Minggu, 21 Mei 2017

Gunung Wayang lewat Sasakala

Gunung Wayang lewat Sasakala (dalam bahasa sunda sasakala sering dikaitkan dengan asal-usul suatu kejadian baik tempat maupun perbuatan) Gunung Wayang. Nji Anah, juru mamaos Cianjuran dan penulis dari Cianjur, pernah menulis pupuh yang kemudian menjadi buku panduan wisata berjudul 'Beschrijving van Pangalengan en Omstreken'. Dalam buku tersebut, Nji Anah tak lupa mencantumkan Sasakala Gunung Wayang. Berikut kisahnya:
Tersebutlah seorang keturunan Ratu yang bernama Pangeran Jaga Lawang. Dalam kehidupannya ia sering bersemedi di puncak Gunung Wayang yang sunyi. Sang Pangeran mempunyai seorang puteri cantik tiada tandingannya. Puteri Langka Ratnaningrum, namanya. Ia sudah mempunyai calon, pemuda keturunan Galuh. Gagak Taruna, namanya, yang sedang menempa diri dengan melakoni hidup bertani di lembah Ci Tarum yang subur. Pemuda yang rajin, siang bertani, malam bersemedi.
Padi tampak subur dan hasilnya pasti akan jauh lebih banyak dari panen musim lalu. Maka disepakati untuk segera menikah dengan puteri pujaan hatinya. Seperti biasa, ia sering bersemedi di makam Nyi Kantri Manik di hulu Ci Tarum. Malam itu terlihat datang gadis cantik yang tiada taranya. Gagak Taruna kaget. Diam-diam ia jatuh hati kepada gadis itu, namun si cantik segera menghilang di mata air. Sadar itu sekedar godaan, maka ia segera pulang. Namun pikiran dan hatinya masih terus terpaut kepada si cantik di hulu Ci Tarum.
Padi sudah menguning, tapi belum juga dipanen. Rupanya Gagak Taruna sedang kasmaran kepada bayangan si cantik. Semua merasa aneh, karena Sang Pangeran terlalu sering bersemedi di hulu Ci Tarum begitu magrib menjelang. Bukan tiada yang mengingatkan, namun pemuda itu sudah terpincut senyum yang sangat memikat. Nyi Kantri Manik asalnya gadis yang cantik yang sakit hati hingga meninggalnya karena pemuda pujaan calonnya tidak menepati janji untuk bersatu. Kini ia selalu membalas dendam dan membenci semua lelaki yang lengah.
Sang Pangeran selalu diingatkan agar segera mempersiapkan diri karena waktu pernikahan sudah dekat. Padi yang sudah lama matang kemudian dipanen. Persiapan menikah besar-besaran sudah dipenuhi. Ketika waktunya tiba, iring-iringan seserahan bergerak menuju puncak Gunung Wayang tempat calon mertuanya berada.
Setelah calon pengantin pria dirias, ia memohon diri untuk melakukan nadran ke hulu Ci Tarum. Sesampainya di sana, ia menyuruh pengiringnya mundur dan segera menuju puncak Gunung Wayang, karena ia akan segera menyusul. Setelah kembang rampe, melati dan campaka ditebar, di seberang terlihat Nyi Kantri Manik tersenyum memikat. Dengan sigap Gagak Taruna berdiri, berjalan menuju ke tempat senyuman yang terus mengembang. Gagak Taruna terus berjalan di dalam air menuju bayangan hingga akhirnya tenggelam.
Di tempat calon pengantin wanita, semua gelisah menunggu, ke mana Gagak Taruna? Rombongan yang menyusulnya mendapatkan Sang Pangeran sudah mengambang. Pangeran Jaga Lawang sangat prihatin. Ia melampiaskan rasa dukanya itu dengan mengobrak-abrik apa yang ada di dapur. Hawu/tungku dilemparkan dan perabot dapur dibanting. Makanan yang dimasak dilemparkan sampai habis, maka terbentuklah kawah Gunung Wayang.
Air yang mendidih dengan lalab-lalabannya dilemparkan membentuk kawah Cibolang di Gunung Windu.Puteri Langka Ratnaningrum sangat bersedih, lalu berjalan tak tentu arah. Ternyata ia sudah berada di dalam hutan. Air mata darah terus mengucur. Itulah yang kemudian membentuk air terjun Cibeureum di Gunung Bedil. Nayaga yang masih berharap Sang Pangeran datang tak mau pergi, maka berubahlah mereka menjadi arca. Sebagian alat-alat tabuhnya dilemparkan, di antaranya membentuk Gunung Kedang. Mayit Gagak Taruna dikubur di hulu Ci Tarum. Sementara itu Pangeran Jaga Lawang menempa diri menyepuh hati, menghyang di Gunung Seda, ia selalu menanti putri yang dicintainya segera pulang.
Maka janganlah merasa heran, bila pada malam bulan purnama sering terdengar sayup-sayup bunyi gamelan. Itulah prosesi penyambutan pengantin pria. Bila terlihat asap Gunung Wayang mengepul berlapis-lapis, itu artinya keluarga pengantin perempuan sedang sibuk memasak.

Legenda Desa SUKARAME ( Sasakala )

Legenda Desa ( Sasakala )
Konon kabarnya menurut cerita rakyat semasa dengan pembnuatan situ cangkuang,ada lagi situ yang lain yaitu: situ Bagendit, situ Bedahan, Situ Sukarame , Situ Jongor dan situ Sarkanjut.
Di Desa sukarame terdapat sebuah situ atau danau yang berinama situ Sukarame yang konon katanya waktu pembuatan dipimpin oleh seorang dalem yaitu Dalem Ardi Manggala.
Ardi Manggala adalah putra dari dalem Wiranta ( Wirabaya ) yang dimakamkan di pulo gede Situ Cangkuang.
Didalam pembuatan Situ Sukarame terdapatbanyak kesulitan diantaranya setiap hampir selesai dibendung tambaknya selalu jebol.Oleh karena itu dibuat syaembara bahwa Barang siapa yang sanggup untuk menyelesaikan situ sukarame akan dijadikan menantu Dalem Ardi Manggala ,yaitu akan dikawinkan dengan anaknya yang bermnama Ny Mas Margawulan.
Syaembara tersebut sampai ke kerajaan mataram diantaranya terdengar oleh Rd Nur Alim Wijaya Kusumah. Rd Nur Alim Wijaya Kusumah menanggapi tetapi dengan syarat,yaitu meminjam Ny Mas Margawulan untuk direndam di laut selama dua minggu,tetapi dijamin tetap untuk selama hal ini untuk mengetes,apakah kuat direndam selama dua minggu atau tidak kalau tidak kuat akan tetap dijadikan istrinya dan akan mengerjakan pembuatan Situ Sukarame itu dan kalau ternyata tidak kuat berarti batal pula niatnya.
Dalaem Ardi Manggala mengabulkan permintaan itu,dan anaknya akan dibawa ke Mataram .setelah sampai di Mataram lalu dibawa kelaut dan direndamkanya setiap hari dijaga oleh Rd Nur Alim Kusumah itu. Ny Mas Margawulan selama dua minggu didalam rendaman itu tidak ada perubahan apa-apa kelihatanya segar bugar.
Setelah itu Ny Mas Margawulan di bawa lagi ke tempat semula dan diserahkan kepada ayahnya Ketika itu terus diakad tikahkan,tetapi seterusnya dititipkan kepada ayahnya ( Dalem Ardi Manggala ),dan Rd Nur Alim Wijaya Kusumah pergi ketanah Bugis untuk mengambil segenggam tanah dari sana,karena menurut pendapatnya pekerjaan ini akan selesai kalau dibubuhi tanah dari bugis.
Dengan cepat sekali Rd Nur Alim Wijaya Kusumah dapat menyelesaikan pekerjaan itu dan setelah selesai maka diberitahukanya kepada mertuanya bahwa pekerjaan telah selesai.Bukan main girang hati mertuanya setelah mendengar perkataan menantunya telah menyelesaikan tugasnya dan pergi untuk menyaksikanya.
Ketika sampai ditempat, tertegun tanda kurang setuju karena bendunganya kurang depan ( kurang girang ,bahasa sunda ) sang menatu menjawabnya,bahwa hal ini memang disengaja karena suatu ketika dikampung Kelapa dua daerah ini akan ada pasak setelah mendengan jawaban itu mertuanya menyetujuinya.
Pada acara peresmian situ dan pertikahan itu dipentaskan macam-macam hiburan,bukan saja kesenian dari daerah setempat juga dari daerah Bugis yaitu ronggeng bugis,suasana pada waktu itu sangat menggembirakan ( bahasa sunda Sukarame ) maka tempat keramian dan danaunya disebut Sukarame.
Takan lama kemudian setelah itu datanglah adik Dalam Ardi Meanggala dari kandang wesi bernama Iondra manggala ia bermaksud akan membantu sang kakak ,karena mendengar bahwa pekerjaan menemui kesulitan tetapi setelah datang pekerjaan telah selesai ia mengucapkan terimakasih kepada yang menyelesaikan itu dan ia akan bermaksud menetap disini dengan saudaranya ia terus menetap disini sampai meninggal dunia dan dimakamkan di muara dan dia tetap menjaga situ itu.
Taklama kemudian datang lagi adik dari Dalem Ardi manggala yang kedua dari paledang (Embah Paledang ) ia bermaksud akan membantu sang kaka .Embah paledang nama aslinya ( Jibja Manggala ) ia yang memindahkan Negara Dayeuh Luhur dan diganti namanya menjadi Sumedang.
Oleh karena danaunya telah selesai dibendung ia kesanggupan untuk mencari bibit ikanya ia pergi ke Mataram dan membawa bibit ikan kedalam tempurung ( bahasa sunda batok )
Sebelum itu ditanamkan dihitung dulu dan dibagi-bagi kepada lima danau tadi,kecuali situ bedah yang tidak ditanami karena situnya tidak selesai dibangun.
Pada satu tempat, ditempat itu tumpah maka tempat itu disebut cibatok yang sekarang jadi cibatek.
Suatu amanat dari Dalem Ardi Manggala danau itu khusus bagi kesejahteraan masyarakat ,Barang siapa yang mengambil barang ini atau menguasainya , maka kalau pejabat tidak akan lama memegang jabatanya itu.
Untuk menghindari dari amanat itu pada suatu ketika diadakan musyawarah dengan masyarakat tentang kemanpaatan danau itu .Oleh karena beban masyarkat berat sekali untuk membiayai kelancaran pemerintahan di Desa ,maka danau ini atas nama masyarakat diolah oleh Desa bersangkutan.Hal ini dapat meningkatkan masyarakat dan seolah-olah masyarakat yang berinisiatif.
Dalem Ardi manggala dan keluarganya lama disini sampai semuanya meninggal dan dimakamkan disekitar daerah Sukarame dan margaluyu.
Terbentuknya  Desa Sukarame
Catatan sejarah Desa Sukarame menerangkan Sebelumnya di Kampung sukarame belum ada Desa tadinya adalah masih termasuk Desa Margaluyu,dan seiring dengan kepadatan penduduk maka para tokoh dan para alim ulama mengusulkan agar Desa margaluyu dipekar menjadi dua,dan akhirnya pada tahun 1976 jadilah pemekaran Desa margaluyu menjadi dua Desa yang sekarang menjadi dua Desa yaitu Desa margaluyu sebagai Desa asal dan Desa sukarame sebagai Desa hasil pemekaran.

Harimau dan Manusia dalam Mitos,

Harimau dan Manusia dalam Mitos, Legenda, Cerita Orangtua

Bagi masyarakat beberapa tempat di Sumatera hubungan manusia dan harimau mengandung dimensi spiritual. Selain di Minangkabau, masyarakat Kabupaten Kerinci, Jambi juga melihat harimau sebagai hewan keramat, yang dihormati. Di Desa Sungai Deras, Kecamatan Air Hangat Timur, misalnya. Masyarakat masih melakukan beberapa ritual kepada sang raja hutan tersebut.3
Di Jawa Barat ada orang yang percaya ada satu kampung yang penduduknya siang hari manusia dan malam hari harimau. Bahkan di Tanah Pasundan ini, makna harimau memiliki dimensi kultural historis karena ada kepercayaan bahwa sosok Siliwangi yang merupakan representasi dari harimau (maung). Sebuah catatan pada jaman Belanda pada 1687 mengungkapkan mitos harimau ini. Catatan itu berasal dari Laporan
Scipio(peneliti asal belanda) pada Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs yang diteruskan kepada atasannya di Belanda yang isinya memberitakan kepercayaan penduduk saat itu. Adapun laporan tersebut berbunyi "dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort" (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja "Jawa" Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Laporan tersebut ditulis tanggal 23 Desember 1687 (baca tulisan
http://firman-raharja.blogspot.com/2008/08/harimau-siliwangi.html
).
Cerita lain ialah Babad Panjalu, yaitu kisah Maung Panjalu berawal dari Dewi Sucilarang puteri Prabu Siliwangi yang dinikahi Pangeran Gajah Wulung putera mahkota Raja Majaphit Prabu Brawijaya yang diboyong ke Keraton Majapahit. Dalam kisah-kisah tradisional Sunda nama Raja-raja Pajajaran (Sunda) disebut secara umum sebagai Prabu Siliwangi sedangkan nama Raja-raja Majapahit disebut sebagai Prabu Brawijaya. Pasangan ini melahirkan dua orang putera-puteri kembar, yang lelaki kemudian diberi nama Bongbang Larang sedangkan yang perempuan diberi nama Bongbang Kancana . Karena melanggar suatu pantangan ketika besar si kembar ini menjadi manusia harimau (baca http://raxenasukma.blogspot.com/p/mitos-maung-panjalu-bongbang-larang.html
) . .
Di daerah Kerinci, Jambi ada kepercayaan itu disebut Cindaku di mana ada manusia yang mengubah dirinya menjadi harimau malam hari. Tandanya jejadian ini bila manusia itu tidak punya belahan tengah di atas bibirnya. Di Sumatera Barat menurut cerita seorang paman saya,
siluman harimau itu diturunkan dari kakek, paman. Bila diturunkan kepada salah seorang dari keponakannya, maka keponakannya itu tidak bisa menolak. Bila diturunkan, biasanya yg menerima seperti punya kesaktian dan power. Biasanya yang ditunjuk gampang menjadi pimpinan.
Dalam cerita yang sudah berkembang, hewan yang bagi orang Minang disebut Inyiak Balang ini, ada yang jadi peliharaan orang tertentu. Pada mulanya, si harimau, suka memangsa ternak warga, kemudian juga mengganggu kenyamanan kampung. Oleh pawang harimau, Inyiak Balang ditangkap. Lalu bertuan pada manusia, siap dipanggil dan disuruh sewaktu-waktu sesuai kehendak tuannya. Hubungan antarâ tuan dengan harimau ini memang cenderung mistis.
Masih di Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Solok, ada legenda Inyiak Balang ada yang berhabitat di areal peladangan, hutan ulayat, dengan sebutan si-Ampang Limo. Sebutan lain seperti Inyiak Penjaga Kampung. Inyiak Balang sangat jarang memperlihatkan wujud aslinya (tubuh belang), melainkan bisa dibaca secara isyarat. Ketika ada seseorang yang tersesat di hutan, Inyiak Balang suka memberikan pertolongan. Sebaliknya, juga bisa marah bila ada warga yang kedapatan berbuat tidak terpuji atau kejahatan (baca tulisan Yulicef Anthony “Legenda Klasik Harimau di Minangkabau” dalam http://www.jpnn.com/read/2014/09/29/ ). Cerita ini menarik karena pas dengan cerita ibu saya bahwa “harimau jejadian” ini sebetulnya adalah penjaga kaum (semacam marga). Seorang kakak ibu yang bergabung di PRRI sering masuk hutan dan dilindungi “datuk”-nya dari mara bahaya, termasuk terkaman harimau. Di Ranah Minang, satu kampung itu merupakan tempat tinggal satu kaum. Menurut cerita ibu saya yang pernah tinggal di Sumatera Barat itu manusia harimau itudari seorang datuk (kakek). Kadang ia bersembunyi di bawah kolong rumah gadang. Di ranah Minang, ada menyebut harimau sebagai Inyak (atau nenek). Seorang kakak ibu saya kerap melempar makanan agar disantap oleh harimau jelmaan manusia itu.
Di Banten terdapat cerita rakyat tentang Syekh Mansyurudin. Dalam pengembaraannya di Banten Selatan, Masyurudin bertemu harimau yang terjepit kakinnya di kima. Ia pun melepas jepitan itu dengan perjanjian harimau dan keturunannya tidak menganggu keturunan Mansyrudin. Harimau itu menyanggupinya.

PERANAN HARIMAU LORENG MENURUT MITOLOGI JAWA

PERANAN HARIMAU LORENG MENURUT MITOLOGI JAWA

  Berdasarkan kepercayaan masyarakat jawa kuno, harimau jawa dianggap sebagai raja hutan yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau mistis. Oleh karena itu harimau jawa disebut “Mbah loreng” yang artinya Kakek berjubah loreng. Ketika seseorang berjumpa dengan harimau jawa di hutan atau di ladang, maka orang tersebut akan memanggilnya mbah.Kepercayaan ini didasari oleh keyakinan masyarakat jawa bahwa mbah loreng itu memiliki peranan dalam menjaga ketentraman suatu desa. Mereka bisa berdialog dengan manusia menggunakan bahasa khusus yang hanya dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Harimau jawa ini memiliki pemimpin yang berasal dari makhluk gaib. Makhluk gaib itu disebut “mbah danyang” yang berwujud harimau putih. Mbah danyang ini memiliki tugas “mbahu reksa” atau melindungi desa dan juga memimpin segenap harimau loreng di hutan.
Jika masyarakat ingin membabat alas (membuka lahan hutan untuk pemukiman), seorang sesepuh warga akan harus membakar kemenyan serta membaca mantra jawa. Maka harimau putih akan datang dan kemudian terjadi dialog. Orang yang memanggil akan meminta ijin kepada mbah danyang untuk membabat alas sebagai pemukiman manusia, karena harimau loreng adalah sang raja hutan yang harus dimintai ijin terlebih dahulu.
Konon harimau jawa tidak ingin bertemu manusia. Karena jika bertemu dengan manusia maka mbah loreng ini akan kehilangan rejeki selama 40 hari. Sehingga harimau jawa selalu menghindari pertemuan dengan manusia sejak dahulu kala.

Harimau dan kucing
Masyarakat jawa kuno percaya bahwa kucing adalah neneknya harimau. Konon di dalam hutan mereka memiliki komunitas dan wujud mereka juga seperti manusia. Dikisahkan pada suatu hari sang nenek pergi ke kampung untuk meminta api kepada penduduk, sementara cucunya yang seekor harimau disuruh menunggu di hutan.
Ketika sang nenek tiba di kampung dan masuk ke dapur di rumah warga, nenek berwujud kucing ini melihat terasi diatas tungku. Terasi itu mengeluarkan bau yang gurih dan harum, lantas si kucing ini mencoba mencicipinya dan ternyata rasanya enak. Akibatnya kucing ini kerasan dan tidak mau kembali lagi ke hutan. Akhirnya sampai sekarang kucing tetap tinggal di kampung, sedangkan cucunya yang merupakan seekor harimau ditinggal di hutan bersama saudara-saudaranya.
Terkadang harimau jawa masuk ke kampung untuk menjenguk neneknya, namun mereka tidak pernah memangsa ternak atau memakan warga. Tidak ada ceritanya harimau jawa memakan manusia dalam sejarah jawa, karena ada perjanjian antara harimau dan manusia. Jika harimau jawa memakan manusia maka mereka akan kehilangan rejeki selama 40 hari atau terkena kutukan.
Menemukan anak harimau
Orang jawa percaya bahwa harimau jawa suka membalas budi. Jika ada orang menemukan anak harimau di hutan dan memberikan kalung bawang putih dan bawang merah kepada si anak harimau, maka malamnya sang induk harimau akan mendatangi rumah orang tersebut sambil membawa daging rusa dan diletakkan di depan pintu dengan maksud membalas budi.
Harimau jawa merupakan sosok raja hutan yang bijaksana dan tidak serakah. Mereka tidak mau mengganggu manusia dan tidak mau memangsa ternak. Karena mereka memiliki komunitas di hutan dan memiliki aturan seperti layaknya manusia. Kini harimau jawa tinggal kenangan dan kisah-kisahnya tetap dikenang oleh sebagian warga.
Namun dalam perkembangan terakhir, para peneliti membantah kalau harimau jawa punah. Mereka yakin bahwa harimau jawa masih ada hingga hari ini berdasarkan temuan-temuan kuat mereka. Hanya saja peneliti belum berhasil menunjukkan bukti foto terbaru.

Rabu, 26 April 2017

menonaktifkan gambar pada Mozilla Firefox

Ada kalanya kita ingin tetap internetan dengan kuota yang minim, saya pribadi sering menonaktifkan atau menghilangkan gambar pada Mozilla Firefox versi terbaru agar loadingnya ringan disaat sinyal sedang sulit, langkah-langkahnya sebagai berikut :

1. Tulis about:config pada address bar lalu enter.

2. Klik centang pada
“Tampilkan peringatan ini lagi nanti” dan klik “Saya berjanji akan berhati-hati” , untuk yang menggunakan bahasa lain disesuaikan sendiri.

3. Tulis
permissions.default.image
pada kolom “Cari” atau tulis saja permissions lalu pilih
permissions.default.image .

4. Klik kanan pada tulisan
permissions.default.image
dan pilih “Ubah”

5. Ganti angka 1 menjadi angka 2, tinggal diketik aja. Lalu Oke.

6. Proses selesai dan gambar menjadi nonaktif. Jika ingin mengaktifkan atau memunculkan lagi gambar di Firefox, tinggal ulangi langkah di atas dan ganti nomor 2 menjadi nomor 1. Semoga bermanfaat.

Tips : Biar nggak berkali-kali ngetik, about:config
dijadikan bookmark aja.

4 langkah jualan online sukses

4 Langkah untuk Mulai Berjualan Online Sampai Berhasil Mendapatkan Pembeli

Membayangkan berjualan online itu menarik sekaligus menyeramkan. Di satu sisi kita melihat ada kurang-lebih 90 juta pengguna internet di Indonesia, ada pasar besar di sini.
Tapi di sisi lain, sepertinya cara mulainya rumit.
Berurusan dengan teknologi, yang ngerasa gaptek sudah putus asa sebelum mulai.
Padahal seandainya ada langkah demi langkah yang bisa diikuti seperti melipat origami waktu TK dulu…pasti banyak penjual offline yang ikut online.
…Inilah panduannya.

Setelah membaca artikel ini, anda akan tahu apa saja yang bisa anda lakukan saat ini juga untuk mulai berjualan online.
Bahkan bagi yang baru pertama kali mengakses internet.
Satu kesalahan besar (yang masih saja dilakukan)
Sebenarnya berjualan secara online sekarang ini sangat mudah, sejak adanya marketplace (pasar online).
Contohnya seperti FJB Kaskus, OLX, Tokopedia.
Dalam 5 menit dari sekarang juga anda sudah bisa mulai jualan dan mendapatkan pembeli. Enak kan?
Atau di social media…Facebook, Instagram, dan BBM.
Bahkan beberapa penjual benar-benar hanya mengandalkan marketplace atau social media untuk berjualan, tanpa membuat website sendiri.
Memang bisa…
Tapi ada kelemahan besar di baliknya.
Pertama, tempat-tempat berjualan itu bukan milik anda sendiri. Ibaratnya anda menumpang jualan di rumah orang lain.
Akibatnya sewaktu-waktu anda bisa ditutup…
Selain itu, anda juga jadi terlihat tidak ada bedanya dengan penjual lain. Ini tidak bagus untuk jangka panjang, karena anda tidak akan dikenal.
Kedua, sulit berkembang.
Saya sering melihat orang yang 100% mengandalkan social media untuk berjualan. Bisnisnya stabil…tidak kehabisan pembeli memang, tapi dari dulu begitu-begitu saja.
Solusinya?
Gunakan keduanya.
Membesarkan website sendiri butuh waktu, anda bisa memanfaatkan marketplace dan social media untuk memperkenalkan mereka ke website anda sendiri.
Jangan bergantung 100% dengan pasar online, manfaatkan untuk mengembangkan website sendiri
CLICK TO TWEET
Langkah #0 – Belum tahu mau jualan apa?
Ini permasalahan terbesar dari orang yang ingin berbisnis.
(Kalau anda sudah tahu apa yang akan dijual, lanjutkan ke langkah #1)
Silahkan baca salah satu artikel ini:

1. 30 peluang usaha online
2. Membuat produk digital sendiri

Pilihan terbaik untuk yang rela sedikit lebih repot sebenarnya membuat produk sendiri. Produk digital tidak sulit dibuat asalkan sudah tahu apa
kemampuan anda yang bisa dijadikan produk .
Atau bisa juga menjual jasa.
Opsi lainnya, menjadi reseller atau dropshipper.
Untuk mencari supplier-nya, baca artikel pertama tadi.
Yang jelas, permasalahan ini harus anda selesaikan sendiri…karena andalah yang paling tahu apa yang ingin anda jual untuk bisnis jangka panjang.

Langkah #1
– Membangun pondasi website penjualan
Seperti yang sudah disebutkan tadi, menumpang di “rumah” orang lain saja tidak cukup. Dalam jangka pendek mungkin bisa…tapi tidak untuk jangka panjang.
Anda harus punya website sendiri.
Butuh biaya…untuk hosting dan domain.
Tapi biaya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pendapatan yang akan anda peroleh dari penjualan.
Kalau anda benar-benar mulai tanpa modal, 0 Rupiah, tidak perlu langsung membuat website. Jual produk/jasa pertama anda dulu baru gunakan uangnya untuk membangun website.
Harganya?
Biaya hosting per bulan hanya sekitar Rp 20.000 – 30.000 dan harga domain sekitar Rp 100.000 per tahun (atau kurang dari Rp 10.000 per bulan).
Dengan kata lain kalau misalnya profit anda 10ribu dari 1 produk, berarti terjual 2-4 sebulan juga sudah “balik modal”.
Bikin toko online atau jualan langsung?
Bicara tentang jualan online, biasanya berkaitan dengan toko online atau ecommerce.
Padahal mungkin anda tidak butuh toko online.
Sebagian besar orang biasanya hanya menjual 1-5 produk secara online. Kalau anda juga seperti ini, jangan membuat toko online yang punya bermacam-macam fitur.
Justru repot…
Waktu anda malah terbuang di pengaturan ini-itu. Padahal kalau jenis barang cuma sedikit, akhirnya website akan terlihat kosong.
Solusinya: buat 1 halaman untuk 1 jenis barang.
Jadi anda membuat satu halaman penjualan masing-masing untuk tiap produk. Di satu halaman ini berisi judul, gambar/video, penjelasan, dan cara membeli.
Tapi kalau anda punya puluhan produk, sistem ecommerce akan jadi lebih mudah.

1a. Tanpa sistem toko online
Sekali lagi, ini kalau anda hanya menjual 1-5 jenis produk/jasa.
Halaman seperti ini saja sudah cukup:
Meskipun tidak pernah membuat website sebelumnya, menyusun halaman seperti di atas hanya memakan waktu kurang dari 10 menit.
Pertama, baca panduan instalasi WordPress oleh Maxmanroe. (< 5 menit)
Pilih theme sesuai selera.
Atau langsung download dari website anda (Dashboard > Appearance > Themes > Add New).
(< 1 menit)
Buat page baru (Dashboard > Pages > Add New) untuk masing-masing produk. Sertakan semua informasi yang dibutuhkan produk tersebut di tiap halaman.
Baca panduan copywriting untuk landing page supaya halaman penjualan anda mampu menarik minat pembeli.
Selesai…
Tapi homepage-nya masih kosong.
Kalau anda hanya menjual 1 produk, gunakan halaman tadi sebagai homepage.
Atau anda bisa membuat 1 page khusus yang berisi daftar produk yang dijual, keterangan mengenai bisnis/diri anda, dan sebagainya.
Untuk mengatur halaman mana yang jadi homepage: Dashboard > Settings > Reading > Front page displays, pilih Posts page.
Langkah di atas merupakan cara paling sederhana yang bisa dilakukan oleh mereka yang ingin mulai tanpa modal dan tanpa pengetahuan coding sedikitpun.
Punya modal ekstra? Pertimbangkan menggunakan salah satu:
OptimizePress ($97/tahun)
LeadPages ($25/bulan)
Unbounce ($49/bulan)
Thrive Content Builder ($59)
Visual Composer ($33)
Tool dan plugin di atas akan memudahkan anda untuk membuat landing page dengan desain yang lebih indah, tanpa mengerti urusan teknikal.

1b. Dengan sistem ecommerce
Ecommerce lebih mudah daripada cara di atas apabila anda punya puluhan produk, karena sudah terintegrasi dengan sistem keranjang belanja, pembayaran, pengiriman, inventory, dan lain-lain.
Ada banyak pilihan ecommerce-nya, ini yang paling populer:
WooCommerce sendiri sebenarnya hanya sebuah plugin untuk WordPress.
Jadi kalau anda sudah terbiasa menggunakan WordPress, WooCommerce mungkin bisa jadi pilihan terbaik.
Ini seri panduan lengkap untuk membuat toko online dengan WooCommerce oleh Dapur Uang. Dari seri panduan ini saja anda akan bisa membuat toko online dari 0 sampai jadi.
Yang sama sekali tidak ingin repot, bisa gunakan jasa pembuatan toko online atau gunakan platform Shopify .

Langkah #2
– Membangun pondasi social media
Sebagai penjual, tentunya kita harus mengundang pembeli supaya datang…untuk itu kita akan masuk ke tempat yang banyak orangnya, social media.
Tapi ingat:
Social media adalah sarana pemasaran dan komunikasi dengan kustomer, BUKAN sebagai tempat jualan utama anda.
Undang mereka ke website anda untuk membeli.
Perlu diingat juga bahwa tidak semua produk/jasa bisa berhasil dipasarkan dengan social media. Lihat kembali target pasar anda.
Beberapa social media yang umum digunakan sebagai sarana pemasaran:
Facebook
Instagram
BBM
Twitter
Tidak harus semua…
Justru lebih sedikit lebih baik, karena anda bisa jadi lebih fokus.
Jadi pastikan dulu di awal, target pasar anda sebagian besar aktif di mana. Lalu anda juga akan aktif di social media yang sama.

2a. Facebook
Yang pertama kali harus anda lakukan:
1. Buat page untuk bisnis anda
2. Gunakan foto dan cover yang bagus
3. Lengkapi semua deskripsi usaha
4. Sertakan link ke halaman website
Jejaring sosial yang satu ini kelihatannya mudah, tapi sebenarnya justru paling sulit.
Oleh karena itu jangan sembarangan.
Facebook punya filter spam yang luar biasa ketatnya…parahnya lagi anda tidak akan diberitahu kalau anda sudah dicap sebagai tukang spam.
Makanya banyak orang yang justru jadi buang-buang waktu di Facebook.
Page ini punya lebih dari 27ribu like:
Tapi semua post-nya seperti ini…tidak ada yang berkomentar/like/share.
Mengapa bisa begitu?
Ada 3 kemungkinan penyebabnya:
Beli LIKE dari orang lain atau dengan iklan FB
Post-nya tidak ada yang menarik
Terlalu sering ngepost (optimalnya 2x sehari )
Jangan pernah beli like!
…meskipun menggunakan Facebook Ads yang resmi.
Kalau anda punya banyak follower, tapi tidak pernah ada yang berinteraksi dengan semua post anda…maka lambat laun semua post dari anda tidak akan pernah bisa muncul di News Feed orang lain.
Usahakan setiap post anda mendapatkan banyak like/share/komentar.
Ini yang bisa anda post:
Tren atau berita dalam industri yang terkait dengan bisnis anda
Foto yang menarik dengan kualitas yang baik
Kisah inspiratif atau kata mutiara
Foto produk – tetapi harus tetap menarik
Perbandingannya 9:1 , setelah 9 kali mengirim post yang menarik barulah anda boleh 1 kali mempromosikan produk.
Foto produknya pun harus tetap berkualitas.
Seperti ini:
(produk yang dijual keranjang tidur untuk camping)

2b. Instagram
Ini kenapa Instagram jadi populer untuk bisnis:
Di Facebook engagement rate tiap post hanya sekitar 0,05-1%, sementara di Instagram mencapai 4,21% . Artinya foto anda akan mendapatkan lebih banyak interaksi (berupa komentar/like).
Makanya di Indonesia (bahkan dunia) banyak bisnis yang aktif di Instagram.
Ini yang pertama kali anda lakukan di Instagram:
1. Buat akun (harus dari iOS/Android)
2. Lengkapi bio dengan kontak untuk dihubungi
3. Pasang link website di profil
Tips tiap kali mengirim foto ke Instagram:
Foto harus indah (kalau tidak bisa menyediakan foto yang bagus, lebih baik jangan gunakan Instagram)
Gunakan 5-10 #hashtag yang relevan
Jumlah post yang optimum 1-2 kali sehari (bisa lebih kalau memang foto dari anda menarik)
Untuk foto produk sertakan juga deskripsi, harga, dan cara membeli
Jangan berkomentar spam ke foto orang lain yang tidak berkaitan
Mari kita lihat contoh yang salah dulu:
Fotonya sama sekali tidak menarik untuk dilihat…ditambah lagi banyak foto yang diulang-ulang. Follower anda akan kabur kalau seperti ini caranya.
Selanjutnya kita lihat contoh yang baik, dari
BerryBenka . Dengan 50ribu follower.
Mereka menaruh slogan, kontak, dan link website di profil. Foto yang di-post juga menarik untuk dilihat karena kualitasnya bagus.
Ini foto produknya:
Disertai penjelasan, hashtag, harga, dan cara membeli.
Karena fotonya bagus, maka follower yang tidak ingin untuk membeli pun tidak akan unfollow.

2c. BBM (BlackBerry Messenger)
Salah satu aplikasi chatting terbesar di Indonesia yang sering disalahgunakan.
Meskipun banyak yang mengaku BBM bisa sebagai tempat berjualan, tapi sebagian besar orang yang berjualan di aplikasi ini gagal.
Malah mungkin tidak ada yang berhasil, dalam jangka panjang.
Itu karena BBM memang bukan tempat jualan…kita aktif di BBM bukan untuk mencari produk, melainkan untuk berkomunikasi.
Maka dari itu manfaatkan lah aplikasi ini untuk komunikasi saja.
Ini yang harus anda lakukan di BBM:
1. Buat akun
2. Gunakan nama, foto, dan personal message yang mewakili bisnis anda
3. Taruh PIN BBM di website dan social media
4. Jangan pernah kirim broadcast message
5. Jangan gonta-ganti foto & personal message
6. Jangan invite kontak sembarangan
Saran di atas bertentangan dengan artikel-artikel lain yang mungkin pernah anda baca sebelumnya.
Karena memang pada kenyataannya, tidak ada orang yang suka mendapatkan pesan broadcast yang berisi penjualan. Meskipun dari penjual yang mereka add sendiri sebelumnya.
Begitu pula dengan update foto dan personal message.
Lama-kelamaan kontak anda pasti akan dihapus.
Solusinya bagaimana?
…tidak ada solusi.
Kalau anda tidak ingin bisnis anda dibenci oleh orang lain, jangan pernah gunakan BBM untuk berjualan.
Sebagai alternatif, coba gunakan LINE@ .
Konten yang anda kirimkan tetap harus menarik, sama seperti tips pada Instagram dan Facebook.
Jangan salah paham dulu…
Saya tidak menyuruh anda untuk tidak menggunakan BBM sama sekali.
Ada baiknya anda tetap punya akun BBM karena BBM masih merupakan sarana berhubungan yang paling umum dan murah dengan calon kustomer secara online.

Langkah #3
– Mendapatkan penjualan pertama
Membuat pondasi website dan social media itu mudah…tantangan sebenarnya adalah mendapatkan pembeli pertama anda.
Tidak bisa menjual berarti bisnis anda akan gagal.
Ada beberapa faktor penentu keberhasilan penjualan yang sudah jelas. Misalnya harganya bersaing, kualitasnya baik, pelayanannya ramah.
Mari kita asumsikan anda sudah yang terbaik dalam 3 hal itu.
Belum tentu juga bisa mendapatkan pembeli…
Mengapa?
Karena 90% yang ada di pasaran sama dengan anda. Harga dari si A dan si B tidak jauh berbeda, kualitasnya pun sama-sama unggul. Kalau begitu, ketiga hal tadi tidak lagi relevan… ya kan?
Harga rendah, kualitas tinggi, pelayanan ramah…ini saja belum cukup.
Jadi yang lebih penting yaitu bagaimana anda bisa muncul di depan wajah mereka, dan meyakinkan mereka untuk membeli dari anda.
Dalam langkah ini kita akan membahas cara mendapatkan pembeli bagi anda yang baru mulai berjualan online.
Satu hal lagi:
Jangan (hanya) mengandalkan SEO .
Anda butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa mencapai halaman pertama. Ditambah lagi kalau anda cuma bergantung dengan SEO, kemungkinan besar anda tidak akan pernah berhasil.
Hasil dari SEO nanti akan datang dengan sendirinya…
Untuk sekarang, lakukan langkah-langkah ini:

3a. Gabung di pasar online
Meskipun tadi saya mengatakan bahwa anda sebaiknya tidak memanfaatkan marketplace untuk jangka panjang, tapi dalam prakteknya sangat efektif untuk mendapatkan pembeli.
Terutama ketika anda baru pertama kali berjualan.
Ini karena di website-website tersebut sudah ada banyak orang yang siap membeli.
Ada 2 kondisi dimana marketplace jadi efektif:
1. Produknya sudah umum dicari (misalnya:
kabel charger iPhone )
2. Anda tidak tahu bagaimana cara mendatangkan pengunjung
Mengembangkan website sendiri butuh waktu…
Tidak bisa website baru langsung dikenal oleh banyak orang dalam waktu instan.
Karena itu berjualan di marketplace bisa jadi solusinya sambil memperkenalkan bisnis anda dan website anda. Tapi, ingat lagi…jangan 100% mengandalkan marketplace.
Ini beberapa marketplace yang populer di Indonesia:
1. Tokopedia
2. FJB Kaskus
3. BukaLapak
4. OLX

3b. Buat konten dan distribusikan
Tidak ada yang ragu bahwa social media dan situs komunitas merupakan tempat terbaik untuk mendatangkan pengunjung dengan cepat.
Tapi banyak juga yang gagal…karena cara promosinya salah.
Ini masalahnya:
Mereka langsung mempromosikan link menuju homepage-nya atau halaman penjualannya ke situs komunitas.
Di internet ada 3 jenis orang:
1. Mencari informasi
2. Mencari hiburan
3. Membeli produk/jasa
Dan yang ada di situs komunitas hanya tipe 1 dan 2.
Artinya kalau anda menaruh link yang isinya tentang penjualan, hasilnya ada 2: ditendang keluar, atau dicap sebagai spammer.
Percuma.
Tapi meskipun begitu bukan berarti anda tidak bisa promosi di situs komunitas…bisa, caranya yang harus diubah.
Seperti ini:
1. Temukan situs komunitas yang sesuai dengan bisnis anda
2. Cari permasalahan utama dari orang-orang di sana
3. Buat konten yang bisa menjadi solusi permasalahannya
4. Distribusikan
Karena sebagian besar orang yang ada di internet ingin mendapatkan informasi, maka strategi seperti ini sangat efektif untuk memperkenalkan mereka dengan bisnis anda dan mendapatkan pembeli.
Bukan hanya itu, website anda juga akan jadi mudah ditemukan lewat mesin pencari.
Lebih lanjut mengenai ini, baca panduan content marketing.

3c. Mulai bereksperimen dengan Facebook Ads dan Google AdWords
Facebook Ads dan AdWords merupakan 2 platform iklan digital terbesar saat ini. Selain volumenya besar, kualitas pengunjung dari keduanya juga tinggi karena tepat sasaran.
Kalau anda punya budget pemasaran, gunakan salah satu atau keduanya.
Panduan mulai beriklan:
1. Beginner’s Guide to Facebook Advertising – AdEspresso
2. Facebook Ads Guide
3. AdWords Step by Step Starter Guide
Dibandingkan dengan metode pemasaran lain, iklan bisa mendatangkan banyak pengunjung sekaligus dalam waktu singkat.
Tetapi karena butuh biaya, maka anda harus bereksperimen untuk mendapatkan hasil terbaik dengan biaya terendah.
Pertanyaan terbesarnya:
Pilih Facebook atau AdWords?
Tidak ada jawaban yang pasti. Semua tergantung apa yang anda jual, dan ke siapa anda menjual…selain juga selera pribadi.
Ini kira-kira yang bisa anda jadikan pertimbangan:
1. Kalau keyword yang anda inginkan banyak dicari lewat Google, gunakan AdWords. Kalau tidak, gunakan Facebook
2. Interest dan demografi di Facebook lebih akurat
3. Untuk konversi penjualan, AdWords lebih unggul (tapi umumnya harga per klik lebih mahal)
4. Untuk konversi non-penjualan, Facebook lebih unggul
Beriklan secara online itu bereksperimen, anda hanya akan tahu mana yang terbaik setelah mencoba.

3d. Dapatkan endorsement dari selebgram
Meskipun secara pribadi saya belum pernah mencoba yang ini, tapi sepertinya banyak orang Indonesia yang mengaku mendapatkan hasil positif setelah di-endorse oleh seleb Instagram.
Cara kerjanya seperti ini:
1. Cari akun Instagram yang followernya banyak dan merupakan target pasar yang tepat
2. Kirimkan mereka produk dari anda dengan gratis
3. Mereka akan merekomendasikan produk anda kepada followernya lewat foto
Jadi tanpa biaya tambahan selain mengirimkan produk.
Contohnya:
Ini bentuk yang paling sederhana, hanya berupa mention.
Ada tips yang lebih lanjut:
Kalau anda ingin mendapatkan banyak follower, bisa juga dengan cara membuat kontes kecil-kecilan.
Minta kepada si selebgram untuk memberitahu followernya bahwa anda mengadakan kontes untuk mendapatkan produk yang di-endorse.
Misalnya anda punya produk kosmetik.
Untuk bisa mendapatkan produk anda secara gratis, mereka harus mem-follow anda. Nantinya pemenangnya anda pilih dari daftar follower.
Bisa juga ditambah untuk menyuruh mereka mengupload foto koleksi make-upnya.
Dengan begitu, jangkauan akan semakin luas dan mereka punya alasan untuk mem-follow akun anda.
Tapi ingat, sebelum mulai akun anda sendiri sudah harus punya foto-foto yang menarik.
Thread di Kaskus ini punya segudang penjelasan tentang edorsement di Instagram.

3e. Dapatkan endorsement dari blogger
Sama seperti langkah 3d di atas, bedanya ini dari blogger. Jadi tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi.
Cara mencari bloggernya:
1. Lewat Google: gunakan kata kunci – blogger + “topik”
2. Komunitas blogger: seperti Blogger Perempuan
3. Grup blogger di Facebook
Yang perlu diperhatikan dalam memilih blogger:
1. Kualitas kontennya
2. Desain websitenya
3. Traffic-nya
4. Komentar para pembacanya

3f. Lakukan AMA ( Ask Me Anything ) di forum komunitas
Sama seperti social media, forum online juga merupakan tempat yang sangat efektif untuk mendapatkan pembeli.
Tapi (lagi-lagi) anda akan diusir kalau hanya promosi.
Untuk bisa mempromosikan bisnis, anda minimal harus memberikan manfaat kepada anggotanya. Ini bisa dengan membuat thread/diskusi yang menarik atau menjawab thread orang lain.
Atau dengan menggabungkan keduanya:
Mengadakan AMA.
Istilah ini saya pinjam dari situs komunitas internasional, Reddit. Artinya ask me anything atau tanyakan apapun kepada saya (tentunya yang berkaitan dengan suatu topik).
Ini contohnya di Reddit:
Si orang ini membuat thread yang mempersilahkan anggota lain untuk menanyakan apapun tentang game research/analytics…dan ada 50 orang yang bertanya.
Perhatikan bahwa dia juga mengumumkan kalau dia meluncurkan produk baru.
Kedua pihak sama-sama diuntungkan.
Produknya dikenal oleh banyak orang…sementara orang lain bisa bertanya-tanya mengenai berbagai hal yang menarik buat mereka.
Topik dari AMA harus sesuai dengan bisnis anda…dalam kasus tadi produknya berkaitan dengan game research/analytics.
Oke, itu di luar negeri…bagaimana dengan Indonesia?
Ada juga, meskipun belum banyak:
Itu beberapa yang sudah mencoba melakukan.
Karena sebagai penjual anda (mestinya) paham betul dengan industrinya, maka tanya jawab seperti ini bukan masalah besar.
Misalnya anda menjual baterai smartphone, adakan AMA tentang baterai smartphone…akan ada banyak yang bertanya misalnya cara supaya baterainya awet.
Atau kalau anda seorang instruktur fitness, adakan tanya jawab soal bodybuilding.

Langkah #4
– Dari sekedar jualan menjadi sebuah bisnis
Berhasil menjual bukan berarti berhasil berbisnis. Sukses menjual kepada sekian ratus orang saja bukan berarti anda sudah punya sebuah bisnis.
Ada perbedaan besar.
Kalau anda hanya menjual, maka besar kemungkinannya beberapa tahun atau bulan ke depan aliran pemasukan anda berhenti.
Sedangkan target kita adalah membangun bisnis dengan jangka panjang.
Bahkan sampai anda usia pensiun nanti.
Lalu apa bedanya menjual dengan berbisnis?
Ini:
Gambar di atas biasa disebut marketing funnel, atau perjalanan seorang kustomer dari belum kenal sampai memutuskan untuk membeli.
Penjelasannya seperti berikut:
1. Awareness : sadar dengan keberadaan anda
2. Interest : tertarik dan ingin mempelajari lebih lanjut
3. Consideration: memutuskan untuk mencoba
4. Purchase : membeli
5. Retention: tetap menggunakan layanan anda, loyal
6. Advocacy: merekomendasikan anda kepada orang lain
Kalau anda hanya menjual, berarti prosesnya berhenti di nomor 4 — purchase.
Seorang penjual tidak memikirkan tahapan berikutnya yaitu retention dan advocacy yang merupakan hal utama dalam kelangsungan bisnis…kepuasan pelanggan.
Akibatnya ada 2:
Penjualan tidak berkembang
Lama-kelamaan usahanya akan mati
Retention dan advocacy tidak hanya diperoleh dari kualitas produk saja.
Karena kualitas (dan harga) itu sudah jadi spek dasar…orang tidak akan membeli kalau tidak memenuhi keduanya. Jadi semua yang ada di pasaran pasti sudah bersaing.
Jadi penentu kepuasan bukan cuma itu.
Maka dari itu anda harus melihat marketing funnel ini secara keseluruhan dari 1-6, bukan hanya fokus pada bagian menjual-menjual-menjual.

4a. Lakukan content marketing
Content marketing merupakan pemegang peranan terbesar dalam siklus marketing funnel.
Contohnya seperti yang sudah dijelaskan tadi, supaya orang lain bisa mengenal anda maka anda sebaiknya menyediakan konten yang bermanfaat.
…itu tahap awareness.
Bagaimana dengan iklan? Bukannya iklan lebih efektif mendatangkan banyak pengunjung?
Memang.
Tapi tidak semua bisnis bisa mengandalkan iklan untuk langsung mendapatkan penjualan. Lebih efektif kalau kita membuat mereka tertarik dulu…sambil membangun rasa percaya.
Artinya, meskipun dalam iklan anda butuh konten.
Untuk membangun awareness, jenis konten yang terbaik adalah yang mengedukasi dan memberikan manfaat.
Seperti konten yang dibuat Traveloka:
Karena bisnis startup mereka berhubungan dengan penjualan tiket pesawat dan hotel, maka mereka menyediakan konten panduan berwisata di Singapura melalui blognya.
Jadi orang yang ingin berwisata ke Singapura akan menemukan situs mereka.
Dan sebagian pembaca akan memutuskan langsung membeli tiket di Traveloka.
Untuk menyusun strategi content marketing anda sendiri, silahkan ikuti panduan content marketing ini .

4b. Lakukan list building dan email marketing
List building artinya proses mengumpulkan email dari calon kustomer.
Sedangkan email marketing merupakan proses pemasaran dengan email sebagai medianya.
Apa hebatnya email?
Email marketing memberikan ROI sebesar 4.300%
66% kustomer memutuskan untuk membeli atas hasil email marketing
Statistik di atas dikutip dari Direct Marketing Association, 2013 .
Ini karena email selalu jadi bagian dari kebiasaan kita. Bahkan karena email sudah terintegrasi dengan smartphone, maka email bisa (dan akan) jadi lebih efektif daripada SMS.
Jadi email terasa lebih personal daripada konten yang ditemui di blog misalnya.
Alurnya seperti ini:
1. Pengunjung datang ke website karena upaya content marketing
2. Tertarik dengan konten, lantas mereka mendaftarkan emailnya
3. Anda mengirimkan konten yang bermanfaat lewat email
4. Terakhir, melakukan penjualan lewat email
Kalau dilihat di marketing funnel tadi, email marketing merupakan metode yang tepat untuk mengoptimasi upaya pemasaran anda pada bagian consideration.
Itu sebabnya ROI dari email sangat tinggi.
Untuk mulai melakukan email marketing, baca
panduan list building ini.
Jadi dengan menggabungkan content marketing dan email marketing, hubungan positif dengan pembeli juga akan tetap terjalin.
Sehingga bisnis anda sekarang sudah menyentuh keenam poin di marketing funnel.
Bukan hanya itu…
Bisnis anda menjadi sebuah siklus yang tidak berakhir. Anda sekarang sudah punya sistem untuk mendatangkan pengunjung dan menjual secara otomatis.
Sekian! Saatnya mulai jualan…
Itulah semua tahapan yang perlu anda ketahui untuk mulai berjualan.
Tidak sulit kan?
Semua langkah di atas tidak membutuhkan skill apapun untuk memulai, anda bisa belajar sambil jalan.
Tapi saya yakin masih ada juga yang akan berpikir ini sulit…
(Terutama mungkin karena panjang)
Maka dari itu, untuk tahu apakah ini sulit atau tidak…buktikan sendiri dengan langsung mencoba.

Senin, 17 April 2017

arti sabuk karate

Setiap warna dalam sabuk karate menandakan adanya tingkatan yang di setiap tingkatan ditandai dengan perubahan warna. dimulai dari putih sampai hitam.Gichin Funokashi yang merupakan Pendiri dari Karate Shotokan, dan sering dikatakan sebagai pendiri karate Modern.Beliau mengadopsi sistem persabukan karate dan kosep philosopisnya dari Dr. Jigoro Kano.

Berikut tingkatan sabuk dalam karate beserta filosofi dan artinya

1.Sabuk Putih
Warna Putih menandakan awal kelahiran, dari sebuah benih. Seorang Siswa dengan sabuk putih, merupakan seorang pemula untuk mencari pengetahuan tentang seni. Sabuk putih merupakan awal dari siklus kehidupan, dan merupakan representative dan benih yang berada di bawah salju musim dingin.

2.Sabuk Kuning .
Warna Kuning menandakan Sinar matahari yang untuk pertama kali memberikan kekuatan baru atau awal kehidupan baru pada sebuah benih. Seorang praktisi beladiri dengan sabuk kuning akan diberikan untuk pertama kalinya cahaya pengetahuan, yang akan membuka pikiran dan hatinya dari seorang pelatih.

3.Sabuk Oranye .
Warna Oranye memaknakan tentang tumbuhnya kekuatan matahari yang menghangatkan bumi sebagai persiapan untuk sebuah kehidupan baru di musim semi. Sabuk Oranye sedang mulai merasakan terbukanya perkembangan tubuh dan pikiran.

4.Sabuk Hijau
Warna Hijau mempunyai arti tumbuhnya suatu benih seperti kecambah dari tanah menuju cahaya matahari, dan mulai tumbuh menjadi sebuh tanaman. Seorang Karateka sabuk hijau sedang belajar untuk memperkuat dan menyempurnakan pikiran dasarnya.

5.Sabuk Biru
Warna Biru mempuyai makna sebagai Langit yang biru. Tanaman akan terus tumbuh ke atas. Seorang Karateka dengan sabuk biru dimaknai seperti tanaman yang tumbuh terus mencapai ke tingkat yang paling tinggi . Cahaya matahari memberikan tanaman untuk terus tumbuh. Seorang Karateka akan terus di beri pengetahuan tambahan tentang pengetahuan dan seni sehingga jiwa dan raganya akan terus berkembang lebih baik.

6.Sabuk Ungu
Warna Ungu mempresentasikan langit perubahan langit menuju fajar (permulaan). Sebagai seorang siswa dalam mempersiapkan transisi perubahan kepada siswa selanjutnya. Sabuk Ungu mulai untuk memahami arti dari sabuk hitam.

7.Sabuk Coklat
Warna coklat menandakan sebuah benih yang sudah matang. Seorang dengan sabuk coklat merupakan siswa lanjutan yang memahami think – tehnik dam memulai dewasa. Dan mulai memahami buah dari kerja kerasnya sebagai pemula.

8.Sabuk Merah
Warna Merah menandakan panas merah-panas Matahari sebagai tanaman terus tumbuh ke arah itu. Sebagai mahasiswa sabuk merah memperoleh pengetahuan yang lebih rinci, seperti tanaman tumbuh perlahan-lahan ke arah Matahari, sehingga mahasiswa sabuk merah belajar untuk lebih berhati-hati dengan pengetahuan dan kemampuan fisik. Merah adalah tanda bahaya, dan sabuk merah mulai menjadi berbahaya dengan pengetahuan dan kemampuan mereka.

9.Sabuk Hitam
Hitam dimaknai sebagai kegelapan di luar matahari, Seorang dengan sabuk hitam mencari hal-hal baru, pengetahuan yang lebih dalam tentang seni, Dia mulai memberikan pengajaran tehadap orang lain. Dia menanamkan benih baru dan menolongnya untuk tumbuh lebih dewasa. Muridnya yang akan memberikan akar kedalam seninya, tumbuh, berkembang dalam proses yang tiada akhir.
Arti Dari Makna Tingkatan Sabuk Karate

ISTILAH DALAM KARATE

ISTILAH DALAM KARATE
TINGKATAN DALAM KARATE
1 KYU : Tingkatan di bawah Sabuk Hitam
2 DAN : Tingkatan Sabuk Hitam, dari tingkat pertama sampai DAN 10
3 MUDANSHA : Tanpa tingkatan, khusus bagi murid di bawah Sabuk Hitam
4 YUDHANSHA : Sabuk Hitam dari pertama sampai DAN 10
KEDUDUKAN PERSONAL
1 DENSHI : Semua murid-murid tanpa menghiraukann tingkatan
2 KOHAI : Murid yunior
3 SENPAI : Kakak perguruan senior
4 SENSEI : Guru (Sabuk Hitam) yang berkompeten mengajar
5 SHIHAN : Master (instruktur) tingkatan yang sangat tinggi, di atas DAN V
TINGKATAN SABUK HITAM
SHODAN : Sabuk Hitam DAN I
NIDAN : Sabuk Hitam DAN II
SANDAN : Sabuk Hitam DAN III
YONDAN : Sabuk Hitam DAN IV
GODAN : Sabuk Hitam DAN V
ROKUDAN : Sabuk Hitam DAN VI
SHICHIDAN : Sabuk Hitam DAN VII
HACHIDAN : Sabuk Hitam DAN VIII
KUDAN : Sabuk Hitam DAN IX
JUDAN : Sabuk Hitam DAN X
ISTILAH dan EKSPRESI
CHUDAN : Tingkat menengah
CHUI : Peringatan
DESHI : Murid
DOJO : Pedepokan
GEDAN : Tingkatan lebih rendah
HAJIME : Mulai
JODAN : Tingkatan lebih tinggi
KATA : Rangkaian gerakan karate
KARATE-GI : Seragam karate
KIAI : Metode yg khas dlm beladiri Jepang
KIHON : Latihan Dasar
KIHON KUMITE : Lawan yg sdh diatur sebelumnya
KIME : Konsentrasi penuh dlm penghimpun tenaga
KUMITE : Perkelahian
MA-AI : Jarak
MAWATE : Berbalik
MAKIWARA : Pemecahan
OSU : Sapaan karateka
SEITO : Murid
SHI-AI : Even
SHOBU : Pertarungan
SHOMEN : Ruang buat tamu khusus
YAME : Berhenti
YOI : Bersiap
ANGKA DALAM BAHASA JEPANG
ICHI : Satu
NI : Dua
SAN : Tiga
SHI : Empat
GO : Lima
ROKU : Enam
SHICI : Tujuh
HAC HI : Delapan
KU : Sembilan
JU : Sepuluh
KUDA-KUDA
DACHI : Cara berdiri
FUDO DACHI : Sikap dasar berdiri
HEISUKO DACHI : Sikap berdiri bebas
JIYO DACHI : Berdiri dg sikap bebas
KOKUTSU DACHI : Berdiri membelakangi
MAE DACHI : Berdiri dg mengarah ke depan
NIKO ASHI DACH I : Cat Stance
SANCHIN DACHI : Hour glass stance
ZENKUTSU DACHI : Berdiri mengedepan
Ippon nukite yaitu Serangan satu jari tangan
Ippon nukite uchi yaitu Tangkisan satu jari
Jiku ashi yaitu Pusat putaran kaki
Jiyu dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) bebas
Jiyu ippon yaitu kumite Satu serangan dari posisi pertarungan (kumite) bebas
Jodan yaitu Tingkat yang lebih tinggi dari kepala
Juji uke yaitu Tangkisan menyilang (x)
Kage uki yaitu tangkisan berkait
Kage zuki yaitu Pukulan berkait
Kai ashi yaitu Langkah ke depan
Kaishu yaitu Tangan terbuka
Kaiten yaitu Perputaran
Kakato yaitu Tumit kaki
Kakato geri yaitu Tendangan tumit (dari atas ke bawah)
Kakiwaki uke yaitu Tangkisan langkah pertama dari kekalahan
Karate ni sente nashi yaitu Karate bukanlah yang bergerak pertama kali
Karate wa sente nari yaitu Karate lah yang bergerak pertama kali
Keage Tendangan ayunan yang melingkar ke depan/ke belakang
Keito uke yaitu Tangkisan pergelangan tangan (kepala ayam)
Kekomi yaitu Tendangan menekan
Ken Tinju
Kesa geri yaitu Tendangan diagonal
Kensei yaitu Teknik yang dilaksanakan dengan kiai yang diam
Kiba dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) menunggang kuda
Kin geri yaitu Tendangan selangkang
Kizami tsuki yaitu Pukulan pertama dengan tinju (tangan) yang di depan
Koko uchi Tangkisan mulut harimau
Kokutsu dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) belakang
Kosa yaitu Penyeberangan
Kosa dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) menyeberang
Kosa uke yaitu Tangkisan menyilang
Koshi yaitu Bola kaki
Koshi kaiten yaitu Perputaran pinggul
Koshi sabaki yaitu Pergerakan pinggul
Kuatsu yaitu Ilmu pengetahuan tentang kebangkitan
Kumade yaitu Tangan beruang (teknik tangan)
Kumade uchi yaitu Tangkisan cakaran beruang
Kuzushi waza yaitu Teknik untuk mematahkan keseimbangan
Mae yaitu Depan
Mae empi yaitu Serangan menyiku ke depan
Mae empi uchi yaitu Tangkisan depan menyiku
Mae geri keage yaitu Tendangan tamparan kaki depan
Mae geri kekomi yaitu Tendangan menempel (menyodok) kaki depan
Manji uke yaitu Tangkisan tinggi/rendah
Mawashi yaitu Berputar
Mawashi empi uchi yaitu Tangkisan siku memutar
Mawashi geri yaitu Tendangan memutar
Mawashi tsuki Pukulan (tinju) memutar
Mawatte Berputar ke belakang (menghadap ke belakang)
Metsuke yaitu Melihat
Migi Kanan
Migi ashi orishiku Sikutan lutut kanan
Mika zuki geri Tendangan tambahan
Morote uke yaitu Meningkatkan tangkisan
Morote tsuki yaitu Pukulan sejajar (paralel)
Moto dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) asli
Musubi dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) berdiri formal (kaki membentuk "V")
Nagashi uke Tangkisan menyapu
Naiwan yaitu Belakang lengan
Nakadaka ippon kenyaitu Kepalan dengan jari tengah lurus
Name ashi geri yaitu Tendangan gelombang yang berputar
Nami ashi yaitu Tangkisan kaki kedalam
Naore Kembali ke posisi (kuda-kuda) Shizen-tai
Neko ashi dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) kucing
Nidan geri yaitu Tendangan ganda
Nihon nukite yaitu Kepalan dengan dua jari lurus (telunjuk & jari tengah)
Nihon nukite uchi yaitu Tangkisan dengan dua jari lurus (telunjuk & jari tengah)
Nihon tsuki yaitu Pukulan ganda
Nukite yaitu Pukulan dengan jari lurus kecuali ibu jari (tangan terbuka)
Oi tsuki yaitu Pukulan menerjang/menghujam
Oi gyaku tsuki yaitu Pukulan menerjang kembali
Osae Menekan; memaksa
Osaekomi waza yaitu Pegangan
Osae uke yaitu Tangkisan memegang
Otoshi empi uchi yaitu Tangkisan siku kebawah
Otoshi tsuki Pukulan kebawah
Otoshi uke Tangkisan kebawah
Ren geri Tendangan ganda; kombinasi tendangan
Renoji dachi Posisi (kuda-kuda) L
Ren tsuki Pukulan ganda; kombinasi pukulan
Renzoku waza Keseluruhan ilmu pengetahuan tentang teknik kombinasi
Ryoken Kedua pukulan
Ryowan Kedua lengan
Ryowan uchi uke Tangkisan ganda kedalam
Sai yaitu Pisau bercabang dua
Sabaki yaitu Gerakan dalam ruang
Sanbon tsuki yaitu Pukulan (tinju) tiga kali
Sanchin dachi Posisi (kuda-kuda) jam gelas
San tsuki yaitu Tiga pukulan
Sashi ashi yaitu Melangkahi
Seiken yaitu Kepalan (tinju) bagian depan
Seiryuto uke yaitu Tangkisan lembu jantan
Sen no sen yaitu Menyerang ketika lawan juga menyerang
Sen sen no sen yaitu Menyerang terlebih dahulu sebelum lawan memulai
Shihon nukite uchi yaitu Tangkisan tangan tombak
Shiko dachi Bergerak kesamping - mengarahkan posisi kaki
Shime waza Keseluruhan ilmu pengetahuan tentang teknik mencekik
Shintai yaitu Pergerakan tubuh
Shizen tai dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) berdiri biasa; posisi rileks
Sho yaitu Lebih sedikit / lebih kecil, kecil, berawal
Shorei yaitu Lambat, pergerakan yang kuat, penekanan kekuatan
Shorin yaitu Pergerakan yang cepat, penekanan kecepatan
Shuto uchi yaitu Tangkisan pisau tangan (dari dalam)
Shuto uke yaitu Tangkisan pisau tangan
Sochin dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) kaki mengangkang
Soete yaitu Tangan terbuka
Sokumen awase uke Kombinasi tangkisan samping
Sokuto Tepi luar (pisau) dari kaki
Soto mikazuki geri Tendangan bulan sabit dari samping
Soto shuto uchi Tangkisan pisau tangan samping
Soto ude uke Tangkisan sebelah luar lengan
Sukui Menyodok
Sukui uke Tangkisan menyodok
Sun dome Teknik menghentikan serangan sebelum mengenai sasaran
Suri ashi yaitu Gerakan meluncur (dimulai dari kaki depan)
Tai Tubuh;yaitu posisi menanti
Tai sabaki yaitu Pergeseran tubuh
Taikyoku yaitu Penyebab pertama
Tameshiwara yaitu Percobaan dengan mematahkan
Tate empi uchi Tangkisan siku keatas
Tate ken Tinju keatas
Tate shuto yaitu Pisau tangan keatas
Tate shuto uke Tangkisan pisau tangan keatas
Tate tsuki Pukulan tinju keatas
Te nagashi uke Tangkisan berupan sapuan (elak) tangan
Teiji dachi Posisi (kuda-kuda) T
Teisho Penyembunyian tumit kaki
Teisho uchi Bergerak dengan bola ibu jari
Teisoku yaitu Bagian bawah kaki
Tekubi yaitu Pergelangan tangan
Tettsui yaitu Tangkisan pukulan palu, kepalan bawah
Tettsui uchi yaitu Tangkisan kepalan bawah
Te wazza yaitu Teknik tangan
Tobi yaitu Melompat
Tobi geri Tendangan melompat
Tsugi ashi Teknik meluncur (dimulai dari kaki belakang)
Tsukami yaitu Cadangan
Tsukami uke Tangkisan cadangan
Tsuki (Zuki) yaitu Pukulan
Tsuki waza yaitu Ilmu pengetahuan tentang memukul
Tsumasaki Saran (dari Jari atau Jari Kaki)
Tsuru ashi dachi Posisi (kuda-kuda) menjulur
Uchi Dalam, tangkisan
Uchi majiri Teriakan (perkelahian)
Uchi mikazuki geriyaitu Tendangan bulan sabit dari dalam
Uchi shuto uchi yaitu Tangkisan pisau tangan dari dalam
Uchi ude uke yaitu Tangkisan lengan bawah dari dalam
Uchi waza Iyaitu lmu pengetahuan tentang teknik menghembus
Ude Lengan bawah
Uke Tangkisan
Uke waza Ilmu pengetahuan tentang teknik menangkis dan bertahan
Ukemi Jatuh, latihan jatuh
Ura tsuki Pukulan (tinju) tertutup
Uraken yaitu Tinju (pukul) kembali
Uraken uchi Tangkisan kembali
Uramawashi geri yaitu Tendangan setengah melingkar berbalik
Ushiro yaitu Belakang
Ushiro empi Sikutan berputar kebelakang
Ushiro empi uchi yaitu Sikutan kembali berputar kebelakang
Ushiro geri Tendangan belakang dengan cara menghujam
Ushiro mawashi geriyaitu Tendangan belakang setengah melingkar
Ushiro uramawashi geri yaitu Tendangan berputar kebelakang dengan setengah lingkaran
Wan yaitu Lengan
Washide uchi Tangkisan patukan elang
Yama tsuki yaitu Pukulan (tinju) melebar "U"
Yoko yaitu Samping
Yoko empi yaitu Sikutan samping
Yoko empi uchi yaitu Tangkisan siku samping
Yoko mawashi empi uchi yaitu Tangkisan siku samping menyodok
Yoko geri yaitu Tendangan samping
Yoko geri keage yaitu Tendangan samping menempel
Yoko geri kekomi yaitu Tendangan samping menyodok
Yori ashi yaitu Peluncuran kaki
Zenkutsu dachi yaitu Posisi (kuda-kuda) depan
Zuki (Tsuki) yaitu Pukulan (tinju)

Minggu, 16 April 2017

SUNDA itu adalah SU-NA-DA

SUNDA itu adalah SU-NA-DA

Kalimat “Sunda” dari kitab “Sastrajendra Hayuningrat” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari", yang mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”.
SU-NA-DA
- SU = Sejati/ Abadi
- NA = Api
- DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung
Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” ( Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon ). Sedangkan kata “Sastrajendra Hayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;
- Su = Sejati/ Abadi
- Astra = Sinar/ Penerang
- Ajian = Ajaran
- Ra = Matahari ( Sunda ), ( Greek ) Mesir
- Hayu = Selamat/ Baik/ Indah
- ning = dari
- Ratu = Penguasa (Maharaja)
Dengan demikian “Sastrajendra Hayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari - Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari - Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya adalah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”.
“Sunda” menurut saya sama sekali mungkin bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulau Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau kepercayaan / kebudayaan tertua ( Ancient ), yang keberadaannya jauh sebelum ada jenis kepercayaan apapun yang dikenal sekarang, terpikir dari cerita cerita mitos atau legenda pewayangan yang dipelosok dunia ini saya yakin hampir mirip. Cerita Zeus , Barata Yuda, sampai dengan mitos The Lost Atlantis.
"Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi ( adi-luhung ). Selain itu Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan ( kerajaan ) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG ( Rasi-Ratu-Rama-Hyang ) dengan perlambangan “anjing” ( tanda kesetiaan ).
Ajaran/ kepercayaan Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang / Sang Hyang Tamblegmeneng ( bapak dari Da Hyang Su-Umbi = Dayang Sumbi ) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem ( Aki Tirem ) atau Aji Saka Purwawisesa. Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran 'budhi-pekerti' dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domasdan La-Hyang Salaka Nagara. ( sumber wiki )
Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau kepercayaan Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.
Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung ( Guru Besar/ Batara Guru ), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga, dari cerita itu ada sambung menyambung dengan Salaka Domas, Salaka Nagara Kalimasada ( 2 kalimat shadat ), dst... heheh masi di cari juga belon ada di wiki euy.. yu sama sama cari sejarahnya.
Inti dari ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan kepercayaan Sunda ( bangsa Galuh ) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa ( Buta ) mahluk biadab.
Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah ( Kemanunggalan ) yaitu;
1. Tata-Salira / Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
2. Tata-Naga-Ra / Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
3. Tata-Buana / Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal ( kesemestaan ) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.
Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran kepercayaan Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa ( cahaya ) yaitu pancaran ( gelombang ) proton yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama ( Pancawarna ) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda :
1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
3. Cahaya Kunin g di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.
Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan. Mungkin
nyambung ga ya dari sini juga adanya perintah Shalat 5 Waktu... mengapa harus 5 ?? ( jangan 100% percaya teliti ajah sendiri ... ini hanya pendapat saya doang ).
“Ajaran Sunda” dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra.
- Jamparing = Jampe Kuring
- Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)
- Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar / Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).
- Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum.
Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” ( ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih ). Maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”. Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan ( dilambangkan ) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana ( Ajaran Rama ) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM.
Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” ( Lima Cahaya ) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut.
Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita mitos Ramayana dan Mahabharata. Simple logik nya India dikenal sebagai bangsa Chandra ( Chandra Gupta ) yang berarti Bulan
sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa
Matahari ( Ra -Hyang ), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti ( jejak ) peninggalan di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.
Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” ( sebagai bangsa Matahari ) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” ( lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda ).
Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya ( sopan-santun dan berbudhi ).
Sebagaian Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari ( tidak mengetahui ) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” ( kepercayaan Sunda ) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari. Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya,
“nyumput buni di nu caang” ( tersembunyi ditempat yang terang ) artinya adalah mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan kepercayaan Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.
Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih”. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma ( Tiga Kebaikan ) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma ( kebaikan ).
1. Dharma Bakti , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
2. Dharma Suci , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” ( menjadi idola ).
3. Dharma Agung , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” ( Batara Guru ).
Dalam agama Islam bisa jadi arti ini adalah tingkatan dari Syariat, Tarikat, Hakikat yang jika semua sudah tercapai menjadi Ma'rifat.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” ( Buddha ) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama ( ‘Sang Budha’ ), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya yaitu :
Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” ( kelembutan ) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” ( menyadari rasa dan memahami perasaan ) / Empaty. Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain ( pihak lain ), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata ( bukti ) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari ( *bukan teori ) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati ( bahagia ) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” ( menjelma dan menghadirkan ). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima ( tidak ada pamrih ). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut ( dijadikan ) pemimpin.
Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari ( Sang Hyang Tunggal ) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit.
( Disini adalah benang merah yang kurang cocok dengan Ajaran Islam dimana kepercayaan Sunda berkesan menyembah Matahari ). Mungkin karena itu Allah menurunkan Rasul Rasul Nya setelah adanya Kepercayaan Sunda.
Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY ( hari Matahari ), berasal dari kata “Sundayana” dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.
Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung ( Nusantara ) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” ( cinta-kasih ).
Oleh bangsa Barat ( Eropa dan Amerika ) istilah Sundayana ‘diubah’ menjadi Sunday ( hari matahari ) sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” ( Suro ) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan baik berupa makanan, udara, air, api ( kehangatan ), tanah.
Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.
- SU = Sejati
- RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari
- YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama
Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Kepercayaan Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.
5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno menerangkan ( menggambarkan ) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.
“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana ( Kepercayaan Matahari ) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.
Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” ( eye ) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu ( *apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama ? )
Selain di Asia ( Mesir ) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari ( sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah” ) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara ( pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari ).
Masyarakat suku Inca di Peru ( Amerika Latin ) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ ( tinggi, luhur, puncak, maha ) merupakan landas berpikir yang utama kepercayaan Sunda.
Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing ( gunungan ) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” ( langit ), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung ( maha agung ).
Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan ( kuil/pura ) kepada Matahari ( Sang Hyang Tunggal ).
Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika ( penduduk asli ) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi ( baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar ), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan ( berbudaya ).
Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.
Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab kepercayaan Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa, “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan ( imperialisme ), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.
Dalam pandangan penganut kepercayaan Sunda ( bangsa Galuh ) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa ( negara )” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya, melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam ( keabadian ).
Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :
“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”
(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)
“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”
(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)
Kuil ( tempat peribadatan ) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa ( negara ) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu, empat unsur inti alam ( Api, Udara, Air, Tanah ) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.
Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari ( Sundapura ). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda” ( Utusan Sang Hyang Tunggal ).
Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung ( Galunggung ) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara ( Na-Ra / Api-Matahari ) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar ( Astra / Aster / Astro / Astral / Austra ).
( Huehueuhe disambung sambung Australia -> Austra Mulia ) ????
Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari ( Tenno ) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” ( Anak/ Utusan/ Titisan Matahari ) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.
Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.
Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa ( negara ) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal ( logis dan realistis ), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :
Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa ( masyarakat ) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih ( cinta-kasih ).
Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi ( alam / lingkungan ) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi ( berkelanjutan ).
Demikian ajaran Sunda ( Sundayana / Surayana / Agama Matahari ) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan ( diterjemahkan ) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.
Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras ( harmonis ) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci ( tempat pemujaan ) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.
Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk ( rupa ) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” ( Matahari ) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti :
Konsep wilayah disebut “ Naga-Ra / Nega-Ra ”
Lambang negara disebut “ Bende-Ra ”
Maharaja Nusantara bergelar “ Ra-Hyang ”
Keluarga Kerajaan bergelar “ Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian ( Raden ) ”.
Konsep ketata-negaraan disebut “ Ra-si, Ra-tu, Ra-ma ”
Penduduknya disebut “ Ra-Hayat ” (rakyat).
Nama wilayah disebut “ Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?) ”
dan masih banyak lagi, silahkan riset sendiri ya :)
Kemaharajaan ( Keratuan / Keraton ) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita ( Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera ) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kediri - Jawa Timur sekitar abad XIII ( 13 ) masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” ( Purwa-Daksina ) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.
Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda ( Matahari ) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah ber-ubah menjadi legenda dan mitos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal ( awal ) keberadaan ajaran Matahari atau kepercayaan “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.
Di Jawa Kulon ( Barat ) sebagai wilayah suci tertua ( Mandala Hyang ) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari ( Pa-Ra-Hyang ) dikenal dengan kata Parahyangan hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda ( Matahari ), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” ( Ci ) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti Ci Beureum ( Cahaya Merah ), Ci Hideung ( Cahaya Hitam ), Ci Bodas ( Cahaya Putih ), Ci Mandiri ( Cahaya Mandiri ), dan lain sebagainya.
Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta”
(*belum diketahui perbedaan diantara keduanya). Mari kita riset bersama... sejarah itu emang perlu diketahui biar ga ilang kepada keturunan keturunan kita kelak.
Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” ( cai / nyai ) sesungguhnya berarti “cahaya / kemilau” yang terpantul di permukaan banyu ( tirta ) akibat pancaran “sinar” ( kemilau ). Masalah “penamaan / sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri kepercayaan Sunda ( Matahari ). Nah ini dia salah satu case yang dinamakan Distorsi SEJARAH.
Percaya Atau tidak.. ini artikel hanyalah penapsiran sepihak, selebihnya tergantung si pembaca, ingin tidak nya mempelajari arti pengetahuan dari sejarah.
Artikel ini semata mata tidak untuk mengajak kita mempercayai dan menyembah matahari. Simple logic, kepercayaan ini sudah di revisi melalui Utusan Allah Swt dengan baragam pesan pesan wahyu yang turun ke Dunia melalui Rasul Rasul Nya.
Maka dari itu apakah kita masih berpaling dari sebuah kebenaran dengan adanya distorsi sejarah kepercayaan / Religi umat manusia di dunia ???
Saya yakin dan mutlak, Agama yang terakhir diturunkan oleh Sang Khaliq adalah agama Islam, yang dalam Kitab nya ( Al-Quran ) Allah berjanji untuk melindungi / memelihara Ayat ayat Al-Quran tanpa adanya distorsi sejarah. ( QS:15:9 )
Dari sini mengapa harus 9 -> ini adalah sebuah angka bilangan terakhir bukan ? .. coba artikulasi 15 = 6, dibalik 9 juga,..
Alam semesta diciptakan dalam 6 masa, biar pembaca buka qur'an coba liat deh yah, sengaja saya tidak tulis surat nya di sini, daripada baca blog ini yang belum tentu 100% benar, okey lumayan ada usaha ibadah yah :
- QS : 25:59 ( Al Furqaan )
- QS : 7:54 ( Al A'raff ) tempat yang tinggi bisakah artikulasi 7 langit ??
- QS : 32:4 ( As Sajdah )
- QS : 50:38 ( Qaaf )
lalu saya bilang YES masuk akal kan ?!
- Al Hijr Ayat 9 -
innaa nahnu nazzalnaa aldzdzikra wa-innaa lahu lahaafizhuuna
Artinya :
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
--
Surah Al-Hijr (bahasa Arab: ﺍﻟﺤﺠﺮ, al-Hijr, "Al-Hijr") adalah surah ke-15 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam ( Syria ). Nama surah ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Shaleh dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu'aib . Surah ini juga mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.
Nah sepertinya pembaca yang pemikirannya belum sampai akan mengkritik bahkan menghujat pemikiran saya ini, dari SUNDA malah NYAMBUNG ke AGAMA katanya, mungkin ini akan menjadi sensitif konten, Bagi pembaca yang masih mempunyai hati yang sehat dan open minded , pasti bisa menghormati hasil pemikiran orang lain, dengan kritikan yang membangun dan sama sama memberi masukan yang sehat.
Untuk banyak pembaca yang menanyakan sumber sumber nya nanti saya coba cantumkan yah, saya belum sempat input link sumber sumbernya, jika Anda penasaran coba Google aja yah terutama dari wikipedia,
WassaLLam,

SUNDA itu adalah SU-NA-DA

SUNDA itu adalah SU-NA-DA

Kalimat “Sunda” dari kitab “Sastrajendra Hayuningrat” dibentuk oleh tiga suku kata yaitu SU-NA-DA yang artinya adalah “matahari", yang mengandung arti “Sejati-Api-Besar” atau “Api Besar yang Sejati atau bisa juga berarti Api Agung yang Abadi”.
SU-NA-DA
- SU = Sejati/ Abadi
- NA = Api
- DA = Besar/ Gede/ Luas/ Agung
Maksud dan maknanya adalah matahari atau “Sang Surya” ( Panon Poe/ Mata Poe/ Sang Hyang Manon ). Sedangkan kata “Sastrajendra Hayuningrat” (Su-Astra-Ajian-Ra-Hayu-ning-Ratu) memiliki arti sebagai berikut;
- Su = Sejati/ Abadi
- Astra = Sinar/ Penerang
- Ajian = Ajaran
- Ra = Matahari ( Sunda ), ( Greek ) Mesir
- Hayu = Selamat/ Baik/ Indah
- ning = dari
- Ratu = Penguasa (Maharaja)
Dengan demikian “Sastrajendra Hayuningrat” jika diartikan secara bebas adalah “Sinar Sejati Ajaran Matahari - Kebaikan dari Sang Ratu” atau “Penerang yang Abadi Ajaran Matahari - Kebaikan dari Sang Maharaja” atau boleh jadi maksudnya adalah “Sinar Ajaran Matahari Abadi atas Kebaikan dari Sang Penguasa/ Ratu/ Maharaja Nusantara”.
“Sunda” menurut saya sama sekali mungkin bukan nama etnis/ ras/ suku yang tinggal di pulau Jawa bagian barat dan bukan juga nama daerah, karena sesungguhnya “Sunda” adalah nama ajaran atau kepercayaan / kebudayaan tertua ( Ancient ), yang keberadaannya jauh sebelum ada jenis kepercayaan apapun yang dikenal sekarang, terpikir dari cerita cerita mitos atau legenda pewayangan yang dipelosok dunia ini saya yakin hampir mirip. Cerita Zeus , Barata Yuda, sampai dengan mitos The Lost Atlantis.
"Sunda” merupakan cikal-bakal ajaran tentang “cara hidup sebagai manusia beradab hingga mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi ( adi-luhung ). Selain itu Sunda juga yang mengawali lahirnya sistem pemerintahan dengan pola karatuan ( kerajaan ) yang pertama di dunia, terkenal dengan konsep SITUMANG ( Rasi-Ratu-Rama-Hyang ) dengan perlambangan “anjing” ( tanda kesetiaan ).
Ajaran/ kepercayaan Sunda (Matahari) pada mulanya disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Rasi Prabhu Shindu La-Hyang / Sang Hyang Tamblegmeneng ( bapak dari Da Hyang Su-Umbi = Dayang Sumbi ) putra dari Sang Hyang Watu Gunung Ratu Agung Manikmaya yang lebih dikenal sebagai Aji Tirem ( Aki Tirem ) atau Aji Saka Purwawisesa. Inti ajaran Prabhu Sindhu atau Sintho (di Jepang) dan di India menjadi HINDU (Hindus) adalah ajaran 'budhi-pekerti' dan ketata-negaraan yang disebut sebagai La-Hyang Salaka Domasdan La-Hyang Salaka Nagara. ( sumber wiki )
Ajaran Sunda lebih dikenal dengan sebutan Sundayana (yana = way of life, aliran, ajaran, agama) artinya adalah “ajaran Sunda atau kepercayaan Matahari” yang dianut oleh bangsa Galuh, khususnya di Jawa Barat.
Sundayana disampaikan secara turun-temurun dan menyebar ke seluruh dunia melalui para Guru Agung ( Guru Besar/ Batara Guru ), masyarakat Jawa-Barat lebih mengenalnya dengan sebutan Sang Guru Hyang atau dengan sebutan “Guriang” yang artinya “Guru Hyang” juga, dari cerita itu ada sambung menyambung dengan Salaka Domas, Salaka Nagara Kalimasada ( 2 kalimat shadat ), dst... heheh masi di cari juga belon ada di wiki euy.. yu sama sama cari sejarahnya.
Inti dari ajaran Sunda adalah “welas-asih” atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut “rahman-rahim”, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia. Artinya, dalam pandangan kepercayaan Sunda ( bangsa Galuh ) jika seseorang tidak memiliki rasa welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, lebih tepatnya sering disebut sebagai Duruwiksa ( Buta ) mahluk biadab.
Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah ( Kemanunggalan ) yaitu;
1. Tata-Salira / Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu, meleburkan diri dalam “ketunggalan” agar menjadi “diri sendiri” (si Swa) yang beradab, merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan siapapun selain kepada diri sendiri.
2. Tata-Naga-Ra / Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara) dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
3. Tata-Buana / Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakan universal ( kesemestaan ) untuk memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian hidup di Buana.
Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran kepercayaan Matahari sebagai sumber cahaya maka tata perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan “Ci” yang artinya “Cahaya”, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa ( cahaya ) yaitu pancaran ( gelombang ) proton yang lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya utama ( Pancawarna ) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa Galuh penganut ajaran Sunda :
1. Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
2. Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
3. Cahaya Kunin g di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
4. Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
5. Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.
Lima kualitas “Cahaya” tersebut sesungguhnya merupakan nilai “waktu” dalam hitungan “wuku”. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik, namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi “dewa perusak”, padahal arti kata “pelebur” itu adalah “pemersatu” atau yang meleburkan atau memanunggalkan. Jadi, sama sekali tidak terdapat ‘dewa’ yang bersifat merusak dan menghancurkan. Mungkin
nyambung ga ya dari sini juga adanya perintah Shalat 5 Waktu... mengapa harus 5 ?? ( jangan 100% percaya teliti ajah sendiri ... ini hanya pendapat saya doang ).
“Ajaran Sunda” dalam cerita pewayangan dilambangkan dengan Jamparing Panah Chakra, yaitu ‘raja segala senjata’ milik Sang Hyang Wisnu yang dapat mengalahkan sifat jahat dan angkara-murka, tidak ada yang dapat lolos dari bidikan Jamparing Panah Chakra.
- Jamparing = Jampe Kuring
- Panah = Manah = Hati (Rasa Welas-Asih)
- Chakra atau Cakra = Titik Pusaran yang bersinar / Roda Penggerak Kehidupan (‘matahari’).
- Secara simbolik gendewa (gondewa) merupakan bentuk bibir yang sedang tersenyum.
Panah Chakra di Jawa Barat biasa disebut sebagai “Jamparing Asih” maksudnya adalah “Ajian Manah nu Welas Asih” ( ajian hati yang lembut penuh dengan cinta-kasih ). Maksud utama dari Jamparing Panah Chakra atau Jamparing Asih itu ialah “ucapan yang keluar dari hati yang welas asih dapat menggerakan roda kehidupan yang bersinar”. Keberadaan Panca Dewa kelak disilib-silokakan ( dilambangkan ) ke dalam kisah “pewayangan” dengan tokoh-tokoh baru melalui kisah Ramayana ( Ajaran Rama ) serta kisah Mahabharata pada tahun +/-1500 SM.
Yudis-ti-Ra, Bi-Ma, Ra-ju-Na, Na-ku-La, dan Sa-Dewa. Kelima cahaya itu kelak dikenal dengan sebutan “Pandawa” singkatan dari “Panca Dewa” ( Lima Cahaya ) yang merupakan perlambangan atas sifat-sifat kesatria negara. Istilah “wayang” itu sendiri memiliki arti “bayang-bayang”, maksudnya adalah perumpamaan dari kelima cahaya tersebut.
Selama ini cerita wayang selalu dianggap ciptaan bangsa India, hal tersebut mungkin “benar” tetapi boleh jadi “salah”. Artinya kemungkinan terbesar adalah bangsa India telah berjasa melakukan pencatatan tentang kejadian besar yang pernah ada di Bumi Nusantara melalui kisah pewayangan dalam cerita mitos Ramayana dan Mahabharata. Simple logik nya India dikenal sebagai bangsa Chandra ( Chandra Gupta ) yang berarti Bulan
sedangkan Nusantara dikenal sebagai bangsa
Matahari ( Ra -Hyang ), dalam hal ini tentu Matahari lebih unggul dan lebih utama ketimbang Bulan. India diterangi atau dipengaruhi oleh ajaran dan kebudayaan Nusantara. Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa bukti ( jejak ) peninggalan di Bumi Nusantara telah banyak dilupakan, diselewengkan hingga dimusnahkan oleh bangsa Indonesia sendiri sehingga pada saat ini kita sulit untuk membuktikannya melalui “kebenaran ilmiah”.
Berkaitan dengan persoalan “Pancawarna”, bagi orang-orang yang lupa kepada “jati diri” ( sebagai bangsa Matahari ) di masyarakat Jawa-Barat dikenal peribahasa “teu inget ka Purwa Daksina…!” artinya adalah “lupa kepada Merah-Putih” ( lupa akan kebangsaan/ tidak tahu diri/ tidak ingat kepada jati diri sebagai bangsa Galuh penganut ajaran Sunda ).
Banyak orang Jawa Barat mengaku dirinya sebagai orang “Sunda”, mereka mengagungkan “Sunda” sebagai genetika biologis dan budayanya yang membanggakan, bahkan secara nyata perilaku diri mereka yang lembut telah menunjukan kesundaannya ( sopan-santun dan berbudhi ).
Sebagaian Masyarakat Jawa Barat tidak menyadari ( tidak mengetahui ) bahwa perilaku lembut penuh tata-krama sopan-santun dan berbudhi itu terjadi akibat adanya “ajaran” ( kepercayaan Sunda ) yang mengalir di dalam darah mereka dan bergerak tanpa disadari. Untuk mengatakan kejadian tersebut para leluhur menyebutnya,
“nyumput buni di nu caang” ( tersembunyi ditempat yang terang ) artinya adalah mentalitas, pikiran, perilaku, seni, kebudayaan, filosofi yang mereka lakukan sesungguhnya adalah hasil didikan kepercayaan Sunda tetapi si pelaku sendiri tidak mengetahuinya.
Inti pola dasar ajaran Sunda adalah “berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welas-asih”. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma ( Tiga Kebaikan ) yaitu sebagai pemandu ‘ukuran’ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma ( kebaikan ).
1. Dharma Bakti , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar “Manusia Utama”.
2. Dharma Suci , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara, manusianya bergelar “Manusia Unggul Paripurna” ( menjadi idola ).
3. Dharma Agung , ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar “Manusia Adi Luhung” ( Batara Guru ).
Dalam agama Islam bisa jadi arti ini adalah tingkatan dari Syariat, Tarikat, Hakikat yang jika semua sudah tercapai menjadi Ma'rifat.
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran “Budhi-Dharma” ( Buddha ) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasa welas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama ( ‘Sang Budha’ ), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan umurnya yaitu :
Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami “rasa” ( kelembutan ) di dalam segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan “ngarasa jeung rumasa” ( menyadari rasa dan memahami perasaan ) / Empaty. Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan yang dirasakan oleh orang lain ( pihak lain ), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat “welas-asih” dan manusianya kelak disebut “Dewa-Sa”.
Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata ( bukti ) atau mempraktekan sifat rasa di dalam hidup sehari-hari ( *bukan teori ) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat diterima dengan senang hati ( bahagia ) oleh semua pihak dalam keadaan “ngaraga jeung ngawaruga” ( menjelma dan menghadirkan ). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut “Dewa-Ta”.
Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan “Jati Diri” sebagai manusia “welas-asih” yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan “memberi tanpa diberi” atau memberi tanpa menerima ( tidak ada pamrih ). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak disebut ( dijadikan ) pemimpin.
Ajaran Sunda berlandas kepada sifat bijak-bajik Matahari yang menerangi dan membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda-bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa Matahari segalanya hanyalah kegelapan. Oleh sebab itulah para penganut ajaran Sunda berkiblat kepada Matahari ( Sang Hyang Tunggal ) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit.
( Disini adalah benang merah yang kurang cocok dengan Ajaran Islam dimana kepercayaan Sunda berkesan menyembah Matahari ). Mungkin karena itu Allah menurunkan Rasul Rasul Nya setelah adanya Kepercayaan Sunda.
Sundayana menyebar ke seluruh dunia, terutama di wilayah Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, sedangkan di Australia tidak terlalu menampak. Oleh masyarakat Barat melalui masing-masing kecerdasan kode berbahasa mereka ajaran Matahari ini diabadikan dalam sebutan SUNDAY ( hari Matahari ), berasal dari kata “Sundayana” dan bangsa Indonesia lebih mengenal Sunday itu sebagai hari Minggu.
Di wilayah Amerika kebudayaan suku Indian, Maya dan Aztec pun tidak terlepas dari pemujaan kepada Matahari, demikian pula di wilayah Afrika dan Asia, singkatnya hampir seluruh bangsa di dunia mengikuti ajaran leluhur bangsa Galuh Agung ( Nusantara ) yang berlandaskan kepada tata-perilaku berbudhi dengan rasa “welas-asih” ( cinta-kasih ).
Oleh bangsa Barat ( Eropa dan Amerika ) istilah Sundayana ‘diubah’ menjadi Sunday ( hari matahari ) sedangkan di Nusantara dikenal dengan sebutan “Surya” yang berasal dari tiga suku kata yaitu Su-Ra-Yana, bangsa Nusantara memperingatinya dalam upacara “Sura” ( Suro ) yang intinya bertujuan untuk mengungkapkan rasa menerima-kasih serta ungkapan rasa syukur atas “kesuburan” negara yang telah memberikan kehidupan dalam segala bentuk yang menghidupkan baik berupa makanan, udara, air, api ( kehangatan ), tanah.
Pengertian Surayana pada hakikatnya sama saja dengan Sundayana sebab mengandung maksud dan makna yang sama.
- SU = Sejati
- RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari
- YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama
Maka arti “Surayana” adalah sama dengan “Kepercayaan Matahari yang Sejati” dan dikemudian hari bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan “Sang Surya” untuk mengganti istilah “Matahari”.
5000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban bangsa Mesir kuno menerangkan ( menggambarkan ) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa Galuh, mereka menyebutnya sebagai “RA” yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.
“RA” digambarkan dalam bentuk “mata” dan diposisikan sebagai “Penguasa Tertinggi” dari seluruh ‘dewa-dewa’ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana ( Kepercayaan Matahari ) yang dibawa dan diajarkan oleh leluhur bangsa Galuh.
Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah “mata” ( eye ) yang mirip dengan gambaran “AMON-RA” bangsa Mesir kuno, sebutan “amon” mengingatkan kita kepada istilah “panon” yang berarti “mata” yang terdapat pada kata “Sang Hyang Manon” yaitu penamaan lain bagi Matahari di masyarakat Jawa Barat jaman dahulu ( *apakah kata Amon dan Manon memiliki makna yang sama ? )
Selain di Asia ( Mesir ) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja Matahari ( sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai bangsa “kulit merah” ) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara ( pola penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari ).
Masyarakat suku Inca di Peru ( Amerika Latin ) membangun tempat pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep “meninggikan dengan pondasi yang kokoh” dalam kaitannya dengan “keagungan“ ( tinggi, luhur, puncak, maha ) merupakan landas berpikir yang utama kepercayaan Sunda.
Secara filosofis, pola bentuk ‘bangunan’ menuju puncak meruncing ( gunungan ) itu merupakan perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang perjalanan manusia dari “ada” menuju “tiada” ( langit ), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak menuju puncak kualitas manusia adiluhung ( maha agung ).
Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus membangun tempat pemujaan ( kuil/pura ) kepada Matahari ( Sang Hyang Tunggal ).
Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika ( penduduk asli ) memuja kepada Matahari, dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi ( baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta gambar ), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan keagungan dalam berkehidupan ( berbudaya ).
Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold (emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk “memberadabkan” sebuah bangsa.
Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab kepercayaan Matahari dan kelak dipercaya oleh masyarakat dunia adalah bahwa, “suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia”, hal ini mirip dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut maksud sesungguhnya kedatangan para ‘penyebar agama’ itu adalah perampokan kekayaan alam dan perluasan wilayah jajahan ( imperialisme ), sebab mustahil bangsa yang sudah “beragama” harus ‘diagamakan’ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan lokalnya.
Dalam pandangan penganut kepercayaan Sunda ( bangsa Galuh ) yang dimaksud dengan “peradaban sebuah bangsa ( negara )” tidak diukur berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain sebagainya, melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam ( keabadian ).
Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis lainnya. Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan sebuah negara sebagai berikut :
“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang, taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”
(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai sentausa semua rakyatnya)
“Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak”
(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)
Kuil ( tempat peribadatan ) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk “gunungan” dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa ( negara ) seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai “Opat Ka Lima Pancer” yaitu, empat unsur inti alam ( Api, Udara, Air, Tanah ) yang memancar menjadi “gunung” sebagai sumber kehidupan mahluk.
Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari ( Sundapura ). Walaupun sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja Mesir kuno dipercaya sebagai Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra Matahari, dengan demikian mereka setara dengan “Putra Sunda” ( Utusan Sang Hyang Tunggal ).
Untuk sementara istilah “Putra Sunda” bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan “Sunda” selalu dianggap sebagai suku, ras maupun wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah “Sunda” seolah tidak pernah terpahami oleh bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung ( Galunggung ) mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang disebut sebagai Kuil Nara ( Na-Ra / Api-Matahari ) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar ( Astra / Aster / Astro / Astral / Austra ).
( Huehueuhe disambung sambung Australia -> Austra Mulia ) ????
Tidak hanya itu, penguasa tertinggi “Kaisar Jepang” pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra Matahari ( Tenno ) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai “Putra Sunda” ( Anak/ Utusan/ Titisan Matahari ) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.
Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri “Matahari Terbit” hal ini disebabkan karena Jepang mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk ke Indonesia dengan misi “Cahaya Asia” mereka menyebut Indonesia sebagai “Saudara Tua” untuk kedok politiknya.
Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa ( negara ) karena mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal ( logis dan realistis ), tanpa tekanan dan paksaan yaitu :
Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas keberadaban sebuah bangsa ( masyarakat ) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih ( cinta-kasih ).
Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan beradab melalui segala sumber daya bumi ( alam / lingkungan ) di wilayah masing-masing yang dikelola secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi ( berkelanjutan ).
Demikian ajaran Sunda ( Sundayana / Surayana / Agama Matahari ) menyebar ke seluruh penjuru Bumi dibawa oleh para Guru Hyang memberikan warna dalam peradaban masyarakat dunia yang diserap dan diungkapkan ( diterjemahkan ) melalui berbagai bentuk tanda berdasarkan pola kecerdasan masing-masing bangsanya.
Ajaran Sunda menyesuaikan diri dengan letak geografis dan watak masyarakatnya secara selaras ( harmonis ) maka itu sebabnya bentuk bangunan suci ( tempat pemujaan ) tidak menunjukan kesamaan disetiap negara, tergantung kepada potensi alamnya. Namun demikian pola dasar bangunan dan filosofinya memiliki kandungan makna yang sama, merujuk kepada bentuk gunungan.
Di Indonesia sendiri simbol “RA” (Matahari/ Sunda) sebagai ‘penguasa’ tertinggi pada jaman dahulu secara nyata teraplikasikan pada berbagai sisi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Hal itu diungkapkan dalam bentuk ( rupa ) serta penamaan yang berkaitan dengan istilah “RA” ( Matahari ) sebagai sesuatu yang sifat agung maupun baik, seperti :
Konsep wilayah disebut “ Naga-Ra / Nega-Ra ”
Lambang negara disebut “ Bende-Ra ”
Maharaja Nusantara bergelar “ Ra-Hyang ”
Keluarga Kerajaan bergelar “ Ra-Keyan dan Ra-Ha-Dian ( Raden ) ”.
Konsep ketata-negaraan disebut “ Ra-si, Ra-tu, Ra-ma ”
Penduduknya disebut “ Ra-Hayat ” (rakyat).
Nama wilayah disebut “ Dirganta-Ra, Swarganta-Ra, Dwipanta-Ra, Nusanta-Ra, Indonesia (?) ”
dan masih banyak lagi, silahkan riset sendiri ya :)
Kemaharajaan ( Keratuan / Keraton ) Nusantara yang terakhir, “Majapahit” kependekan dari Maharaja-Pura-Hita ( Tempat Suci Maharaja yang Makmur-Sejahtera ) dikenal sebagai pusat pemerintahan “Naga-Ra” yang terletak di Kediri - Jawa Timur sekitar abad XIII ( 13 ) masih mempergunakan bentuk lambang Matahari, sedangkan dalam panji-panji kenegaraan lainnya mereka mempergunakan warna “merah dan putih” ( Purwa-Daksina ) yang serupa dengan pataka (‘bendera’) Indonesia saat ini.
Tidak terlepas dari keberadaan ajaran Sunda ( Matahari ) dimasa lalu yang kini masih melekat diberbagai bangsa sebagai lambang kenegaraan ataupun hal-hal lainnya yang telah ber-ubah menjadi legenda dan mitos, tampaknya bukti terkuat tentang cikal-bakal ( awal ) keberadaan ajaran Matahari atau kepercayaan “Sunda” itu masih tersisa dengan langgeng di Bumi Nusantara yang kini telah beralih nama menjadi Indonesia.
Di Jawa Kulon ( Barat ) sebagai wilayah suci tertua ( Mandala Hyang ) tempat bersemayamnya Leluhur Bangsa Matahari ( Pa-Ra-Hyang ) dikenal dengan kata Parahyangan hingga saat ini masih menyisakan penandanya sebagai pusat ajaran Sunda ( Matahari ), yaitu dengan ditetapkannya kata “Tji” ( Ci ) yang artinya CAHAYA di berbagai wilayah seperti Ci Beureum ( Cahaya Merah ), Ci Hideung ( Cahaya Hitam ), Ci Bodas ( Cahaya Putih ), Ci Mandiri ( Cahaya Mandiri ), dan lain sebagainya.
Namun sayang banyak ilmuwan Nusantara khususnya dari Jawa Barat malah menyatakan bahwa “Ci” adalah “cai” yang diartikan sebagai “air”, padahal jelas-jelas untuk benda cair itu masyarakat Jawa Barat jaman dulu secara khusus menyebutnya sebagai “Banyu” dan sebagian lagi menyebutnya sebagai “Tirta”
(*belum diketahui perbedaan diantara keduanya). Mari kita riset bersama... sejarah itu emang perlu diketahui biar ga ilang kepada keturunan keturunan kita kelak.
Sebutan “Ci” yang kelak diartikan sebagai “air” ( cai / nyai ) sesungguhnya berarti “cahaya / kemilau” yang terpantul di permukaan banyu ( tirta ) akibat pancaran “sinar” ( kemilau ). Masalah “penamaan / sebutan” seperti ini oleh banyak orang sering dianggap sepele, namun secara prinsip berdampak besar terhadap “penghapusan” jejak perjalanan sejarah para leluhur bangsa Galuh Agung pendiri kepercayaan Sunda ( Matahari ). Nah ini dia salah satu case yang dinamakan Distorsi SEJARAH.
Percaya Atau tidak.. ini artikel hanyalah penapsiran sepihak, selebihnya tergantung si pembaca, ingin tidak nya mempelajari arti pengetahuan dari sejarah.
Artikel ini semata mata tidak untuk mengajak kita mempercayai dan menyembah matahari. Simple logic, kepercayaan ini sudah di revisi melalui Utusan Allah Swt dengan baragam pesan pesan wahyu yang turun ke Dunia melalui Rasul Rasul Nya.
Maka dari itu apakah kita masih berpaling dari sebuah kebenaran dengan adanya distorsi sejarah kepercayaan / Religi umat manusia di dunia ???
Saya yakin dan mutlak, Agama yang terakhir diturunkan oleh Sang Khaliq adalah agama Islam, yang dalam Kitab nya ( Al-Quran ) Allah berjanji untuk melindungi / memelihara Ayat ayat Al-Quran tanpa adanya distorsi sejarah. ( QS:15:9 )
Dari sini mengapa harus 9 -> ini adalah sebuah angka bilangan terakhir bukan ? .. coba artikulasi 15 = 6, dibalik 9 juga,..
Alam semesta diciptakan dalam 6 masa, biar pembaca buka qur'an coba liat deh yah, sengaja saya tidak tulis surat nya di sini, daripada baca blog ini yang belum tentu 100% benar, okey lumayan ada usaha ibadah yah :
- QS : 25:59 ( Al Furqaan )
- QS : 7:54 ( Al A'raff ) tempat yang tinggi bisakah artikulasi 7 langit ??
- QS : 32:4 ( As Sajdah )
- QS : 50:38 ( Qaaf )
lalu saya bilang YES masuk akal kan ?!
- Al Hijr Ayat 9 -
innaa nahnu nazzalnaa aldzdzikra wa-innaa lahu lahaafizhuuna
Artinya :
9. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya
--
Surah Al-Hijr (bahasa Arab: ﺍﻟﺤﺠﺮ, al-Hijr, "Al-Hijr") adalah surah ke-15 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 99 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Al-Hijr adalah nama sebuah daerah pegunungan yang didiami oleh kaum Tsamud pada zaman dahulu yang terletak di pinggir jalan antara Madinah dan Syam ( Syria ). Nama surah ini diambil dari nama daerah pegunungan itu, berhubung nasib penduduknya yaitu kaum Tsamud diceritakan pada ayat 80 sampai dengan 84, mereka telah dimusnahkan Allah, karena mendustakan Nabi Shaleh dan berpaling dari ayat-ayat Allah. Dalam surah ini terdapat juga kisah-kisah kaum yang lain yang telah dibinasakan oleh Allah seperti kaum Luth dan kaum Syu'aib . Surah ini juga mengandung pesan bahwa orang-orang yang menentang ajaran rasul-rasul akan mengalami kehancuran.
Nah sepertinya pembaca yang pemikirannya belum sampai akan mengkritik bahkan menghujat pemikiran saya ini, dari SUNDA malah NYAMBUNG ke AGAMA katanya, mungkin ini akan menjadi sensitif konten, Bagi pembaca yang masih mempunyai hati yang sehat dan open minded , pasti bisa menghormati hasil pemikiran orang lain, dengan kritikan yang membangun dan sama sama memberi masukan yang sehat.
Untuk banyak pembaca yang menanyakan sumber sumber nya nanti saya coba cantumkan yah, saya belum sempat input link sumber sumbernya, jika Anda penasaran coba Google aja yah terutama dari wikipedia,
WassaLLam,