempol I untuk menaklukkan Daerah Sampang (Madura). Oleh karena itu, jabatan “Bupati Wedana” Priangan diwakilkan kepada adik Rangga Gempol I, yaitu Pangeran Dipati Rangga Gede. Tidak lama, setelah Pangeran Dipati Rangga Gede menjabat Bupati Wedana, Sumedang diserang oleh Pasukan Banten. Oleh karena, sebagian Pasukan Sumedang berangkat ke Sampang, Pangeran Dipati Rangga Gede tidak dapat mengatasi serangan tersebut. Akibatnya, ia menerima sanksi politis dari Sultan agung. pangeran dipati Rangga Gede ditahan di Mataram.
Jabatan Bupati Wedana Priangan diserahkan kepada Dipati Ukur, dengan syarat ia harus dapat merebut Batavia dari kekuasaan kompeni Belanda. Tahun 1628 Sultan Agung memerintahkan Dipati ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang kompeni di Batavia. Akan tetapi serangan itu mengalami kegagalan. Dipati Ukur sangat menyadari bahwa sebagai resiko dari kegagalan tersebut, ia akan menerima sanksi berat dari raja Mataram, misalnya seperti hukuman yang dialami Pangeran Dipati Rangga Gede, atau hukuman yang lebih berat lagi. Oleh karenanya, Dipati Ukur beserta para pengikutnya membangkang terhadap Mataram. Setelah penyerangan terhadap kompeni gagal, mereka tidak datang ke Mataram melaporkan kegagalan tugasnya.
Tindakan Dipati Ukur dianggap Pihak Mataramsebagai tanda pemberontakan terhadap penguasa kerajaan Mataram. terjadinya pembangkangan Dipati Ukur beserta pengikutnya dimungkinkan, antara lain karena Pihak Mataram sulit untuk mengawasi daerah Priangan secara langsung, akibat jauhnya jarak antara pusat Kerajaan Mataram dengan Daerah Priangan. Secara teori, bila daerah koloni jauh dari pusat kekuasaan,’ maka kekuasaan pusat di daerah itu sangat lemah. Namun demikian, berkat bantuan beberapa kepala daerah di Priangan, pihak Mataram akhirnya dapat memadamkan “pemberontakan” Dipati Ukur.
Menurut Sejarah Sumedang (babad), Dipati Ukur tertangkap di Gunung Lumbung (Bandung) pada Tahun 1632. Setelah pemberontakan Dipati Ukur berakhir, jabatan Bupati Wedana diserahkan kembali oleh Sultan Agung kepada Pangeran Dipati Rangga Gede yang telah bebas dari hukumannya. Selanjutnya, Sultan Agung melaksanakan reorganisasi pemerintahannya di Priangan, dengan tujuan mempertahankan stabilitas dan keamanan daerah tersebut. Daerah Priangan di luar Sumedang dan Galuh dibagi menjadi 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung, Kabupaten ParakanMuncang, dan Kabupaten Sukapura dengan mengangkat 3 (tiga) orang Kepala Daerah dari Priangan yang dianggap telah berjasa dalam memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Ketiganya, antara lain adalah :
1. Ki Asta Manggala, umbul Cihaurbeuti, diangkat sebagai “Mantri Agung”(Bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wirangunangun.
2. Ki Tanubaya, diangkat sebagai Bupati Parakanmuncang.
3. Ngabehi Wirawangsa menjadi Bupati Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha.
Ketiganya dilantik secara bersamaan berdasarkan “Piagem Sultan Agung” yang dikeluarkan Hari Sabtu Tanggal 9 Muharram Tahun Alip (Penanggalan Jawa). dengan demikian, Tanggal 9 Muharram Tahun Alip bukan hanya merupakan Hari jadi Kabupaten Bandung saja, namun sekaligus juga Hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.
Setelah ketiga Bupati tersebut dilantik di Pusat pemerintahan Mataram, mereka kembali ke daerah masing-masing. Sadjarah Bandung (naskah) menyebutkan bahwa Bupati Bandung Tumenggung Wirangunangun beserta pengikutnya dari Mataram kembali ke Tanah ukur. Pertama kali mereka datang ke daerah Timbanganten. Di sana Bupati Bandung mendapatkan 200 cacah. Selanjutnya Tumenggung Wirangunangun bersama rakyatnya membangun Krapyak, sebuah tempat yang terletak di tepi Sungai Citarum dekat muara Sungai Cikapundung (daerah pinggiran Bandung Selatan) sebagai ibukota Kabupaten. Sebagai daerah pusat Kabupaten Bandung, Krapyak dan daerah sekitarnya disebut “Bumi Ukur Gede”.
Wilayah Administratif Kabupaten Bandung di bawah pengaruh Mataram (hingga akhir Abad ke-17), belum diketahui secara pasti, karena sumber akurat yang memuat data tentang hal itu belum ditemukan. menurut sumber pribumi, pada Tahap awal Kabupaten Bandung melputi beberapa daerah , antara lain : Tatar Ukur termasuk Daerah Timbanganten, Kuripan, Sagaraherang, dan sebagaian Tanah Medang. Boleh jadi, Daerah Priangan di luar Kabupaten Sumedang, Parakanmuncang, Sukapura dan Galuh, yang semula merupakan Wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) pada masa pemerintahan Dipati Ukur, merupakan Wilayah Administratif Kabupaten Bandung waktu itu. Bila ini benar, maka Kabupaten Bandung dengan ibukota krapyak, wilayahnya mencakup Daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung, dan lain-lain (termasuk Kuripan, Sagaraherang, dan Tanah Medang).
Kerajaan Timbanganten yang merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mandala Di Puntang (Untuk Kerajaan mandala Di Puntang, disilakan menyimak tulisan saya di dokumen DPP Gema Sunda Jabar) merupakan Bukti akan adanya kerajaan di Daerah Garut, khususnya di Daerah Tarogong sekarang. ketika penguasa terakhir yang bernama Dipati Ukur ditumpas oleh Mataram, maka Kerajaan Timbanganten ditinggalkan. Setelah dibentuknya Bandung yang mengambil bagian Tatar Ukur sebagai bagian dari sultan Agung atas keberhasilannya menumpas karaman Dipati Ukur. Sadjarah Bandung (Naskah), menyebutkan bahwa di Timbanganten hanya tersisa 200 cacah.
Naskah Sajarah Turunan Timbanganten
Naskah ini merupakan salah satu naskah kuno yang diketemukan di Kabupaten Garut. Naskah berukuran 21 x 29 cm, ruang tulisan : 19 x 27 cm, dan ketebalan naskah sebanyak 32 halaman. Naskah ini ditulis dalam bentuk prosa dan memakai Huruf Arab Pegon. Naskah berisi tentang sejarah turunan Kerajaan Timbanganten yang disebut-sebut cikal bakal Kabupaten Bandung, sebab Wilayah Kabupaten Bandung hampir sebagian besar bekas Tatar Ukur Timbanganten. Maka Naskah ini berisi silsilah pun berhubungan dengan keluarga bangsawan Timbanganten dan Bandung. Pada umumnya silsilah tersebut diawali dari Nabi Adam AS sebagai manusia pertama; kemudian melalui Nabi Muhammad, Ratu Galuh, Ciung Manarah dan Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran). Ratu Galuh dianggap sebagai sebagai raja pertama di Pulau Jawa. Ada pun deskripsi naskah ini adalah sebagai berikut :
Keluarga bangsawan Timbanganten muncul sejak Dalam Pasehan menjadi Ratu di Kadaleman Timbanganten. Wilayah Kadaleman Timbanganten sekarang mencakup wilayah Kecamatan Tarogong Kaler dan Kidul, Samarang, Leles dan Kadungora (Cikembulan). Dalem Pasehan adalah keturunan dari Ciung Manarah yang lahir di Mandala Puntang. Ia pernah menjadi mertua Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi menikahi anaknya bernama Nyimas Ratna Inten Dewata. Sewaktu menjadi Raja, Dalem Pasehan menyandang gelar Sunan Permana di Puntang. Di akhir hayatnya, ia kemudian menjadi pertapa dan “menghilang” (tilem) di Gunung Satria.
Terdapat perbedaan mengenai Dalem Pasehan. Dalam sejarah Kerajaan Mandala di Puntang, tokoh ini merupakan penguasa kerajaan tersebut hingga akhirnya, berdasarkan keputusan Prabu Siliwangi di Pajajaran, kepemimpinan diserahkan kepada isterinya yang merupakan anak Dalem Pasehan sendir, yaitu Ratu Maraja Inten Dewata menjadi Nalendra di Kadaleman Mandala di Puntang. Perpindahan kekuasaan dari Kerajaan Mandala di Puntang menjadi Kadaleman Timbanganten terjadi pada masa pemerintahan Derma Kingkin.
Sebagai pengganti yang menjadi Ratu adalah anaknya Sunan Dayeuh Manggung yang dmakamkan di Dayeuh Manggung. Sunan dayeuh manggung wafat dan digantikan anaknya , Sunan Derma Kingkin yang makamnya di muara Sungai Cikamiri. Setelah Sunan Derma Kingkin meninggal, maka Sunan Ranggalawe, putranya yang menggantikan dan beribukota di Korwabokan. Kemudian setelah Sunan Ranggalawe, berturut-turut yang menjadi ratu di Timbanganten adalah Sunan Kaca (adik Ranggalawe), Sunan Tumenggung Pateon (menantu Sunan Kaca atau putra Sunan Ranggalawe), Sunan Pari (ipar Sunan Pateon), Sunan Pangadegan (adik Sunan Pateon) yang di makamkan di Pulau Cangkuang.
Sunan Pangadegan meninggal, maka yang menggantikan adalah Sunan Demang. Sunan Demang sendiri meninggal (dibunuh) di Mataram, dan penggantinya adalah Sunan Saanugiren (kakak Sunan Demang). Selanjutnya yang menggantikan Sunan Sanugiren, putranya Demang Wirakrama. Demang Wirakrama setelah meninggal dimakamkan di Sarsitu dan digantikan oleh Putranya, Raden Demang Candradita yang di kemudian hari menjadi Penghulu Bandung. Meninggal di Cikembulan dan dimakamkan di Tanjung Kamuning. Kakak Raden Demang Candradita, Raden Demang Ardisutanagara menjadi Dalem di Bandung dan setelah meninggal dimakamkan di astana Tenjolaya Timbanganten.
Pengganti Demang Ardisutanagara adalah Dalem Tumenggung Anggadireja , setelah meningggal dikenal dengan sebutan Sunan Gordah, Timbanganten. Pengganti Sunan Gordah, putranya bernama Raden Inderanegara dan bergelar Tumenggung Anggadireja, ketika meninggal dimakamkan di astana Tarik Kolor Bandung. Tumenggung Anggadireja meninggal digantikan putranya , Raden Anggadireja yang bergelar Dalem Adipati Wiranatakusumah. Dalem Adipati Wiranatakusumah meninggal dan dimakamkan di pinggir mesjid Tarik Kolor Bandung (sekarang lokasi Mesjid Agung Propinsi Jawa Barat, di Jalan Dalem Kaum Bandung). Selanjutnya, sebagai pengantinya adalah putranya bernama Dalem Dipati Wiratanukusumah.
Dalem Dipati Wiratanukusumah meninggal, maka yang menggantikannya Raden Nagara (putranya) serta bergelar Dipati Wiratanukusumah, tetapi tidak lama karena ia di bunuh kolonial Belanda. Dipati Wiratanukusumah digantikan putranya, Raden Rangga Kumetir dan bergelar Dalem Adipati. Sewaktu dalem Adipati meninggal yang menggantikan adalah saudaranya, bernama Raden Adipati Kusumadilaga Bintang (DALEM BINTANG).
Dalam naskah ini diuraikan mengenai batas-batas wilayah Timbanganten, Tanah Cihaur dan Tanah Ukur Pasir Panjang yang dibatasi Gunung Mandalawangi. Selanjutnya Timbanganten berganti nama menjadi Tarogong, dan sebagian dari Wilayah Tatar Ukur, sekarang termasuk pada wilayah Administratif Kabupaten Garut, yaitu : Kecamatan Tarogong Kaler dan Kidul (dimana pada saat proses pemekaran Kecamatan Tarogong Tahun 2002, Penulis terlibat langsung dan turut membidani lahirnya 2 kecamatan baru ini), kemudian Samarang, Leles, dan Kadungora atau Cikembulan. (TAMAT)

Sumber : Tatar Garut, 2007.
Penulis : ASEP HARSONO HS. S.Sos, M.Si.

Sunan permana dipuntang Garut

Dongeng Karuhun Garut

Sunan Permana Dipuntang

Pada jaman dahulu kala, di sebuah tempat bermana Korobokan terdapat sebuah kerajaan kecil dibawah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Rajanya adalah putra dari Prabu Siliwangi yang tersohor, Sunan Burung Baok lah namanya. Tubuhnya dipenuhi bulu, namun ia memiliki kesaktian yang tiada tara. Sayangnya ia memerintah dengan tidak adil, penuh ketidakjujuran, tidak bijak dalam mengambil keputusan, sehingga kerajaan kecilnya mengalami kekacauan.
Sesepuh kerajaan mulai mengkhawatirkan melihat kondisi kerajaan yang semakin kacau karena ulah rajanya sendiri. Dalem Pasehan, sesepuh dari Timbangan, Korobokan, memimpin pertemuan sesepuh kerajaan untuk mendiskusikan bagaimana caranya agar Sunan Burung Baok turun tahta. Jika tidak, maka rakyatlah yang akan sengsara. Setelah berdiskusi panjang, mereka bersepakat untuk mengirim Dalem Pasehan untuk menghadap ke Pajajaran.
Setibanya di sana, Pasehan menceritakan semua hal yang terjadi di Korobokan. Mendengar hal itu, seketika Prabu Siliwangi murka kepada anaknya. “Jikalau memang begitu adanya, maka bunuhlah saja anakku, namun dengan satu syarat, kau harus membunuhnya tanpa ada darah setetespun!” begitu perintah Sang Prabu. Setelah mendapat perintah, Dalem Pasehan pun kembali pulang dengan perasaan lega dan was-was, dalam hatinya bertanya, apakah ada cara untuk membunuh seseorang tanpa membuatnya mengeluarkan darah.
Tanpa ditunda lagi, pertemuan sesepuh kerajaan kembali digelar. Mereka bersiasat untuk mengelabui Sunan Burung Baok agar bersedia untuk menaklukan ular raksasa yang kabarnya menghuni sebuah gua di Cimanuk yang sebenarnya di gua itu tidak terdapat apapun. Merasa dirinya sakti, Sunan Burung Baok yang menanggalkan pakaiannya di luar bersegera masuk ke gua untuk membunuh ular raksasa itu. Tanpa sepengetahuannya, lubang gua itu ditutup batu yang sangat besar.
Belama-lama di dalam gua, Sunan Burung Baok menyadari bahwa ia ditipu Dalem Pasehan. Dengan kesaktiannya ia pulang menembus bumi ke hadapan ayahnya di Pajajaran. Prabu Siliwangi Terkejut melihat anaknya telanjang datang ke hadapannya. Dengan dongkolnya, Sunan Burung Baok menceritakan kekesalan di hatinya terhadap Dalem Pasehan. Sang Prabu pun meminta agar Dalem Pasehan datang ke Pajajaran.
Dengan kesaktiannya pula, Dalem Pasehan mengetahui apa yang terjadi di Pajajaran. Ia merasa tenang hati karena semua yang dilakukannya untuk membunuh Sunan Burung Baok atas perintah dari ayahnya sendiri, yakni membunuh tanpa harus mengeluarkan darah setetespun. Ia mengajak putrinya Inten Dewata mengadap Sang Prabu di Pajajaran untuk diambil sebagai istri.
Prabu Siliwangi menjelaskan maksud dari perintahnya, yang ingin raja di Korobokan diganti oleh siapapun yang pantas menyandang gelar tersebut. Penuh rasa bersalah, akhirnya Dalem Pasehan menyerahkan putrinya, dan tentu saja diterima oleh Sang Prabu dengan senang hati ia berjanji jikalau ia mempunyai anak dari Inten Dewata, maka putranya lah yang akan ia angkat menjadi raja di Korobokan.
Panjang cerita, Inten Dewata dikaruniai seorang putra dari Prabu Siliwangi yang dinamai Permana Dipuntang. Dalem Pasehan berpesan kepada putrinya agar Permana Dipuntang yang masih dalam gendongan dibawanya pulang, menembus bumi. Jika ia merasa capai, maka ia beristirahat muncul ke permukaan. Maka dari itu tempat yang konon adalah tempat munculnya Dalem Pasehan dengan cucunya, Permana Dipuntang dinamai Munjul. Sedangkan Gunung yang mereka singgahi disebut Pangcalikan (Pangcalikan= tempat duduk/ beristirahat). Di sini lah Permana Dipuntang menemukan rotan dan ia tak mau digendong lagi oleh kakeknya. Ia memegang rotan itu untuk membantunya berjalan. Gunung tersebut dinamakan Gunung Puntang (Puntang= pegang) karena kejadian tersebut.
Akhirnya setelah dewasa ia memerintah Garut dengan adil dan bijaksana. Makamnya pun masih utuh terpelihara, berdekatan dengan makam Sunan Gordah dan Sunan Tangkil, yang juga masih keturunannya.
(Dongeng ini diterjemahkan kembali dari buku Sastra Lisan Sunda)

Kamis, 03 Agustus 2017

11 Kata bob sadino

11 kata mutiara Bob Sadino yang terkenal:

"Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain"

"Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya"

"Orang pintar kebanyakan ide dan akhirnnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan"

"Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat dan jika untung maka bertambahlah syukur saya"

"Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif"

"Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar"

"Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu"

"Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir, kan cuma selangkah"

"Orang goblok itu nggak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah"

"Orang pintar maunya cepat berhasil, padahal semua orang tahu itu impossible! Orang goblok cuma punya satu harapan, yaitu hari ini bisa makan"

"Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok itu berjuang keras untuk sukses bisa bisa bayar pelamar kerja".

Kamis, 27 Juli 2017

Makna, Filosofi dan Simbolis Senjata 'Kujang'


Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Jawa Barat, tepatnya di Pasundan (tatar Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis.
Bentuk senjata ini cukup unik, dari segi desainnya tak ada yang menyamai senjata ini di daerah manapun. Tidak adanya kata yang tepat untuk menyebutkan nama senjata ini ke dalam bahasa International, sehingga Kujang dianggap sama pengertiannya dengan “sickle” (= arit / sabit), tentu ini sangat menyimpang jauh karena dari segi wujudnya pun berbeda dengan arit atau sabit. Tidak sama juga dengan “scimitar” yang bentuknya cembung. Dan di Indonesia sendiri arit atau sabit sebetulnya disebut “chelurit” (celurit). Mungkin untuk merespon kendala bahasa tersebut, tugas dan kewajiban budayawan sunda, dan media cetak lokal di tatar sunda yang harus lebih intensif mempublikasikannya senjata Kujang ini ke dunia International.
Asal muasal istilah Kujang berasal dari kata “Kudihyang” dengan akar kata “Kudi” dan “Hyang“. “Kudi” diambil dari bahasa Sunda Kuno yang memilii pengertian senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan benda pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406) Sedangkan “Hyang” dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa, hal ini tercermin di dalam ajaran “Dasa Prebakti” yang tercermin dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian disebutkan “Dewa bakti di Hyang”.
Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan.
1. Papatuk ( Congo ), bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk menoreh atau mencungkil.
2. Eluk (Siih ), lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.
3. Waruga, nama bilahan (badan) kujang.
4. Mata, lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya sisasnya berupa lubang lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata, malah ada pula kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
5. Pamor, garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk memperindah bilah kujangnya juga untukmematikan musuh secara cepat.
6. Tonggong, sisi yg tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat juga mengiris.
7. Beuteung, sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.
8. Tadah, lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman.
9. Paksi, bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang kujang.
10. Combong, lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).
11. Selut, ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).
12. Ganja (landéan ); nama khas gagang (tangkai) kujang.
13. Kowak (Kopak), nama khas sarung kujang.
Di antara bagian-bagian kujang tadi, ada satu bagian yang memiliki lambang “ke-Mandalaan ”, yakni mata yang berjumlah 9 buah. Jumlah ini disesuaikan dengan banyaknya tahap Mandala Agama Sunda Pajajaran yang juga berjumlah 9 tahap, di antaranya (urutan dari bawah): Mandala Kasungka, mandala Parmana, Mandala Karna, Mandala Rasa, Mandala Séba, Mandala Suda, Jati Mandala, Mandala Samar, Mandala Agung. Mandala tempat siksaan bagi arwah manusia yang ketika hidupnya bersimbah noda dan dosa, disebutnya Buana Karma atau Jagat Pancaka, yaitu Neraka.
Kujang sangat identik dengan Sunda Pajajaran masa silam. Sebab, alat ini berupa salah sastu aspek identitas eksistensi budaya Sunda kala itu. Namun, dari telusuran kisah keberadaannya tadi, sampai sekarang belum ditemukan sumber sejarah yang mampu memberitakan secara jelas dan rinci. Satu-satunya sumber berita yang dapat dijadikan pegangan (sementara) yaitu lakon-lakon pantun.
Sebab dalam lakon-lakon pantun itulah kujang banyak disebut-sebut. Di antara kisah-kisah pantun yang terhitung masih lengkap memberitakan kujang, yaitu pantun (khas) Bogor sumber Gunung Kendeng sebaran Aki Uyut Baju Rambeng.
Pantun Bogor ini sampai akhir abad ke-19 hanya dikenal oleh warga masyarakat Bogor marginal (pinggiran), yaitu masyarakat pedesaan. Mulai dikenalnya oleh kalangan intelektual, setelahnya tahun 1906 C.M. Pleyte (seorang Belanda yang besar perhatiannya kepada sejarah Pajajaran) melahirkan buku berjudul Moending Laja Di Koesoemah, berupa catatan pribadinya hasil mendengar langsung dari tuturan juru pantun di daerah Bogor sebelah Barat dan sekitarnya.
Pemberitaan tentang kujang selalu terselip hampir dalam setiap lakon dan setiap episode kisah serial Pantun Bogor, baik fungsi, jenis, dan bentuk, para figur pemakainya sampai kepada bagaimana cara menggunakannya. Malah ungkapan-ungkapan konotatif yang memakai kujang-pun tidak sedikit.
Contoh kalimat gambaran dua orang berwajah kembar; “Badis pinang nu munggaran, rua kujang sapaneupaan” atau melukiskan seorang wanita; “Mayang lenjang badis kujang, tembong pamor tembong eluk tembong combong di ganjana” dsb. Demikian pula bendera Pajajaran yang berwarna “hitam putih” juga diberitakan bersulamkan gambar kujang “Umbul-umbul Pajajaran hideung sawaréh bodas sawaréh disulaman kujang jeung pakujajar nu lalayanan”.
Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi.
Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.
Sejak sirnanya Kerajaan Pajajaran sampai sekarang, kujang masih banyak dimiliki oleh masyarakat Sunda, yang fungsinya hanya sebagai benda obsolete tergolong benda sejarah sebagai wahana nostalgia dan kesetiaan kepada keberadaan leluhur Sunda pada masa jayanya Pajajaran, di samping yang tersimpan di museum-museum.
Pengabadian kujang lainnya, banyak yang menggunakan gambar bentuk kujang pada lambang-lambang daerah, pada badge badge organisasi kemasyarakatan atau ada pula kujang-kujang tempaan baru (tiruan), sebagai benda aksesori atau cenderamata.
Selain keberadaan kujang seperti itu, di kawasan Jawa Barat dan Banten masih ada komunitas yang masih akrab dengan kujang dalam pranata hidupnya sehari-hari, yaitu masyarakat Sunda “ Pancer Pangawinan ” (tersebar di wilayah Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak – Provinsi Banten, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor dan di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi – Provinsi Jawa Barat). Dan masyarakat “ Sunda Wiwitan Urang Kanékés ” (Baduy) di Kabupaten Lebak – Provinsi Banten.
Dalam lingkungan budaya hidup mereka, tiap setahun sekali kujang selalu digunakan pada upacara “Nyacar” (menebangi pepohonan untuk lahan ladang). Patokan pelaksanaannya yaitu terpatri dalam ungkapan “Unggah Kidang Turun Kujang”, artinya jika bintang Kidang telah muncul di ufuk Timur di kala subuh, pertanda musim “Nyacar” sudah tiba, kujang (Kujang Pamangkas) masanya digunakan sebagai pembuka kegiatan “Ngahuma” (berladang).
Pada zaman masih jayanya kerajaan Pajajaran, kujang terdiri dari beberapa bentuk, di antaranya:
1. Kujang Ciung , yaitu kujang yang bentuknya dianggap menyerupai burung Ciung.
2. Kujang Jago , kujang yang bentuknya menyerupai ayam jago.
3. Kujang Kuntul, kujang yang menyerupai burung Kuntul.
4. Kujang Bangkong, kujang yang menyerupai bangkong (kodok).
5. Kujang Naga , kujang yang bentuknya menyerupai naga.
6. Kujang Badak , kujang berbadan lebar dianggap seperti badak.
7. Kudi , perkakas sejenis kujang.
Berdasarkan jenisnya, kujang memiliki fungsi sebagai:
1. Kujang Pusaka, yaitu kujang sebagai lambang keagungan seorang raja atau pejabat kerajaan lainnya dengan kadar kesakralannya sangat tingi seraya memiliki tuah dan daya gaib tinggi.
2. Kujang Pakarang , yaitu kujang untuk digunakan sebagai alat berperang dikala diserang musuh.
3. Kujang Pangarak, yaitu kujang bertangkai panjang seperti tombak sebagai alat upacara.
4. Kujang Pamangkas , kujang sebagai alat pertanian (perladangan).
Meskipun perkakas kujang identik dengan keberadaan Kerajaan Pajajaran pada masa silam, namun berita Pantun Bogor tidak menjelaskan bahwa alat itu dipakai oleh seluruh warga masyarakat secara umum. Perkakas ini hanya digunakan oleh kelompok tertentu, yaitu para raja, prabu anom (putera mahkota), golongan pangiwa, golongan panengen, golongan agama, para puteri serta kaum wanita tertentu, para kokolot.
Sedangkan rakyat biasa hanya menggunakan perkakas-perkakas lain seperti golok, congkrang, sunduk, dsb. Kalaupun di antaranya ada yang menggunakan kujang, hanya sebatas kujang pamangkas dalam kaitan keperluan berladang.
Setiap menak (bangsawan), para pangagung (pejabat negara) sampai para kokolot, dalam pemilikan kujang, tidak sembarangan memilih bentuk. Namun, hal itu ditentukan oleh status sosialnya masing-masing. Bentuk kujang untuk para raja tidak boleh sama dengan milik balapati. Demikian pula, kujang milik balapati mesti berbeda dengan kujang miliknya barisan pratulup, dan seterusnya.
1. Kujang Ciung mata-9 , hanya dipakai khusus oleh Raja;
2. Kujang Ciung mata-7 , dipakai oleh Mantri Dangka dan Prabu Anom;
3. Kujang Ciung mata-5 , dipakai oleh Girang Seurat, Bupati Pamingkis,dan para Bupati Pakuan;
4. Kujang Jago , dipakai oleh Balapati, para Lulugu, dan Sambilan;
5. Kujang Kuntul, dipakai oleh para Patih (Patih Puri, Patih Taman, Patih Tangtu Patih Jaba, dan Patih Palaju), juga digunakan oleh para Mantri (Mantri Majeuti, Mantri Paséban, Mantri Layar, Mantri Karang, dan Mantri Jero).
6. Kujang Bangkong, dipakai oleh Guru Sekar, Guru Tangtu, Guru Alas, Guru Cucuk;
7. Kujang Naga, dipakai oleh para Kanduru, para Jaro, Jaro Awara, Tangtu, Jaro Gambangan;
8. Kujang Badak , dipakai oleh para Pangwereg, para Pamatang, para Palongok, para Palayang, para Pangwelah, para Bareusan, parajurit, Paratulup, Sarawarsa, para Kokolot.
Selain diperuntukkan bagi para pejabat tadi, kujang digunakan pula oleh kelompok agama, tetapi kesemuanya hanya satu bentuk yaitu Kujang Ciung, yang perbedaan tahapannya ditentukan oleh banyaknya “mata”. Kujang Ciung bagi peruntukan Brahmesta (pendeta agung negara) yaitu yang bermata-9, sama dengan peruntukan raja. Kujang Ciung bagi para Pandita bermata-7, para Geurang Puun, Kujang Ciung bermata-5, para Puun Kujang Ciung bermata-3, para Guru Tangtu Agama dan para Pangwereg Agama Kujang Ciung bermata-1.
Di samping masing-masing memiliki kujang tadi, golongan agama menyimpan pula Kujang Pangarak, yaitu kujang yang bertangkai panjang yang gunanya khusus untuk upacara-upacara sakral seperti Upacara Bakti Arakana, Upacara Kuwera Bakti, dsb., malah kalau dalam keadaan darurat, bisa saja dipakai untuk menusuk atau melempar musuh dari jarak jauh. Tapi fungsi utama seluruh kujang yang dimiliki oleh golongan agama, sebagai pusaka pengayom kesentosaan seluruh isi negara.
Kelompok lain yang juga mempunyai kewenangan memakai kujang yaitu para wanita Menak (Bangsawan) Pakuan dan golongan kaum wanita yang memiliki fungsi tertentu, seperti para Puteri Raja, para Puteri Kabupatian, para Ambu Sukla, Guru Sukla, para Ambu Geurang, para Guru Aés, dan para Sukla Mayang (Dayang Kaputrén). Kujang bagi kaum wanita ini, biasanya hanya terdiri dari Kujang Ciung dan Kujang Kuntul. Hal ini karena bentuknya yang langsing, tidak terlalu “galabag” (berbadan lebar”, dan ukurannya biasanya lebih kecil dari ukuran kujang kaum pria
.
Untuk membedakan status pemiliknya, kujang untuk kaum wanita pun sama dengan untuk kaum pria, yaitu ditentukan oleh banyaknya mata, pamor, dan bahan yang dibuatnya. Kujang untuk para puteri kalangan menak Pakuan biasanya kujang bermata-5, Pamor Sulangkar, dan bahannya dari besi kuning pilihan. Sedangkan (kujang) wanita fungsi lainnya kujang bermata-3 ke bawah malah sampai Kujang Buta, Pamor Tutul, bahannya besi baja pilihan.
Kaum wanita Pajajaran yang bukan menak tadi, di samping menggunakan kujang ada pula yang memakai perkakas “khas wanita” lainnya, yaitu yang disebut Kudi, alat ini kedua sisinya berbentuk sama, seperti tidak ada bagian perut dan punggung, juga kedua sisinya bergerigi seperti pada kujang, ukurannya rata-rata sama dengan ukuran “Kujang Bikang” (kujang pegangan kaum wanita), langsing, panjang kira-kira 1 jengkal termasuk tangkainya, bahannya semua besi-baja, lebih halus, dan tidak ada yang memamai mata.
Pada zamannya Kerajaan Pajajaran Sunda masih jaya, setiap proses pembuatan benda-benda tajam dari logam termasuk pembuatan senjata kujang, ada patokan-patokan tertentu yang harus dipatuhi, di antaranya:
1. Patokan Waktu
Mulainya mengerjakan penempaan kujang dan benda-benda tajam lainnya, ditandai oleh munculnya Bintang Kerti, hal ini terpatri dalam ungkapan “Unggah kidang turun kujang, nyuhun kerti turun beusi”, artinya ‘Bintang Kidang mulai naik di ufuk Timur waktu subuh, pertanda masanya kujang digunakan untuk “nyacar” (mulai berladang). Demikian pula jika Bintang Kerti ada pada posisi sejajar di atas kepala menyamping agak ke Utara waktu subuh, pertanda mulainya mengerjakan penempaan benda-benda tajam dari logam (besi-baja)’. Patokan waktu seperti ini, kini masih berlaku di lingkungan masyarakat “Urang Kanékés” (Baduy).
2. Kesucian “Guru Teupa” (Pembuat Kujang)
Tempat untuk membuat benda-benda tajam dari bahan logam besi-baja, baik kudi, golok, sunduk, pisau, dsb. Dikenal dengan sebutan Gosali, Kawesen, atau Panday. Tempat khusus untuk membuat (menempa) perkakas kujang disebut Paneupaan.
Dari bentuk senjata Kujang yang unik, terdapat makna dan filosofi yang bisa dijadikan pegangan hidup. Ulasannya bisa dilihat dari gambar di bawah ini
Artikel ini dikutip dari berbagai sumber Kujang pusakana urang sunda
Bagian Bagian Kujang
Sejarah Perkembangan Kujang
Bentuk dan Jenis Kujang serta Fungsinya
Kelompok Pemakai Kujang
Proses Pembuatan Kujang
Seorang Guru Teupa (Penempa Kujang), waktu mengerjakan pembuatan kujang mesti dalam keadaan suci, melalui yang disebut “olah tapa” (berpuasa). Tanpa syarat demikian, tak mungkin bisa menghasilkan kujang yang bermutu. Terutama sekali dalam pembuatan Kujang Pusaka atau kujang bertuah. Di samping Guru Teupa mesti memiliki daya estetika dan artistika tinggi, ia mesti pula memiliki ilmu kesaktian sebagai wahana keterampilan dalam membentuk bilah kujang yang sempurna seraya mampu menentukan “Gaib Sakti” sebagai tuahnya.

Rabu, 26 Juli 2017

Sajarah Batu Kuda di Puncak Gunung Haruman


Bismillaahirrohmaanirrohiim
di antara keunggulan yang ada di Gunung Haruman, yaitu patilasan Eyang Wali. buktinya yaitu Batu Kuda. walaupun yang tersisa cuma pecahannya. Batu Kuda merupakan jelmaan dari kuda tunggangan Eyang Wali ketika Beliau berangkat ziarah ke Tanah Suci Mekkah, atau berangkat dakwah. sejarah Batu Kuda yang tinggal pecahannya itu, dahulu batu kuda masih utuh, kepalanya ada di sebelah utara mengarah ke daerah limbangan, perut serta kakinya mengarah ke timur ke daerah cibiuk, leuwigoong dan cibatu. sedangkan punggung dan ekornya mengarah ke arah barat dan selatan ke daerah Kadungora dan Leles.
dari keadaan batu kdua tersebut, bisa dijadikan ciri. Kepala menandakan penuh dengan kecerdasan, makanya tidak sedikit orang Limbangan yang menjadi pejabat publik, salah satunya Bapak Umar Wirahadi Kusuma yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden di zaman Soeharto. perut dan kakinya menandakan suka berkelana dan merantau, makanya tidak sedikit orang cibiuk, leuwigoong sareng cibatu merantau ke perkotaan atau ke daerah lainnya untuk usaha. sedangkan ekor dan punggung menandakan bagus perawakannya. makanya tidak sedikit orang ayang ada di daerah kadungora, Leles dan sekitarnya, yang cantik dan tampan serta perempuannya berambut panjang. Hal-hal semacam ini, masih ada sampai sekarang.
Sedangkan sejarah batu kuda yang hanya tinggal pecahannya, dulu kuda jelmaan dari batu kuda biasa diikat di pohon waru. setelah tidak ada Eyang Wali, batu kuda tetap aya disamping pohon waru tersebut. Suatu saat, ada empat orang yang naik ke puncak gunung dan bermaksud menebang pohon waru yang dipakai untuk mengikat kuda tadi.
ceritanya begitu pohon waru ditebang, tumbangnya menimpa pada batu kuda, maka pecahlah batu kuda tersebut, samapai banyak batu-batu pecahannya terpental dari tempatnya. dari pecahan batu yang terpental tersebut ada yang mengikuti kemanapun orang yang menebangnya lari. tiga orang meninggal di gunung, sedangkan yang seorang lagi meninggalnya sudah sampai di pemukiman warga. yang ada sekarang di Puncak Gunung Haruman, hanya tersisa bagian dari punggung ke tengkuk, itu pun tidak banyak atau tidak utuh, hanya sebagian kecilnya saja.
namun walaupun yang menjadi sebab hancurnya batu kuda tersebut dengan cara tertimpa tebangan pohon waru yang ditebang oleh empat orang tadi, namun Hakikatnya Eyang Wali tidak mau manusia berubah tekad dan keimanannya, sebab tidak sedikit orang yang sengaja datang ke puncak gunung haruman, hanya untuk melakukan pesugihan.
Cukup sekian saja riwayat yang ada kaitannya dengan Gunung Haruman, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk yang membaca postingan ini. kurang lebihnya maohon maaf.
Walloohul Muwaffiq Ilaa Aqwamit Thorieq

Ramalan Sabdo Palon

Ramalan Sabdo Palon
( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )
1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
2.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”
3.
Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.
4.
Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.
5.
Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.
6.
Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.
7.
Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.
8.
Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.
9.
Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.
10.
Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.
11.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.
12.
Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.
13.
Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.
14.
Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.
15.
Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.
16.
Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.